3 Hal yang Jadi Akar Penyebab Kekerasan Berbasis Gender

Nadya Quamila | Beautynesia
Selasa, 10 Mar 2026 07:00 WIB
3 Hal yang Jadi Akar Penyebab Kekerasan Berbasis Gender
Hal yang Jadi Akar Penyebab Kekerasan Berbasis Gender/Foto: Nutsorelatable, CC BY-SA 4.0 , via Wikimedia Commons

Kekerasan berbasis gender masih menjadi ancaman. Data CATAHU Komnas Perempuan 2024 mencatat 445.502 kasus Kekerasan Berbasis Gender terhadap Perempuan (KBGtP) di Indonesia sepanjang 2024, meningkat lebih dari 43.000 kasus dibanding tahun sebelumnya.

Mayoritas kasus terjadi di ranah personal dengan 309.516 kasus, disusul ranah publik atau komunitas sebanyak 12.004 kasus. Di tengah perkembangan dunia digital, kekerasan berbasis gender juga semakin marak terjadi di ruang online, memperluas risiko yang dihadapi perempuan dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Psikolog, Plt. Direktur Eksekutif Yayasan Pulih, Dr. Livia Iskandar, M.Sc., tingginya angka tersebut bukanlah fenomena yang berdiri sendiri, Beauties. Ada tiga hal yang menjadi akar kekerasan berbasis gender, yaitu ketidakadilan berbasis gender, penyalahgunaan relasi kuasa, dan budaya patriarki.

Plt. Direktur Eksekutif Yayasan Pulih, Dr. Livia Iskandar, M.Sc.Plt. Direktur Eksekutif Yayasan Pulih, Dr. Livia Iskandar, M.Sc./ Foto: Dok. L'Oreal Indonesia

"Jika diibaratkan pohon, kekerasan yang terlihat hanyalah daun. Akar persoalannya ada pada kurangnya edukasi, ketimpangan relasi, dan sistem yang belum sepenuhnya berpihak pada korban. Karena itu, pencegahan harus menyasar akar melalui edukasi, dukungan yang berpihak, dan akses bantuan yang mudah dijangkau," tutur Dr. Livia Iskandar, M.Sc dalam acara L'Oreal Media Gathering "Beauty That Moves: International Women's Day" di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (5/3).

Bentuk kekerasan yang dilaporkan pun beragam. Kekerasan seksual menjadi yang paling banyak dilaporkan sebesar 36,43 persen, diikuti kekerasan psikis 26,94 persen, fisik 26,78 persen, dan ekonomi 9,84 persen. Angka-angka ini menegaskan bahwa kekerasan bukan isu yang jauh dari kehidupan sehari-hari, dan dapat terjadi di ranah publik maupun personal.

Kekerasan Psikis Masih Sering Luput Disadari

Psikolog Agata Paskarista, M.Psi.

Psikolog Agata Paskarista, M.Psi/Foto: Dok. L'Oreal Indonesia

Bentuk kekerasan yang paling sering terjadi justru kerap tidak disadari. Menurut psikolog Agata Paskarista, M.Psi., kekerasan psikis sering luput disadari karena tidak meninggalkan luka fisik. Ia bisa dibungkus sebagai perhatian, kontrol, atau candaan, padahal dampaknya sangat serius.

"Kasus child grooming dan juga manipulasi menunjukkan bagaimana kekerasan psikis berdampak jangka panjang bagi kehidupan korban. Edukasi tentang tanda kekerasan menjadi kunci agar kekerasan dapat dikenali lebih dini,” ungkap Agata.

Agata juga menegaskan pentingnya membangun keberanian untuk bertindak dengan cara yang aman dan tepat.

“Intervensi tidak selalu berarti konfrontasi. Bisa dimulai dari langkah sederhana, memastikan korban merasa aman, mengalihkan situasi, atau mencari bantuan. Hal yang terpenting, jangan menyalahkan korban. Kekerasan bukan kesalahan korban, dan victim-blaming hanya memperparah trauma serta membuat korban semakin enggan melapor,” tambahnya.

Komitmen L’Oréal Indonesia untuk Dorong Kesetaraan yang Lebih Nyata

Komitmen L’Oréal Indonesia untuk Dorong Kesetaraan yang Lebih Nyata

Komitmen L’Oréal Indonesia untuk Dorong Kesetaraan yang Lebih Nyata/Foto: Dok. L'Oreal Indonesia

Mencegah kekerasan di ruang publik, L’Oréal Paris menghadirkan program Stand Up Melawan Kekerasan Seksual di Ruang Publik yang bertujuan meningkatkan kesadaran sekaligus membekali masyarakat dengan langkah intervensi yang aman.

“L’Oreal Paris percaya bahwa every woman is worth it. Semua perempuan harus menyadari bahwa dirinya berharga, terbebas dari berbagai bentuk pelecehan yang sayangnya masih menjadi isu utama perempuan di dunia maupun Indonesia," tutur Brand General Manager L’Oréal Paris, Rosyanti Chijanadi.

"Kami percaya bahwa ruang publik yang aman adalah fondasi agar perempuan dapat beraktivitas, berkarya, dan berkembang secara optimal. Karena itu, kami memperkenalkan metodologi 5D, lima langkah sederhana yang dapat dilakukan siapa pun dengan aman; mulai dari Dialihkan, Ditegur, Dilaporkan, Ditenangkan, dan Dokumentasikan,” tambahnya.

Di ranah personal, YSL Beauty bekerjasama dengan Yayasan Pulih menghadirkan program global Abuse Is Not Love untuk meningkatkan kesadaran mengenai kekerasan dalam hubungan berpasangan.

“YSL Beauty adalah brand yang merayakan liberation atau kebebasan. Namun, terkadang kebebasan tersebut terhambat dengan adanya hubungan personal yang mengekang dan merenggut kebebasan tadi–seringkali, tanpa sadar. Melalui Abuse Is Not Love, kami mengedukasi masyarakat mengenai 9 tanda kekerasan dalam hubungan agar orang dapat mengenalinya sejak dini, yaitu: mengabaikan, meremehkan, mengontrol, memanipulasi, mengancam, mencemburui, mengintrusi, mengisolasi, dan mengintimidasi,” ungkap Business Unit General Manager YSL Beauty & Armani Beauty, Venesia Rizani.

Perayaan Hari Perempuan Internasional menjadi momen refleksi dan komitmen L’Oréal Indonesia untuk terus mendorong kesetaraan yang lebih nyata. 

“Bagi kami, merayakan perempuan bukan sesuatu yang musiman, tetapi bagian dari identitas perusahaan. Perempuan bukan hanya mayoritas konsumen kami, tetapi juga karyawan, inovator, dan talenta masa depan yang membentuk arah perusahaan setiap hari. Kami berupaya menghadirkan tiga hal yang kami yakini penting bagi kemajuan perempuan: rasa aman sebagai fondasi, peluang yang nyata untuk berkembang, serta pengakuan atas kontribusi dan potensi mereka. Kami percaya, ketika perempuan maju, dampaknya akan dirasakan jauh lebih luas,” tutup  Chief of Corporate Affairs, Engagement & Sustainability L’Oréal Indonesia Melanie Masriel.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE