3 Kebiasaan Orang Tua yang Bikin Anak Tidak Mudah Menyerah Menurut Psikiater Lulusan Harvard & Stanford

Nadya Quamila | Beautynesia
Kamis, 08 Oct 2026 19:30 WIB
Biarkan Anak Alami Kegagalan
3 Kebiasaan Orang Tua yang Bikin Anak Tidak Mudah Menyerah Menurut Psikiater Lulusan Harvard & Stanford/Foto: Pexels.com

Anak yang tidak mudah menyerah biasanya memiliki sikap berani mencoba hingga rasa ingin tahu yang tinggi. Sikap ini tentu tidak terbentuk hanya dalam semalam, Beauties. Sikap pantang menyerah ini terbentuk dari kebiasaan mereka sehari-hari yang dipengaruhi oleh gaya pola asuh hingga kebiasaan orang tua.

Menurut psikiater anak dan remaja lulusan Harvard dan Stanford, Suzan J. Song, sikap tangguh dan pantang menyerah bukan hanya soal memaksakan diri untuk terus maju. Menurutnya, anak yang tangguh dan tidak mudah menyerah adalah mereka yang juga dapat menjalin hubungan baik dengan orang lain, aktif dalam kehidupan, bahkan ketika keadaan sedang tidak baik-baik saja.

"Meskipun karakteristik pribadi turut berperan, ketangguhan juga dapat tumbuh melalui hubungan dan pengalaman. Ini adalah kabar baik bagi para orang tua, karena ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk membantu membangunnya," tuturnya.

Nah, berikut ini beberapa kebiasaan orang tua yang bisa membuat anak tidak mudah menyerah, dirangkum dari CNBC Make It. Yuk, simak!

Biarkan Anak Alami Kegagalan

Sikap pantang menyerah ini terbentuk dari kebiasaan mereka sehari-hari yang dipengaruhi oleh gaya pola asuh hingga kebiasaan orang tua. Kebiasaan tersebut adalah membiarkan anak alami kegagalan, tidak terburu-buru membuat anak merasa lebih baik ketika sedih, hingga mengajarkan cara memiliki hubungan yang baik.

3 Kebiasaan Orang Tua yang Bikin Anak Tidak Mudah Menyerah Menurut Psikiater Lulusan Harvard & Stanford/Foto: Pexels.com

Anak dapat membangun sikap tangguh dan pantang menyerah dari pengalaman hidup. Salah satunya ketika situasi sulit dan mereka dihadapkan untuk mencari jalan keluarnya sendiri.

Orang tua bisa membantu anak menemukan aktivitas yang mereka sukai untuk ditekuni, meskipun mereka tidak langsung mahir melakukannya. Misalnya, bermain piano, merawat hewan peliharaan, membuat kue, melukis, dan masih banyak lagi. Beri mereka kesempatan untuk sedikit bersusah payah, berlatih, melakukan kesalahan, dan pada akhirnya menjadi lebih baik.

"Anak-anak perlu belajar bahwa tidak langsung mahir dalam suatu hal bukan berarti mereka akan selamanya tidak bisa melakukannya. Jadi, jika anak mendapat nilai buruk, gagal dalam permainan, atau tidak lolos seleksi tim, berikan mereka ruang untuk merasa kecewa," tutur Song.

Setelah emosi mereda, orang tua bisa membantu anak untuk meninjau kembali pengalaman tersebut dengan mengajukan beberapa pertanyaan:

  • "Apa bagian yang paling sulit?"
  • "Apakah ada hal yang ingin kamu lakukan secara berbeda di lain waktu?"

Pendekatan ini merupakan cara halus untuk mengajarkan bahwa kegagalan bukanlah sesuatu yang memalukan, melainkan sesuatu yang mereka bisa lalui dan pelajari.

Tidak Terburu-buru Membuat Anak Merasa Lebih Baik

Sikap pantang menyerah ini terbentuk dari kebiasaan mereka sehari-hari yang dipengaruhi oleh gaya pola asuh hingga kebiasaan orang tua. Kebiasaan tersebut adalah membiarkan anak alami kegagalan, tidak terburu-buru membuat anak merasa lebih baik ketika sedih, hingga mengajarkan cara memiliki hubungan yang baik.

3 Kebiasaan Orang Tua yang Bikin Anak Tidak Mudah Menyerah Menurut Psikiater Lulusan Harvard & Stanford/Foto: Pexels.com

Sebagai orang tua, wajar jika ingin membuat anak merasa selalu bahagia dan tenang. Misalnya, ketika anak sedih karena tidak diajak bermain oleh temannya, mungkin insting pertama orang tua adalah segera menenangkan anak dengan mengucapkan kalimat seperti, "Jangan dipikirkan" atau "Masih ada teman-teman yang lain yang mau bermain denganmu".

Banyak orang beranggapan menjadi tangguh artinya menghilangkan atau mengesampingkan perasaan-perasaan yang sulit. Orang tua terburu-buru ingin anak-anak menjadi tenang, berpikir positif, atau segera bangkit dan melupakannya.

Namun, anak-anak yang paling tangguh justru merasakan kekecewaan, ketakutan, rasa malu, dan kesedihan, Beauties.

"Mereka belajar bahwa mereka bisa tetap menjalani hari—seperti pergi ke sekolah, berinteraksi dengan teman, mencoba lagi, dan melakukan hal-hal yang penting bagi mereka—meskipun sedang merasakan emosi-emosi tersebut," ungkap Song.

Alih-alih terburu-buru menenangkan, orang tua bisa mengatakan, "Itu pasti bikin kamu sedih, ya? Ibu/Ayah juga ikut sedih mendengarnya." Lalu, orang tua bisa membiarkan anak untuk merasakan rasa kecewa tersebut.

Bagian dari ketangguhan adalah belajar melalui pengalaman bahwa "Aku pernah merasa seburuk ini sebelumnya, aku berhasil melaluinya, dan aku bisa kembali baik-baik saja."

Mengajarkan Anak Menjalin Hubungan yang Baik

Sikap pantang menyerah ini terbentuk dari kebiasaan mereka sehari-hari yang dipengaruhi oleh gaya pola asuh hingga kebiasaan orang tua. Kebiasaan tersebut adalah membiarkan anak alami kegagalan, tidak terburu-buru membuat anak merasa lebih baik ketika sedih, hingga mengajarkan cara memiliki hubungan yang baik.

3 Kebiasaan Orang Tua yang Bikin Anak Tidak Mudah Menyerah Menurut Psikiater Lulusan Harvard & Stanford/Foto: Pexels.com

Last but not least, sikap tangguh dan pantang menyerah anak juga dapat terlihat dari cara mereka menjalin hubungan dengan orang lain. Seiring anak tumbuh dewasa, akan ada banyak tantangan yan mereka hadapi, baik pribadi maupun profesional, dan tentu akan melibatkan orang lain.

Oleh karena itu, penting bagi anak memiliki kemampuan untuk membangun kepercayaan, mengatasi konflik, memulihkan ikatan, meminta bantuan, menetapkan batasan, serta memelihara hubungan yang erat.

Keterampilan-keterampilan tersebut terbentuk melalui praktik dan kebiasaan sehari-hari mereka. Orang tua bisa melatih kemampuan ini dengan aktif bertanya kepada anak tentang perasaan mereka. Misalnya, ketika anak pulang ke rumah dengan rasa marah terhadap temannya, orang tua bisa bertanya apa yang terjadi. 

"Bantulah anak Anda mempertimbangkan apa yang mungkin dialami oleh teman tersebut, apa yang diinginkan anak Anda dari hubungan itu, serta apakah hubungan tersebut layak untuk diperbaiki," ujar Song.

Selain itu, anak juga bisa belajar soal hubungan dari orang tuanya. Jika orang tua bertengkar dengan anak, misal, saat ingin berangkat tepat waktu ke sekolah, orang tua bisa mengatakan ini kepada anak saat mereka pulang sekolah, "Tadi pagi Ibu/Ayah tidak sabar terhadapmu, dan Ibu/Ayah minta maaf." Hal ini mengajarkan mereka lebih banyak tentang cara menjaga hubungan dibandingkan sekadar omelan panjang.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE