Memasuki usia 30-an sering kali menjadi fase krusial dalam perjalanan finansial seseorang karena pada periode ini berbagai keputusan mulai berdampak jangka panjang terhadap stabilitas hidup. Tanggung jawab pun biasanya meningkat, mulai dari perkembangan karier, kebutuhan keluarga, cicilan aset, hingga penyesuaian gaya hidup yang cenderung makin kompleks.
Dalam situasi seperti ini, setiap keputusan keuangan menuntut pertimbangan yang lebih matang agar tidak menimbulkan penyesalan finansial di usia 30. Sayangnya, tidak sedikit orang yang baru menyadari bahwa dirinya salah mengatur keuangan setelah dampaknya terasa besar dan sulit diperbaiki.
Oleh karena itu, penting untuk memahami sejak dini apa saja kesalahan keuangan usia 30-an seperti yang dilansir dari Fodmap Everyday ini agar kondisi keuangan tetap sehat dan terarah.
Membiarkan Gaya Hidup Meningkat Tanpa Kendali
|
Kesalahan keuangan usia 30-an sering bermula dari kebiasaan menaikkan standar hidup setiap kali pendapatan bertambah/Foto: Freepik |
Kenaikan pendapatan sering kali diikuti dorongan untuk menaikkan standar hidup, mulai dari tempat tinggal, kendaraan, hingga gaya bersantai. Kebiasaan ini dikenal sebagai lifestyle creep, yaitu kondisi ketika pengeluaran tumbuh seiring pendapatan sehingga peningkatan finansial tidak benar-benar terasa. Oleh karena itu, penting untuk menetapkan aturan, misalnya menyisihkan atau menginvestasikan setengah dari setiap kenaikan gaji sebelum menambah beban pengeluaran baru.
Tanpa disadari, seseorang bisa saja sudah berpenghasilan besar tetapi tetap merasa pas-pasan karena biaya hidup ikut melonjak. Pada akhirnya, kebebasan finansial lebih ditentukan oleh kemampuan menahan pengeluaran dan menumbuhkan aset, bukan sekadar meningkatkan gaya hidup. Menjaga pengeluaran tetap terkendali membuat kenaikan pendapatan benar-benar memperkuat kondisi keuangan, bukan hanya memperbesar tagihan rutin.