4 Cara Menemukan Teman Baik dan Berkualitas di Usia Dewasa

Hanny A | Beautynesia
Senin, 10 Aug 2026 17:00 WIB
3. Pastikan Hubungan Berjalan Dua Arah
Ilustrasi saling merayakan pencapaian masing-masing / Foto: pexels.com/Ashleigh Simonelli

Menginjak usia dewasa, waktu kita habis untuk urusan pekerjaan dan tanggung jawab harian. Waktu untuk bersosialisasi makin terbatas dan kesempatan mencari teman baru, apalagi teman baik, rasanya makin sulit.

Ditambah lagi, kenyataan pahit dalam memilih teman baik adalah kita harus lebih selektif. Kita butuh sosok yang sejalan secara nilai, memberi dampak positif, dan aman diajak berbagi cerita. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam yang mengingatkan bahwa berteman dengan penjual minyak wangi membuat kita ikut harum, sedangkan berteman dengan pandai besi bisa membuat kita terkena percikan api atau bau asapnya.

Memang tidak mudah menembus sirkel pertemanan di usia dewasa. Namun, sulit bukan berarti mustahil. Kalau kamu ingin membangun sirkel baru atau mencari seorang teman yang berkualitas, coba terapkan langkah-langkah berikut.

1. Hadir di Lingkungan Baru dan Ambil Inisiatif

Ilustrasi perkumpulan orang baru / Foto: pexels.com/Gustavo Fring

Saat masih sekolah dulu, kita bisa berteman secara alami karena berkumpul di wadah yang sama setiap hari. Kerangka berpikir ini bisa kamu pakai lagi dengan cara hadirlah di tempat yang memungkinkan kamu bertemu orang banyak.

Tapi, sekadar "hadir" saja tidak cukup. Kamu harus secara aktif menginisiasi hubungan pertemanan baru tersebut. 

Cari wadah yang sefrekuensi dengan menghadiri acara atau masuk ke komunitas yang diisi oleh orang-orang dengan cara pandang serupa. Kalau suka riset akademis, datanglah ke konferensi ilmiah. Kalau suka hal lain, kamu bisa bergabung dalam keanggotaan klub buku, kegiatan relawan, kelas memasak, atau kelas bahasa.

Selanjutnya, lakukan apa yang pakar pertemanan di laman Jen Hatmaker sebut dengan istilah aggressive friending atau mengambil kontrol untuk memulai hubungan pertemanan. Berkenalanlah, bertukar kontak atau media sosial, tawarkan agenda untuk bertemu, dan jangan lupa kirim pesan follow up setelahnya agar hubungannya tidak berhenti di situ saja.

2. Cari Sosok yang Kualitas Dirinya Ingin Kamu Serap

Ilustrasi menjalani aktivitas/hobi secara berkelompok / Foto: pexels.com/Kelemen Boldizsár

Percaya atau tidak, cara kita berpikir, bertindak, bertutur kata, menghadapi masalah, hingga berpakaian sedikit banyak dipengaruhi oleh orang-orang di sekitar kita.

Jika menginginkan lingkungan pertemanan yang membawa pengaruh baik, carilah orang dengan kualitas positif yang sekiranya membuatmu kagum dan terinspirasi untuk jadi lebih baik, entah karena wawasannya, etos kerjanya, caranya menjaga batas diri, mengekspresikan diri, atau sesederhana karena kemampuannya untuk tetap tenang di situasi genting.

Saat hendak membangun pertemanan dengannya, kamu bisa menyampaikan rasa kagummu secara tulus dan alami. Misalnya, "Aku suka banget cara kamu melihat masalah ini"

Tak lupa juga untuk jadilah pengaruh positif balik baginya. Pertemanan itu dua arah. Sambil menyerap hal baik darinya, usahakan kamu juga mampu memberikan hal baik yang sama, bisa dengan membawa energi positif, menjadi pendengar yang baik, siap menjadi support baginya saat dibutuhkan, atau sama-sama mengajak dalam hal kebaikan lainnya.

3. Pastikan Hubungan Berjalan Dua Arah

Ilustrasi saling merayakan pencapaian masing-masing / Foto: pexels.com/Ashleigh Simonelli

Setelah mengenalinya cukup lama, coba lakukan refleksi dan evaluasi. Apakah selama ini hanya kamu yang selalu mencari kabar atau meluangkan waktu, sementara dia cenderung pasif? Jika iya, itu tandanya hubungan tersebut tidak seimbang. Kamu mungkin menganggapnya teman baik, tapi belum tentu dia merasakan hal yang sama.

Hal yang bisa kamu lakukan jika pertemanan terasa bertepuk sebelah tangan adalah mengomunikasikannya baik-baik. Kamu bisa menyampaikan perasaanmu secara terbuka tanpa menyudutkan pihak lainnya. Jika setelah dikomunikasikan tetap tidak ada perubahan, tidak perlu dipaksakan.

Seorang terapis profesional dari laman Liz Davis Therapy menekankan bahwa untuk menemukan teman baik, kita memang harus secara sadar mendefinisikan tingkatan pertemanan. Nyatanya, tidak semua orang bisa menjadi teman baik bagi satu sama lain. Beberapa orang mungkin memang porsi hubungannya cukup sebagai kenalan atau teman biasa saja.

4. Rawat Pertemanan yang Sudah Terbentuk

Ilustrasi foto bersama kelompok pertemanan / Foto: pexels.com/Judd Mauricio

Ketika kamu dan teman barumu sudah saling cocok, tugas selanjutnya adalah menjaga keharmonisan hubungan tersebut. Membangun pertemanan yang sehat butuh perawatan secara berkala agar tidak merenggang begitu saja hanya karena sama-sama sibuk.

Menjaga komunikasi di usia dewasa sebenarnya tidak harus intens setiap hari. Cukup dengan mengirim pesan singkat sesimpel menceritakan hal kecil yang mengingatkanmu padanya, menanggapi unggahan cerita (story) di media sosialnya secara berkala, atau mengagendakan pertemuan secara rutin, meski hanya sebulan atau beberapa bulan sekali.

Tantangan terbesar dari sulitnya mendapatkan teman baru yang baik sesuai preferensi umumnya karena kesibukan dan rasa canggung. Belum lagi ditambah fakta bahwa tidak semua orang yang kamu dekati bakal cocok sampai seterusnya, dan itu sangat wajar. Yang terpenting adalah tetap buka diri, terus hadir di lingkungan yang positif, dan konsisten berinisiatif.

____

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(ria/ria)