4 Hal Sering Diucapkan Orang yang Sulit Bertanggung Jawab atas Masalahnya Sendiri

Kyla Putri Nathania | Beautynesia
Rabu, 05 Aug 2026 07:30 WIB
3. Terlalu Cemburu pada Masa Lalu Pasangan
Terus membandingkan diri dengan masa lalu pasangan dapat memicu konflik yang sebenarnya tidak perlu. Sikap ini sering berakar pada rasa tidak aman, bukan pada kesalahan pasangan./ Foto: magnific.com/garetsvisual

Dalam setiap hubungan, baik dengan pasangan, teman, maupun keluarga, kemampuan bertanggung jawab atas tindakan dan emosi sendiri merupakan salah satu fondasi yang penting. Namun, tidak semua orang memiliki kesadaran tersebut. Sebagian orang justru cenderung menyalahkan keadaan atau orang lain ketika menghadapi masalah, bahkan tanpa mereka sadari.

Rasa percaya diri dan penerimaan terhadap diri sendiri membuat seseorang tidak bergantung pada validasi orang lain. Sebaliknya, mereka yang terus mencari pembenaran dari luar sering kali kesulitan mengambil tanggung jawab atas emosi maupun konflik yang terjadi dalam hidupnya.

Lalu, seperti apa kalimat yang sering diucapkan oleh orang yang cenderung sulit bertanggung jawab atas masalahnya sendiri? Berikut beberapa contohnya.

1. Sering Melontarkan Pertanyaan yang Dipenuhi Kecurigaan

Pertanyaan yang terdengar penuh kecurigaan bisa menjadi tanda kurangnya rasa percaya diri dan kebutuhan akan validasi. Pola komunikasi ini sering kali membuat hubungan terasa melelahkan bagi kedua belah pihak./ Foto: magnific.com/katemangostar

Pertanyaan yang terdengar penuh kecurigaan bisa menjadi tanda kurangnya rasa percaya diri dan kebutuhan akan validasi. Pola komunikasi ini sering kali membuat hubungan terasa melelahkan bagi kedua belah pihak./ Foto: magnific.com/katemangostar

Orang yang sulit bertanggung jawab atas emosinya sering mengajukan pertanyaan bernada curiga, misalnya, "Aku kelihatan gemuk nggak?", "Kamu masih sayang sama aku, kan?", atau "Kenapa kamu bilang begitu?".

Sekilas pertanyaan tersebut tampak wajar. Namun jika terus diulang sebagai bentuk mencari kepastian, hal itu dapat menunjukkan bahwa seseorang lebih bergantung pada validasi orang lain daripada membangun rasa percaya diri dari dalam dirinya sendiri.

Meminta kepastian secara terus-menerus dapat membuat pasangan merasa tertekan karena tidak ada jawaban yang benar-benar mampu menghilangkan rasa tidak aman tersebut. Alih-alih menyelesaikan akar masalah, kebiasaan ini justru memperpanjang siklus kecemasan.

Selain itu, pertanyaan seperti "Kenapa kamu melakukan itu?" yang disampaikan dengan nada menyalahkan juga dapat membuat lawan bicara bersikap defensif, sehingga komunikasi menjadi kurang sehat.

2. Meminta Hal yang Sebenarnya Sudah Mereka Dapatkan

Terus meminta perhatian meski sudah menerimanya dapat menunjukkan ketidakpuasan yang berasal dari dalam diri sendiri. Menurut ahli hubungan, kritik yang terus-menerus dapat merusak kualitas hubungan./ Foto: magnific.com/nensuria

Terus meminta perhatian meski sudah menerimanya dapat menunjukkan ketidakpuasan yang berasal dari dalam diri sendiri. Menurut ahli hubungan, kritik yang terus-menerus dapat merusak kualitas hubungan./ Foto: magnific.com/nensuria

Sebagian orang kerap mengatakan, "Peluk aku, dong," atau "Kamu nggak pernah perhatian sama aku," padahal pasangannya sebenarnya sudah sering menunjukkan kasih sayang melalui pelukan, perhatian, atau waktu bersama.

Masalahnya bukan pada kurangnya perhatian, melainkan perasaan bahwa apa pun yang diberikan orang lain tidak pernah terasa cukup. Akibatnya, pasangan merasa target yang harus dipenuhi selalu berubah dan sulit dicapai.

Pakar hubungan Mat Boggs menjelaskan bahwa banyak orang ingin merasa berhasil membahagiakan pasangannya melalui tindakan nyata. Namun ketika setiap usaha selalu dianggap kurang, motivasi tersebut dapat menurun.

Hal serupa juga didukung oleh penelitian dari The Gottman Institute yang menyebutkan bahwa kritik yang terus-menerus merupakan salah satu faktor utama yang merusak hubungan. Oleh karena itu, menghargai perhatian yang telah diberikan pasangan sama pentingnya dengan mengungkapkan kebutuhan secara sehat.

Belajar menikmati waktu bersama dan memberi ruang bagi pasangan untuk memiliki waktu pribadi juga menjadi bagian penting dari hubungan yang seimbang.

3. Terlalu Cemburu pada Masa Lalu Pasangan

Terus membandingkan diri dengan masa lalu pasangan dapat memicu konflik yang sebenarnya tidak perlu. Sikap ini sering berakar pada rasa tidak aman, bukan pada kesalahan pasangan./ Foto: magnific.com/garetsvisual

Terus membandingkan diri dengan masa lalu pasangan dapat memicu konflik yang sebenarnya tidak perlu. Sikap ini sering berakar pada rasa tidak aman, bukan pada kesalahan pasangan./ Foto: magnific.com/garetsvisual

Orang yang sulit bertanggung jawab atas rasa tidak amannya sering merasa terganggu ketika melihat foto lama pasangan bersama mantan atau mengetahui bahwa pasangan masih berteman dengan lawan jenis.

Padahal, setiap orang memiliki kehidupan sebelum menjalin hubungan saat ini. Masa lalu tersebut tidak bisa diubah dan belum tentu menjadi ancaman bagi hubungan yang sedang dijalani. Jika pasangan telah menunjukkan komitmen dan konsisten melalui ucapan maupun tindakan, terus-menerus mencurigai masa lalunya hanya akan menimbulkan ketegangan yang tidak perlu.

Belajar menerima bahwa masa lalu adalah bagian dari perjalanan hidup seseorang merupakan bentuk kedewasaan emosional. Daripada menyalahkan pasangan atas pengalaman yang sudah berlalu, lebih baik fokus membangun rasa percaya dan komunikasi yang sehat di masa kini.

4. Sering Mengaitkan Diri dengan Lagu-Lagu yang Terlalu Bergantung pada Pasangan

Cara seseorang memandang hubungan juga dapat terlihat dari lagu atau pesan yang sering mereka bagikan. Memiliki identitas diri yang kuat membuat seseorang tidak bergantung sepenuhnya pada pasangan untuk merasa bahagia./ Foto: magnific.com

Cara seseorang memandang hubungan juga dapat terlihat dari lagu atau pesan yang sering mereka bagikan. Memiliki identitas diri yang kuat membuat seseorang tidak bergantung sepenuhnya pada pasangan untuk merasa bahagia./ Foto: magnific.com

Sebagian orang gemar membagikan lagu-lagu dengan lirik yang menggambarkan bahwa hidup mereka akan hancur tanpa pasangan. Mereka kemudian berkata, "Lagu ini benar-benar menggambarkan hubungan kita."

Memiliki pasangan memang penting, tetapi kebahagiaan seseorang seharusnya tidak bergantung sepenuhnya pada hubungan tersebut. Orang yang memiliki rasa percaya diri, kehidupan sosial yang sehat, pekerjaan yang bermakna, dan penerimaan diri yang baik akan tetap mampu menjalani hidup meski menghadapi kehilangan.

Penelitian juga menunjukkan bahwa memiliki harga diri (self-esteem) yang tinggi berkaitan dengan tingkat stres yang lebih rendah dan kebahagiaan yang lebih tinggi. Dengan kata lain, hubungan yang sehat lahir dari dua individu yang sama-sama utuh, bukan dari kebutuhan untuk saling melengkapi kekosongan.

Menyayangi pasangan bukan berarti kehilangan identitas diri. Justru ketika seseorang mampu bertanggung jawab atas kebahagiaannya sendiri, hubungan yang dijalani akan terasa lebih dewasa, aman, dan saling mendukung.

Apakah kamu pernah mendengar kalimat-kalimat di atas dalam percakapan sehari-hari, Beauties? 

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI! 

(dmh/dmh)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE