4 Kebiasaan Orang yang Sok Tahu saat Menerima Kritik

Florence Febriani Susanto | Beautynesia
Rabu, 04 Mar 2026 11:30 WIB
Menyerang Balik dan Menyalahkan Orang Lain
Emosional Saat Menerima Kritik/Foto: Freepik

Kebiasaan orang yang sok tahu sering kali langsung terlihat begitu situasi mulai tidak nyaman, terutama ketika ada masukan yang menyentuh ego mereka. Bukannya mendengarkan pelan-pelan, mereka malah refleks membela diri, seolah setiap kritik adalah serangan pribadi. Kamu pasti pernah ketemu tipe seperti ini, kan, Beauties?

Padahal kalau dipikir-pikir, menerima kritik itu sebenarnya hal wajar dalam hidup, entah di kantor, pertemanan, atau hubungan pribadi. Namun, sayangnya, tidak semua orang siap menghadapinya dengan kepala dingin, sehingga obrolan sederhana bisa berubah jadi debat panjang.

Nah Beauties, biar kamu lebih peka dan nggak ikut terseret emosi, yuk, kenali empat kebiasaan yang paling sering muncul.

Langsung Menyangkal Tanpa Berpikir

Menerima Kritik/Foto: Freepik

Pernah nggak, kamu baru setengah kalimat menyampaikan masukan, tapi dia sudah buru-buru bilang, “nggak kok, bukan begitu.” Reaksinya cepat banget, seperti tombol otomatis yang ditekan tanpa proses berpikir. Bahkan sebelum memahami isi kritiknya, dia sudah memutuskan bahwa dirinya pasti benar.

Sikap menyangkal ini sebenarnya bentuk perlindungan diri karena merasa terancam atau tidak nyaman. Dengan menolak dari awal, dia tidak perlu menghadapi kemungkinan bahwa dirinya salah. Namun masalahnya, kebiasaan ini membuat komunikasi buntu dan kesempatan belajar langsung hilang begitu saja.

Kalau kamu menghadapi tipe begini, biasanya percakapan terasa melelahkan karena semuanya mentok di kata “tidak.” Padahal sedikit saja membuka diri bisa membuat diskusi jauh lebih sehat.

Menyerang Balik dan Menyalahkan Orang Lain

Emosional Saat Menerima Kritik/Foto: Freepik

Setelah menyangkal, langkah berikutnya sering kali menyerang balik dengan cepat. Tiba-tiba dia membahas kesalahan kamu, rekan kerja lain, atau bahkan sistem yang dianggap tidak adil. Fokus yang tadinya membahas perilakunya langsung bergeser ke topik lain.

Taktik ini seperti strategi “pertahanan terbaik adalah menyerang,” supaya dirinya terlihat bukan satu-satunya yang salah. Kamu mungkin datang dengan niat baik, tetapi malah dibuat merasa bersalah atau defensif. Ujung-ujungnya, masalah awal tidak pernah benar-benar dibahas.

Secara psikologis, ini muncul karena rasa terpojok dan ingin mengembalikan kontrol situasi. Namun kalau dibiarkan, pola ini cuma melahirkan konflik baru tanpa solusi nyata.

Bermain Peran sebagai Korban

Play Victim/Foto: Freepik

Ini salah satu yang paling bikin serba salah. Kamu menyampaikan kritik dengan nada tenang, tapi dia langsung bilang merasa disudutkan atau diperlakukan tidak adil. Tiba-tiba percakapan berubah, bukan lagi soal perbaikan, melainkan drama emosional.

Kalimat seperti “kamu kok jahat, sih” atau “aku selalu disalahkan” sering dipakai untuk membangun simpati. Tanpa sadar, kamu malah sibuk menenangkan perasaannya, bukan membahas inti masalah. Padahal tujuan awalnya cuma ingin memperbaiki keadaan bersama.

Bersikap sebagai korban memang bisa menghindarkan dari tanggung jawab sesaat. Namun dalam jangka panjang, sikap ini justru menghambat pertumbuhan pribadi dan membuat hubungan terasa tidak dewasa.

Mencari Pembenaran dari Orang Lain

Mencari Validasi/Foto: Freepik

Bayangkan kamu baru selesai memberi masukan, lalu dia langsung bertanya ke orang lain, “iya kan aku nggak salah?” Rasanya seperti sidang dadakan yang mencari pendukung. Tujuannya bukan memahami kritik, melainkan membuktikan dirinya tetap benar.

Kebiasaan ini biasanya muncul dari kurangnya rasa percaya diri atau takut dianggap sendirian. Dukungan orang lain dijadikan tameng emosional supaya tidak merasa kalah. Namun sayangnya, cara ini tidak menyelesaikan masalah, malah membuat situasi semakin canggung.

Kalau terus begini, lingkungan kerja atau pertemanan jadi penuh drama kecil yang sebenarnya tidak perlu. Padahal dengan sedikit refleksi, semuanya bisa jauh lebih sederhana.

Setelah membaca empat kebiasaan tadi, mungkin kamu langsung teringat seseorang, atau jangan-jangan malah merasa pernah melakukannya juga. Tenang saja, kita semua pernah defensif sesekali, karena manusia memang punya ego yang ingin dilindungi. Hal yang penting adalah sadar dan mau pelan-pelan memperbaiki diri.

Beauties, kritik itu bukan musuh, melainkan cermin kecil yang membantu kita tumbuh lebih matang. Jadi daripada sibuk membela diri atau mencari pembenaran, kenapa nggak coba dengarkan dulu dengan hati yang lebih lapang. Siapa tahu, dari satu masukan sederhana, kamu justru menemukan versi diri yang jauh lebih kuat dan bijak. 

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.