4 Kebiasaan Sederhana yang Dilakukan Pasangan dengan Koneksi yang Kuat

Kyla Putri Nathania | Beautynesia
Sabtu, 19 Sep 2026 20:30 WIB
1. Mampu Menerima Masukan dengan Baik
Pasangan yang sehat tidak hanya mampu memberikan kritik, tetapi juga terbuka ketika menerima masukan dari satu sama lain. Menurut psikolog, menerima feedback harus diikuti dengan perubahan nyata agar kepercayaan dalam hubungan tetap terjaga./ Foto: magnific.com/lookstudio

Menjalin hubungan yang sehat bukan berarti pasangan tidak pernah bertengkar atau memiliki perbedaan pendapat. Justru, pasangan yang memiliki kompatibilitas mental dan emosional kuat biasanya memiliki cara yang lebih sehat dalam menghadapi konflik dan kebutuhan satu sama lain.

Tidak semua masalah dalam hubungan berakhir dengan perpisahan, Beauties. Beberapa pasangan justru mampu melewati masalah yang lebih spesifik karena memiliki kebiasaan yang membantu mereka saling memahami dan menjaga kepercayaan.

Lantas, kebiasaan apa saja yang sering dilakukan pasangan dengan koneksi mental dan emosional yang kuat? Pelajari di sini!

1. Mampu Menerima Masukan dengan Baik

Pasangan yang sehat tidak hanya mampu memberikan kritik, tetapi juga terbuka ketika menerima masukan dari satu sama lain. Menurut psikolog, menerima feedback harus diikuti dengan perubahan nyata agar kepercayaan dalam hubungan tetap terjaga./ Foto: magnific.com/lookstudio

Pasangan yang sehat tidak hanya mampu memberikan kritik, tetapi juga terbuka ketika menerima masukan dari satu sama lain. Menurut psikolog, menerima feedback harus diikuti dengan perubahan nyata agar kepercayaan dalam hubungan tetap terjaga./ Foto: magnific.com/lookstudio

Setiap pasangan pasti pernah bertengkar, berbeda pendapat, atau mengkritik satu sama lain. Hal ini sebenarnya wajar karena masalah dalam hubungan perlu dikenali agar bisa diselesaikan.

Namun, menurut psikolog, pasangan dengan hubungan yang sehat cenderung mampu memberikan dan menerima feedback secara konstruktif. Memberikan masukan tentu perlu dilakukan dengan jelas dan penuh empati, sementara pihak yang menerimanya perlu menghindari respons defensif.

Yang sering terlupakan adalah tindakan setelah menerima masukan, Beauties. Misalnya, ketika pasangan meminta kamu lebih tepat waktu, jangan hanya mengatakan akan berubah tetapi terus datang terlambat. Begitu juga ketika pasangan meminta kamu berhenti bersikap sarkastis saat membicarakan hal serius.

Jika feedback hanya diterima tanpa ada perubahan, pasangan lama-kelamaan dapat kehilangan kepercayaan. Ketika kepercayaan menurun, komunikasi dan keintiman dalam hubungan juga bisa ikut terganggu.

2. Berkomunikasi secara Asertif

Komunikasi asertif membantu pasangan menyampaikan keinginan dan kebutuhan secara jujur tanpa menyakiti satu sama lain. Menurut ahli, kebiasaan mengungkapkan kebutuhan sejak awal dapat mencegah munculnya rasa kesal dan resentment dalam hubungan./ Foto: magnific.com/wavebreakmedia_micro

Komunikasi asertif membantu pasangan menyampaikan keinginan dan kebutuhan secara jujur tanpa menyakiti satu sama lain. Menurut ahli, kebiasaan mengungkapkan kebutuhan sejak awal dapat mencegah munculnya rasa kesal dan resentment dalam hubungan./ Foto: magnific.com/wavebreakmedia_micro

Salah satu hal yang dapat merusak hubungan adalah resentment atau rasa kesal dan kecewa yang menumpuk. Menurut ahli, resentment sering kali muncul ketika seseorang tidak mampu bersikap asertif.

Komunikasi asertif berarti mampu menyampaikan apa yang kamu inginkan, butuhkan, atau rasakan dengan jujur sekaligus tetap menghargai pasangan.

Misalnya, kamu sedang mengalami keraguan terhadap karier dan sebenarnya membutuhkan dukungan pasangan. Namun, karena malu mengatakannya, kamu memilih diam sambil berharap pasangan bisa memahami sendiri.

Ketika kebutuhan tidak pernah disampaikan tetapi kamu tetap berharap pasangan memenuhinya, rasa kecewa dapat semakin besar. Oleh sebab itu, biasakan menyampaikan keinginan sejak awal, bahkan mulai dari hal kecil seperti memilih tontonan bersama sebelum membicarakan keputusan besar.

3. Berani Menunjukkan Kerentanan Emosional

Kerentanan emosional menjadi salah satu kunci penting dalam membangun kedekatan yang lebih dalam dengan pasangan. Menurut psikolog, berbagi perasaan sulit dapat membantu pasangan lebih memahami satu sama lain dan menjaga keintiman./ Foto: magnific.com/wavebreakmedia_micro

Kerentanan emosional menjadi salah satu kunci penting dalam membangun kedekatan yang lebih dalam dengan pasangan. Menurut psikolog, berbagi perasaan sulit dapat membantu pasangan lebih memahami satu sama lain dan menjaga keintiman./ Foto: magnific.com/wavebreakmedia_micro

Kerentanan emosional berarti bersedia membagikan apa yang kamu rasakan, terutama ketika perasaan tersebut sulit untuk diungkapkan. Misalnya, kamu merasa iri terhadap kesuksesan profesional pasangan. Alih-alih memendamnya sampai berubah menjadi konflik, kamu berani mengakui perasaan tersebut dan membicarakannya secara terbuka.

Begitu pula ketika kamu merasa sedih tanpa mengetahui alasannya. Meskipun menganggap perasaan tersebut sebagai tanda kelemahan, kamu tetap bersedia membaginya dengan pasangan.

Menurut ahli, mengakui dan membagikan emosi sulit dapat membuat seseorang tidak terlalu takut terhadap emosinya sendiri. Sebaliknya, menghindari emosi sulit mungkin memberikan kelegaan sementara, tetapi dapat meningkatkan kecemasan di kemudian hari.

Selain itu, keterbukaan emosional membuat pasangan bisa mengenal satu sama lain pada tingkat yang lebih dalam. Ketika komunikasi emosional berhenti, hubungan juga berisiko terasa hambar dan jauh.

4. Menetapkan Batasan yang Sehat

Pasangan dengan kompatibilitas mental dan emosional yang kuat memahami pentingnya menetapkan batasan dalam hubungan. Menurut ahli, batasan bukan tentang mengontrol pasangan, melainkan menentukan tindakan yang akan kamu ambil ketika kebutuhanmu tidak dihargai./ Foto: magnific.com/frimufilms

Pasangan dengan kompatibilitas mental dan emosional yang kuat memahami pentingnya menetapkan batasan dalam hubungan. Menurut ahli, batasan bukan tentang mengontrol pasangan, melainkan menentukan tindakan yang akan kamu ambil ketika kebutuhanmu tidak dihargai./ Foto: magnific.com/frimufilms

Selain mampu menyampaikan kebutuhan, pasangan juga perlu tahu kapan harus mengatakan tidak. Misalnya, kamu perlu memberi tahu pasangan jika sikapnya terasa tidak sensitif di depan keluarga besar, jika caranya memperlakukan anak mulai mempengaruhi hubungan mereka, atau jika kamu sebenarnya tidak ingin pindah kota meskipun pasangan sangat antusias.

Namun, menurut ahli, batasan sebenarnya berfokus pada diri sendiri, bukan mengendalikan orang lain. Kamu tidak bisa menentukan bagaimana pasangan akan bersikap, tetapi kamu bisa menentukan tindakan dan responsmu ketika batasan yang sudah disampaikan tidak dihormati.

Menetapkan batasan memang tidak selalu mudah karena bisa memunculkan rasa takut, cemas, atau khawatir mengecewakan pasangan. Oleh karena itu, mulailah dari hal-hal kecil. Sama seperti belajar keterampilan lain, kemampuan mengatakan tidak dan menetapkan batasan akan semakin kuat jika terus dilatih.

Penelitian juga menunjukkan bahwa kemampuan mengelola emosi sulit menjadi bagian penting dalam membangun batasan yang sehat. Dengan latihan secara konsisten, kamu dapat semakin percaya diri dalam menyampaikan sekaligus mempertahankan batasan tersebut.

Menurutmu, dari empat kebiasaan ini, mana yang paling penting untuk membangun hubungan yang punya koneksi mental dan emosional kuat, Beauties?

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI! 

(dmh/dmh)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE