4 Kesalahan Orang Tua saat Menegur Anak Menurut Para Ahli

Florence Febriani Susanto | Beautynesia
Senin, 03 Aug 2026 18:00 WIB
Memberikan Hukuman Berlebihan karena Emosi
Memberikan Hukuman Berlebihan/Foto: Magnific

Beauties, pernahkah kamu melihat orang tua memarahi atau menegur anak di tempat umum hingga membuat suasana menjadi canggung? Atau mungkin tanpa sadar kamu sendiri pernah melakukannya? Saat emosi memuncak, memang mudah sekali bereaksi secara spontan tanpa memikirkan dampaknya bagi anak.

Padahal, tujuan menegur bukan sekadar membuat anak merasa bersalah, melainkan membantu mereka memahami perilaku yang benar. Nah, supaya proses mendisiplinkan anak berjalan lebih efektif, yuk, hindari beberapa kebiasaan berikut yang juga disoroti oleh para ahli dilansir dari Parents!

Memarahi Anak di Depan Banyak Orang

Memarahi di Depan Banyak Orang/Foto: Magnific

Saat anak melakukan sesuatu yang berbahaya, seperti berlari ke jalan atau mendorong temannya, tentu orang tua perlu segera menghentikannya. Namun, menurut Erica Reischer, PhD, penulis What Great Parents Do: 75 Simple Strategies for Raising Kids Who Thrive, sebaiknya hindari menegur anak di depan banyak orang.

Dr. Reischer menjelaskan bahwa ketika dimarahi di tempat umum, anak cenderung lebih memikirkan siapa yang melihat atau mendengar dibanding memahami alasan di balik teguran tersebut. Kalau memungkinkan, ajak anak ke tempat yang lebih tenang untuk berbicara. Jika situasinya tidak memungkinkan, cukup beri tahu bahwa perilakunya akan dibahas kembali saat sudah sampai di rumah.

Memberikan Instruksi yang Terlalu Umum

Memberikan Instruksi Terlalu Umum/Foto: Magnific

Beauties, pernah merasa sudah berkali-kali mengingatkan anak, tetapi kebiasaannya tetap tidak berubah? Bisa jadi masalahnya bukan karena anak membangkang, melainkan karena ia belum benar-benar memahami apa yang diharapkan darinya.

Larissa Niec, PhD, profesor psikoterapi dan intervensi kesehatan mental di University of Wisconsin-Madison, menyarankan agar orang tua memberikan instruksi yang lebih spesifik. Misalnya, daripada mengatakan, "Jangan lempar jaket sembarangan," akan lebih efektif jika mengatakan, "Tolong gantungkan jaket di gantungan setelah masuk rumah."

Prinsip yang sama juga berlaku saat memarahi anak. Daripada hanya berkata, "Jangan memukul!", orang tua bisa menjelaskan perilaku yang benar, seperti mengarahkan anak untuk menyentuh bantal dengan lembut dibanding memukulnya.

Membandingkan Anak dengan Orang Lain

Membandingkan Anak dengan Orang Lain/Foto: Magnific

Tanpa disadari, kalimat seperti, "Kakak saja bisa menurut, kenapa kamu tidak?" sering kali keluar saat orang tua sedang kesal. Padahal, kebiasaan tersebut justru dapat membuat anak merasa tidak dihargai sekaligus memicu hubungan yang kurang baik dengan saudaranya.

Erica Reischer, PhD, menjelaskan bahwa disiplin seharusnya berfokus pada perilaku anak, bukan membandingkannya dengan orang lain. Memberikan apresiasi ketika anak menunjukkan perubahan positif biasanya jauh lebih efektif dibanding terus mengungkit kekurangan mereka.

Memberikan Hukuman Berlebihan karena Emosi

Memberikan Hukuman Berlebihan/Foto: Magnific

Siapa yang pernah spontan berkata, "Sebulan tidak boleh nonton TV!" saat anak melakukan kesalahan? Reaksi seperti ini memang bisa terjadi ketika emosi sedang tinggi. Namun, menurut Dr. Reischer, hukuman sebaiknya disesuaikan dengan perilaku anak, bukan dengan tingkat kekesalan orang tua.

Agar lebih konsisten, buatlah aturan dan konsekuensi sejak awal. Misalnya, jika anak tidak membereskan mainan atau menyelesaikan tugas rumah, ia perlu melakukannya terlebih dahulu sebelum menikmati waktu bermain atau menonton acara favorit. Dengan begitu, anak belajar bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi yang logis.

Menjadi orang tua memang bukan tugas yang mudah. Wajar jika sesekali emosi muncul, tetapi memahami kesalahan orang tua saat memarahi anak dapat membantu menciptakan pola komunikasi yang lebih sehat dan efektif.

Ingat, Beauties, tujuan utama memarahi anak bukan untuk membuat mereka takut, melainkan membantu mereka belajar dan berkembang menjadi pribadi yang lebih baik. Dengan menyampaikan teguran secara tenang, jelas, dan penuh empati, anak pun akan lebih mudah memahami kesalahannya tanpa kehilangan rasa aman bersama orang tua.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE