4 Masalah Pendidikan di Eropa yang Bikin Pelajar Turun ke Jalan

Aqida Widya Kusmutiarani | Beautynesia
Senin, 19 Oct 2026 12:30 WIB
Gaji Guru, Jam Mengajar, dan Fasilitas Sekolah
Masalah pendidikan yang memicu aksi protes di Eropa juga terjadi di Spanyol/Foto: instagram.com/telesurenglish

Demonstrasi besar-besaran terjadi di sejumlah negara di Eropa, Beauties. Seperti yang melibatkan pelajar di Prancis pada Sabtu, 17 Oktober 2026. Aksi protes tersebut menjadi sorotan dunia. Aksi ini diawali dengan blokade sejumlah sekolah sebagai bentuk protes terhadap kondisi pendidikan yang dinilai semakin buruk.

Nggak hanya soal sekolah, tingginya biaya hidup dan minimnya harapan akan perubahan juga ikut memicu keresahan di kalangan masyarakat.

Gelombang demonstrasi serupa kemudian meluas ke sejumlah negara Eropa, termasuk Albania, Yunani, Spanyol, Italia, dan Belgia. Para pelajar dan mahasiswa turun ke jalan untuk menyuarakan berbagai masalah yang mereka hadapi. Lantas, apa saja masalah pendidikan di Eropa yang bikin para pelajar dan mahasiswa turun ke jalan?

Kondisi Sekolah yang Memburuk dan Kekurangan Guru

Melansir Al Jazeera, salah satu masalah yang mendorong pelajar di Prancis turun ke jalan adalah kondisi sekolah yang dinilai semakin memprihatinkan. Gerakan protes ini bermula dari sejumlah SMA di kawasan pinggiran utara Paris yang dihuni masyarakat kelas pekerja. Para siswa memprotes kekurangan guru dan fasilitas sekolah yang kurang memadai.

Aksi tersebut kemudian meluas ke berbagai kota, seperti Bordeaux, Rennes, Nantes, Lyon, Lille, dan Marseille. Para pelajar menuntut perbaikan kondisi belajar, mulai dari jumlah siswa yang lebih sedikit dalam satu kelas, ketersediaan guru yang mencukupi, hingga bangunan sekolah yang lebih layak. Mereka juga menyoroti jadwal belajar yang terlalu melelahkan.

Masalah serupa juga menjadi sorotan di Italia. Para siswa SMA di Turin dan Roma mulai menduduki gedung sekolah untuk memprotes minimnya dana pendidikan dan kondisi bangunan sekolah yang memburuk. Mereka bahkan menggunakan slogan Let's do as in France sebagai bentuk dukungan terhadap gerakan pelajar di Prancis.

Sementara itu, di Jerman, siswa, guru, orang tua, dan serikat pekerja turut menuntut penambahan jumlah guru, peningkatan investasi pendidikan, serta sistem pendidikan yang lebih adil.

Gaji Guru, Jam Mengajar, dan Fasilitas Sekolah

Masalah pendidikan yang memicu aksi protes di Eropa juga terjadi di Spanyol/Foto: instagram.com/telesurenglish

Masalah pendidikan yang memicu aksi protes di Eropa juga terjadi di Spanyol, tepatnya di Madrid. Para guru dan siswa turun ke jalan untuk memprotes kondisi pendidikan di sekolah negeri. Aksi ini juga diikuti pemogokan tanpa batas waktu yang melibatkan sekitar 65.000 guru sekolah negeri di wilayah tersebut.

Dilansir dari Anadolu Agency, dalam aksi ini, serikat pekerja menuntut kenaikan gaji, jumlah siswa yang lebih sedikit dalam satu kelas, serta pengurangan jam mengajar. Mereka juga meminta pemerintah meningkatkan investasi untuk memperbaiki fasilitas sekolah yang sudah menua dan menambah dukungan bagi siswa berkebutuhan khusus.

Para guru turut meminta kenaikan gaji bersih sebesar 600 EUR per bulan untuk mengimbangi inflasi dan mendekatkan gaji mereka dengan guru di wilayah Spanyol lainnya. Aksi ini muncul setelah negosiasi dengan pemerintah daerah selama berbulan-bulan nggak membuahkan hasil.

Namun, pemerintah daerah menilai tuntutan finansial serikat pekerja sulit dipenuhi dengan anggaran yang tersedia. Akibatnya, perselisihan antara guru dan pemerintah terus berlanjut, sementara para tenaga pendidik mendesak perbaikan kondisi kerja dan peningkatan pendanaan pendidikan negeri.

Biaya Pendidikan dan Biaya Hidup yang Semakin Membebani

Biaya untuk mengakses pendidikan juga menjadi persoalan di sejumlah negara Eropa/Foto: instagram.com/hellopakistan

Selain kondisi sekolah, biaya untuk mengakses pendidikan juga menjadi persoalan di sejumlah negara Eropa. Di Belgia, para pelajar sekolah menengah memprotes kenaikan biaya pendaftaran universitas. Melansir dari Daily Sabah, untuk tahun akademik 2026-2027, beberapa kategori mahasiswa disebut harus membayar biaya hingga 1.194 EUR.

Di Irlandia, ribuan mahasiswa menggelar demonstrasi di Dublin untuk menyuarakan persoalan biaya kuliah, pendanaan pendidikan tinggi, dan mahalnya biaya tempat tinggal. 

Masalah serupa juga terjadi di Yunani, terutama soal biaya tempat tinggal yang semakin membebani mahasiswa. Sekitar 13 Oktober 2026, para mahasiswa mendirikan tenda di Syntagma Square, Athena, tepat di seberang gedung parlemen, untuk memprotes mahalnya biaya sewa dan minimnya hunian publik.

Harga sewa apartemen kecil di sana bisa mencapai 500-600 euro per bulan atau bahkan lebih. Biaya tersebut membuat tempat tinggal semakin sulit dijangkau oleh sebagian mahasiswa. Mereka pun menuntut pengendalian harga sewa, penambahan hunian mahasiswa, peningkatan subsidi, serta pendanaan pendidikan yang lebih memadai.

Terbatasnya Peluang Kerja

Mahasiswa turun ke jalan untuk menyuarakan berbagai masalah yang mereka hadapi/Foto: instagram.com/portrait_god

Di Albania, mahasiswa turun ke jalan untuk menyuarakan berbagai masalah yang mereka hadapi, mulai dari kondisi universitas yang kurang memadai dan biaya pendidikan hingga sulitnya mencari pekerjaan setelah lulus. Aksi ini juga berkaitan dengan demonstrasi yang lebih luas untuk memprotes korupsi dan kesenjangan sosial.

Di saat yang sama, Albania juga diwarnai oleh gerakan Flamingo Revolution, yang menentang proyek pembangunan resor mewah di kawasan pesisir yang dikaitkan dengan Jared Kushner.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(dmh/dmh)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE