Demonstrasi besar-besaran terjadi di sejumlah negara di Eropa, Beauties. Seperti yang melibatkan pelajar di Prancis pada Sabtu, 17 Oktober 2026. Aksi protes tersebut menjadi sorotan dunia. Aksi ini diawali dengan blokade sejumlah sekolah sebagai bentuk protes terhadap kondisi pendidikan yang dinilai semakin buruk.
Nggak hanya soal sekolah, tingginya biaya hidup dan minimnya harapan akan perubahan juga ikut memicu keresahan di kalangan masyarakat.
Gelombang demonstrasi serupa kemudian meluas ke sejumlah negara Eropa, termasuk Albania, Yunani, Spanyol, Italia, dan Belgia. Para pelajar dan mahasiswa turun ke jalan untuk menyuarakan berbagai masalah yang mereka hadapi. Lantas, apa saja masalah pendidikan di Eropa yang bikin para pelajar dan mahasiswa turun ke jalan?
Kondisi Sekolah yang Memburuk dan Kekurangan Guru
Melansir Al Jazeera, salah satu masalah yang mendorong pelajar di Prancis turun ke jalan adalah kondisi sekolah yang dinilai semakin memprihatinkan. Gerakan protes ini bermula dari sejumlah SMA di kawasan pinggiran utara Paris yang dihuni masyarakat kelas pekerja. Para siswa memprotes kekurangan guru dan fasilitas sekolah yang kurang memadai.
Aksi tersebut kemudian meluas ke berbagai kota, seperti Bordeaux, Rennes, Nantes, Lyon, Lille, dan Marseille. Para pelajar menuntut perbaikan kondisi belajar, mulai dari jumlah siswa yang lebih sedikit dalam satu kelas, ketersediaan guru yang mencukupi, hingga bangunan sekolah yang lebih layak. Mereka juga menyoroti jadwal belajar yang terlalu melelahkan.
Masalah serupa juga menjadi sorotan di Italia. Para siswa SMA di Turin dan Roma mulai menduduki gedung sekolah untuk memprotes minimnya dana pendidikan dan kondisi bangunan sekolah yang memburuk. Mereka bahkan menggunakan slogan Let's do as in France sebagai bentuk dukungan terhadap gerakan pelajar di Prancis.
Sementara itu, di Jerman, siswa, guru, orang tua, dan serikat pekerja turut menuntut penambahan jumlah guru, peningkatan investasi pendidikan, serta sistem pendidikan yang lebih adil.