4 Tanda Hubunganmu Menuju Perceraian Tanpa Disadari

Dewi Maharani Astutik | Beautynesia
Kamis, 09 Apr 2026 13:15 WIB
Indikasi perceraian sering kali muncul tanpa disadari dalam dinamika hubungan antar pasangan sehari-hari/Foto: Freepik

Fenomena “curveball divorces”, perceraian yang mengejutkan salah satu pasangan, makin sering terjadi. Penelitian yang dilakukan oleh Dr. John Gottman dan Dr. Julie Schwartz Gottman dari Gottman Institute mengungkap adanya empat gejala hubungan yang retak dan selalu menjadi indikasi perceraian.

Dengan memahami tanda-tanda ilmiah hubungan tidak harmonis ini, pasangan dapat belajar mengelola komunikasi mereka secara lebih bijak dan menjaga hubungan tetap sehat. Jangan tunggu sampai masalah membesar dan mulai lebih peka jika menyadari tanda-tanda seperti yang dilansir dari Huffpost berikut ini!

Mengkritik Pasangan


Hubungan tidak harmonis dapat terlihat dari kecenderungan memberi label negatif saat terjadi masalah/Foto: Freepik/jcomp

Kritik yang dimaksud para ahli berbeda dengan sekadar memberikan saran atau keluhan kecil pada pasangan. Kritik yang dimaksud di sini adalah ketika seseorang bersikap seolah-olah masalah yang muncul dengan pasangannya mencerminkan sesuatu yang mendasar tentang kepribadian pasangannya tersebut, atau yang dikenal sebagai “serangan ad hominem”.

Misalnya, alih-alih mengatakan, “Aku merasa tidak dihargai ketika kantong sampah dibiarkan terlalu penuh. Kita sudah sepakat itu adalah tanggung jawabmu,” seseorang mungkin berkata, “Kamu pemalas, berantakan, dan egois”.

Hal ini tidak otomatis menandakan hubungan akan hancur, tetapi kritik semacam ini bisa membuat pihak yang menerima merasa diserang, ditolak, dan terluka. Akibatnya, sering kali tercipta pola eskalasi konflik antara pelaku dan korban, di mana ketegangan dan kesalahpahaman makin meningkat setiap kali masalah muncul.

Untuk menghindari dampak negatif ini, para ahli menyarankan menggunakan kata “aku” ketika ingin menyampaikan perasaan atau kekhawatiran serta menambahkan saran untuk perubahan yang bersifat konstruktif. Dengan begitu, pasangan dapat memahami masalah dan mencari solusi bersama tanpa merasa diserang secara pribadi. Pendekatan ini lebih efektif dalam membangun komunikasi yang sehat dan memperkuat hubungan daripada sekadar mengkritik.

(naq/naq)