5 Alasan Friendship Breakup Bisa Sangat Menyakitkan
Kehilangan sahabat dekat sering kali menjadi jenis patah hati paling sunyi yang pernah kita alami. Bedanya dengan putus cinta, perpisahan antar-sahabat sering terjadi tanpa percakapan penutup yang jelas.
Seringnya, salah satu hanya perlahan menjauh, dan tiba-tiba kita merasa asing di hidup satu sama lain tanpa ada orang yang benar-benar paham betapa hancurnya perasaan kita saat itu.
Berdasarkan survei YouGov yang dikutip oleh IOL, hampir dua pertiga orang dewasa pernah mengalami berakhirnya sebuah persahabatan dekat. Walaupun pengalaman ini sangat umum, rasa sakit yang muncul jarang mendapatkan pengakuan yang layak, Beauties.
Nah, biar kamu nggak merasa sendirian dalam kesedihan ini, yuk, kita bedah 5 alasan di balik beratnya sebuah friendship breakup!
Otak Memprosesnya Sama Seperti Luka Fisik
Alasan Friendship Breakup Bisa Sangat Menyakitkan/Foto: Freepik/freepik
Beauties, kamu sama sekali nggak berlebihan kalau merasa badamu lemas atau dadamu sesak saat kehilangan sahabat. Naomi Eisenberger, peneliti dari UCLA, lewat temuannya di Nature Reviews Neuroscience mengungkapkan bahwa pengalaman kehilangan sosial ternyata mengaktifkan bagian otak yang sama dengan saat kita merasakan nyeri fisik.
Artinya, otakmu secara harfiah membaca kepergian sahabat sebagai luka yang nyata. Dr. Lisa M. Shulman, seorang neurolog, menambahkan bahwa perpisahan ini mengacaukan hormon bahagia seperti serotonin dan dopamin di otakmu. Nggak heran kalau kamu mendadak jadi cemas, hampa, atau bahkan kehilangan selera makan.
Duka yang Tidak Diakui Lingkungan (Disenfranchised Grief)
Alasan Friendship Breakup Bisa Sangat Menyakitkan/Foto: Freepik.com
Salah satu alasan kenapa proses move on dari sahabat itu lama adalah karena lingkungan sering kali nggak memberi kita izin untuk berduka. Dalam dunia psikologi, fenomena ini disebut sebagai disenfranchised grief atau duka yang dianggap tidak penting oleh masyarakat.
Saat putus cinta, teman-temanmu mungkin akan datang membawakan es krim atau menghiburmu. Tapi saat putus sama sahabat? Orang cenderung meremehkan dengan kata-kata, "Ah, kan, cuma teman, cari lagi aja." Padahal, meratapi seseorang yang masih hidup tapi sudah tidak ada lagi di hari-hari kita itu sangatlah melelahkan, Beauties.
Tidak Ada Ritual Perpisahan yang Jelas
Alasan Friendship Breakup Bisa Sangat Menyakitkan/Foto: Freepik
Kalau hubungan percintaan berakhir, biasanya ada titik jelas, misalnya kata putus, mengembalikan barang, atau memutus status hubungan di media sosial. Tapi persahabatan? Sering kali berakhir secara mengambang.
Budaya kita nggak punya ritual khusus untuk mengakhiri persahabatan. Ketiadaan ritual ini membuat kita terjebak dalam ambiguitas emosional. Perpisahan yang nggak jelas atau menggantung ini justru membuat rasa sakitnya bertahan lebih lama karena proses pemulihanmu terhambat oleh rasa bingung.
Persahabatan Membentuk Identitas Diri
Alasan Friendship Breakup Bisa Sangat Menyakitkan/Foto: Freepik.com/freepik
Beauties, sahabat bukan sekadar teman untuk berbagi cerita, mereka adalah bagian dari siapa diri kamu. Dr. Mary-Frances O'Connor, penulis The Grieving Brain, mengungkapkan di IOL bahwa persahabatan bisa berlangsung selama beberapa dekade serta secara aktif membentuk identitas serta rasa memiliki seseorang.
Sebuah penelitian yang diterbitkan di Personality and Individual Differences menemukan bahwa ketika sebuah hubungan berakhir secara tiba-tiba, kejelasan konsep diri seseorang ikut terguncang, serta kondisi ini berkaitan erat dengan tekanan psikologis yang signifikan.
Artinya, ketika kehilangan sahabat dekat, kamu tidak hanya kehilangan orangnya, kamu juga kehilangan sebagian dari cermin yang selama ini membantumu mengenal dirimu sendiri. Wajar sekali jika proses pemulihannya membutuhkan waktu yang tidak sebentar.
Kehilangan Satu Sahabat Berarti Kehilangan Satu Dunia
Alasan Friendship Breakup Bisa Sangat Menyakitkan/Foto: Freepik
Putusnya persahabatan jarang sekali berdiri sendiri. Biasanya, hal ini membawa efek domino. Kamu jadi sungkan bertemu teman-teman dalam lingkup yang sama, nggak bisa lagi ke tempat tongkrongan favorit karena penuh kenangan, hingga hilangnya rutinitas harian yang selama ini bikin kamu merasa aman.
Kita kekurangan bahasa untuk memproses kehilangan ini. Padahal, penelitian menunjukkan bahwa berakhirnya persahabatan sangat berkaitan dengan penurunan rasa percaya diri hingga gejala depresi. Jadi, sangat wajar jika kamu merasa duniamu mendadak runtuh.
Beauties, duka karena kehilangan sahabat adalah valid. Jangan merasa lemah jika kamu butuh waktu lama untuk pulih, karena sains pun membuktikan bahwa luka ini memang nyata adanya. Mengakui rasa sakit itu adalah langkah pertama untuk benar-benar pulih dan nantinya membuka pintu bagi persahabatan baru yang lebih sehat.
***
Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiwa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!