5 Buku Pemenang Women's Prize for Fiction yang Layak Masuk Daftar Baca

Amanda Nabila Noor Azahra | Beautynesia
Sabtu, 05 Sep 2026 10:30 WIB
Hamnet – Maggie O’Farrell (2020)
Hamnet – Maggie O’Farrell (2020)/Foto: goodreads.com

Beauties, jika kamu sedang mencari bacaan baru, daftar pemenang Women’s Prize for Fiction mungkin bisa menjadi salah satu referensi. Penghargaan sastra bergengsi ini diberikan setiap tahun kepada novel terbaik berbahasa Inggris yang ditulis oleh perempuan.

Tak hanya mendapat apresiasi dari para kritikus, banyak novel pemenangnya juga berhasil memikat pembaca lewat cerita yang kuat dan karakter yang membekas. Berikut lima novel pemenang Women’s Prize for Fiction yang layak masuk daftar bacamu! 

The Correspondent – Virginia Evans (2026)

The Correspondent – Virginia Evans (2026)/Foto: goodreads.com

Novel The Correspondent mengisahkan tentang perempuan berusia 73 tahun, Sybil Van Antwerp, yang menjalani hari-harinya dengan menulis surat kepada keluarga, teman, hingga orang-orang yang pernah hadir dalam hidupnya. Lewat surat-surat tersebut, Sybil perlahan mengenang berbagai keputusan, penyesalan, dan hubungan yang membentuk perjalanan hidupnya.

Dengan format epistolary atau novel berbentuk surat, Virginia Evans berhasil menawarkan cerita yang hangat sekaligus reflektif tentang keluarga, persahabatan, dan kesempatan kedua. Gaya penceritaannya yang intim membuat novel ini cocok bagi pembaca yang menyukai kisah yang berfokus pada perkembangan karakter. 

The Safekeep – Yael van der Wouden (2025)

The Safekeep – Yael van der Wouden (2025)/Foto: goodreads.com

Ditulis oleh perempuan asal Belanda, Yael van der Wouden, The Safekeep merupakan novel berlatar di Belanda pada awal 1960-an, sekitar 15 tahun setelah Perang Dunia II. The Safekeep menceritakan kehidupan Isabel, perempuan yang hidup tenang di rumah warisan keluarganya. Kehidupannya mulai berubah ketika sang kakak membawa Eva untuk tinggal sementara di rumah tersebut, memunculkan ketegangan sekaligus rahasia yang perlahan terungkap.

Lewat perpaduan historical fiction dan drama psikologis, Yael van der Wouden menghadirkan kisah yang penuh emosi tentang keluarga, identitas, dan luka masa lalu. Alurnya yang perlahan membangun rasa penasaran membuat novel ini sulit untuk dilepaskan.

Demon Copperhead – Barbara Kingsolver (2023)

Demon Copperhead – Barbara Kingsolver (2023)/Foto: goodreads.com

Terinspirasi dari novel klasik David Copperfield karya Charles Dickens, Demon Copperhead mengikuti perjalanan seorang anak laki-laki yang tumbuh di wilayah Appalachia, Amerika Serikat. Tema yang dibawa cukup berat dan personal, dengan berbagai tantangan hidup, Demon berusaha bertahan sambil mencari tempatnya di dunia.

Barbara Kingsolver memadukan kisah personal dengan isu sosial yang relevan, mulai dari kemiskinan hingga krisis opioid di Amerika Serikat. Dengan karakter utama yang kuat dan narasi yang emosional, Demon Copperhead menjadi salah satu novel kontemporer yang banyak mendapat pujian.

The Book of Form and Emptiness – Ruth Ozeki (2022)

The Book of Form and Emptiness – Ruth Ozeki (2022)/Foto: goodreads.com

The Book of Form and Emptiness merupakan salah satu buku yang mengeksplorasi duka dengan baik. Berpusat pada Benny Oh, remaja berumur 14 tahun yang harus menghadapi kehilangan sang ayah. Setelah kepergian sang ayah, Benny mulai mendengar suara dari benda-benda mati di sekitarnya, membawanya pada perjalanan yang penuh pertanyaan tentang kehidupan, kesedihan, dan makna keberadaan.

Melalui sentuhan magical realism, Ruth Ozeki menghadirkan kisah yang unik sekaligus menyentuh. Novel yang dengan jelas mengeksplorasi hubungan keluarga, kesehatan mental, dan proses menerima kehilangan dengan cara yang hangat dan reflektif.

Hamnet – Maggie O’Farrell (2020)

Hamnet – Maggie O’Farrell (2020)/Foto: goodreads.com

Sebelum diangkat ke film layar lebar, Hamnet awalnya merupakan buku yang  terinspirasi dari kisah keluarga William Shakespeare dengan berfokus pada Agnes dan putranya, Hamnet. Novel ini menggambarkan kehidupan keluarga William Shakespeare pada abad ke-16, termasuk duka mendalam yang mereka alami setelah kehilangan putra tercinta yang baru berusia 11 tahun, Hamnet.

Dengan bahasa yang puitis dan detail yang kaya, Maggie O’Farrell menghadirkan kisah tentang cinta, kehilangan, dan kekuatan sebuah keluarga. Hamnet masih menjadi salah satu novel pemenang Women’s Prize for Fiction yang paling banyak direkomendasikan sampai sekarang, yang membuatnya juga diadaptasi menjadi sebuah film.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE