5 Cara Mencegah Anak Menjadi Pelaku Bullying

Florence Febriani Susanto | Beautynesia
Minggu, 18 Oct 2026 10:30 WIB
Bekerja Sama dengan Pihak Sekolah
Kerja Sama dengan Pihak Sekolah/Foto: Magnific

Cara mencegah anak menjadi pelaku bullying bisa dimulai dari hal-hal sederhana yang dilakukan orang tua setiap hari. Perilaku anak tentu tidak terbentuk dalam semalam. Cara mereka memperlakukan orang lain juga bisa dipengaruhi oleh lingkungan, pertemanan, tekanan sosial, hingga bagaimana orang dewasa di sekitarnya memberikan contoh.

Karena itu, membicarakan bullying sebaiknya tidak hanya dilakukan setelah anak melakukan kesalahan. Orang tua dapat membangun pemahaman sejak awal tentang bagaimana memperlakukan orang lain, mengelola emosi, serta memahami bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi.

Lantas, bagaimana cara mendidik anak agar tidak tumbuh menjadi pelaku bullying? Berikut beberapa langkah yang bisa diterapkan di rumah dilansir dari Nemours Kids Health.

Tegaskan Bahwa Bullying Bukan Perilaku yang Bisa Ditoleransi

Bullying Bukan Perilaku yang Bisa Ditoleransi/Foto: Magnific

Jangan menganggap perilaku mengejek, mengintimidasi, atau menyakiti orang lain sebagai sekadar bercanda. Anak perlu memahami sejak awal bahwa bullying bukan perilaku yang dapat diterima, baik di rumah, sekolah, maupun lingkungan pertemanan.

Orang tua juga perlu membuat aturan yang jelas dan konsisten. Jika anak melakukan bullying melalui pesan, media sosial, atau perangkat elektronik, misalnya, orang tua dapat memberikan konsekuensi yang berkaitan dengan perilaku tersebut, seperti membatasi penggunaan gawai untuk sementara.

Namun, konsekuensi sebaiknya tetap bertujuan mengajarkan tanggung jawab, bukan sekadar membuat anak takut. Jika anak bersikap agresif kepada saudara atau orang lain di rumah, ajarkan alternatif yang lebih tepat, seperti menjauh dari situasi yang memancing emosi dan mencari bantuan orang dewasa.

Ajarkan Anak Menghargai Perbedaan

Kenalkan Perbedaan/Foto: Magnific

Anak perlu belajar bahwa setiap orang bisa memiliki penampilan, agama, kondisi ekonomi, gender, kemampuan, maupun latar belakang yang berbeda. Perbedaan tersebut bukan alasan untuk mengejek atau memperlakukan seseorang dengan buruk.

Di sinilah orang tua bisa mulai mengenalkan empati. Cobalah mengajak anak membayangkan bagaimana perasaan seseorang ketika diejek karena sesuatu yang tidak dapat mereka ubah.

Pengalaman langsung juga bisa membantu. Orang tua dapat mengajak anak mengikuti kegiatan komunitas yang mempertemukan mereka dengan anak-anak dari latar belakang berbeda. Dari sana, anak berkesempatan melihat bahwa perbedaan bukan sesuatu yang perlu dijadikan bahan ejekan.

Kenali Lingkungan Pertemanan Anak

Kenali Lingkungan Pertemanan Anak/Foto: Magnific

Beauties, pernah merasa anak tiba-tiba berubah setelah lebih sering bergaul dengan kelompok tertentu? Jangan langsung menghakimi! Coba pahami terlebih dahulu seperti apa kehidupan sosial mereka.

Orang tua bisa berkomunikasi dengan guru, konselor sekolah, maupun orang tua dari teman anak untuk mengetahui situasi yang terjadi. Apakah ada anak lain yang melakukan bullying? Apakah anak sedang menghadapi tekanan untuk mengikuti kelompok tertentu? Atau mungkin ada konflik pertemanan yang belum mereka ceritakan?

Komunikasi dengan anak juga penting. Tanyakan bagaimana hubungan mereka dengan teman-temannya dan apakah ada tekanan untuk melakukan sesuatu agar diterima dalam kelompok.

Selain lingkungan sekolah, anak juga bisa diarahkan mengikuti kegiatan di luar sekolah. Aktivitas tersebut dapat membuka kesempatan untuk bertemu teman baru dan membangun hubungan sosial yang lebih positif.

Perhatikan dan Puji Perilaku Positif

Puji Perilaku Positif/Foto: Magnific

Mendidik anak tidak selalu harus dilakukan ketika mereka berbuat salah. Justru, perilaku baik yang dilakukan sehari-hari juga layak mendapatkan perhatian.

Ketika anak berhasil menyelesaikan konflik tanpa berteriak, membantu temannya, meminta maaf, atau memilih menjauh daripada membalas ketika sedang marah, berikan apresiasi. Jelaskan perilaku apa yang menurut kamu sudah dilakukan dengan baik.

Penguatan positif seperti ini membantu anak memahami perilaku mana yang diharapkan. Mereka pun tidak hanya belajar bahwa bullying itu salah, tetapi juga mengetahui seperti apa cara memperlakukan orang lain dengan baik.

Bekerja Sama dengan Pihak Sekolah

Kerja Sama dengan Pihak Sekolah/Foto: Magnific

Jika bullying terjadi di sekolah, orang tua tidak perlu menghadapinya sendirian. Komunikasikan situasinya dengan guru, wali kelas, konselor, atau pihak sekolah agar dapat ditemukan langkah yang sesuai.

Kerja sama ini juga membantu anak memahami bahwa perilaku mereka diperhatikan, bukan hanya di rumah tetapi juga di lingkungan sekolah. Dengan begitu, anak dapat belajar bertanggung jawab terhadap tindakannya.

Orang tua dan sekolah juga bisa menyusun langkah yang jelas untuk membantu anak memperbaiki perilaku. Fokusnya bukan sekadar memberikan hukuman, tetapi mendorong anak memahami dampak tindakannya dan belajar membuat pilihan sosial yang lebih positif.

Dari lima cara di atas, mana yang menurutmu paling penting diterapkan sejak anak masih kecil? Atau ada cara lain yang menurutmu efektif untuk mengajarkan anak agar lebih menghargai orang di sekitarnya?

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.