5 Ciri Orang yang Pura-pura Baik Hati Menurut Ilmu Psikologi

Sierra Ayuningtyas Muktisari | Beautynesia
Jumat, 27 Mar 2026 21:00 WIB
5 Ciri Orang yang Pura-pura Baik Hati Menurut Ilmu Psikologi
Ilustrasi orang pura-pura baik hati/ Foto: freepik.com/drobotdean

Beauties, menjadi orang yang baik hati bisa dilakukan kapan saja, di mana saja, dan oleh siapa saja. Setiap orang akan memperlihatkan kebaikan hatinya melalui cara yang berbeda juga, misalnya ada yang menunjukkannya melalui tindakan memberikan dukungan secara langsung, mengucapkan kalimat-kalimat yang suportif, mengajukan diri untuk membantu orang lain, dan masih banyak lagi.

Namun, kamu mungkin pernah berhadapan dengan orang yang tampak baik hati, namun merasakan sesuatu yang 'tidak biasa'. Hal ini bukan karena semata-mata kamu menghakimi, namun kamu mungkin memerhatikan tindakan orang tersebut tidak menunjukkan kebaikan yang tulus, melainkan hanya agar dilihat orang lain, Beauties.

Oleh karena itu, tidak ada salahnya kamu mengetahui apa saja ciri-ciri orang yang pura-pura terlihat baik hati. Merangkum dari Your Tango dan The Expert Editor, simak 5 ciri orang yang pura-pura baik hati menurut  ilmu psikologi  berikut ini.

1. Bahasa Tubuh yang Berbeda dengan Ucapan

Kaki dapat berfungsi sebagai cerminan langsung dari sikap seseorang. Saat kaki diarahkan langsung ke lawan bicara, ini adalah tanda ketertarikan yang tulus.

Bahasa tubuh yang berbeda dengan ucapan/ Foto: Pexels

Ciri pertama yang bisa kamu lihat dari orang berpura-pura baik hati yaitu bahasa tubuh mereka mungkin berbeda dengan ucapannya, Beauties.

Misalnya, saat bertemu seseorang yang berkata, “Aku sangat senang membantu kamu,” namun orang tersebut menunjukkan bahasa tubuh seperti senyum yang dipaksakan, lengan yang disilangkan, hingga rahang yang menegang.

Bahasa tubuh ini cenderung lebih ‘jujur’ dibanding apa yang dikatakan seseorang, Beauties. Penelitian tentang komunikasi nonverbal menunjukkan bahwa meskipun kita dapat mengontrol kata-kata kita dengan hati-hati, perilaku non-verbal kita lebih sulit untuk ‘dipalsukan’ secara konsisten.

2. Tidak Konsisten

Ciri kepribadian kuat tampak pada individu yang mampu menjaga batas dengan konsisten. Ia tidak melihat batasan sebagai sikap egois, melainkan bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri. Ketegasan ini membantu membangun relasi yang saling menghargai.

Tidak konsisten/ Foto: freepik.com

Ciri lainnya dari orang yang pura-pura baik hati yaitu tidak konsisten. Menurut sebuah studi dari Frontiers in Psychology, seseorang yang umumnya tidak konsisten dengan hal-hal lain dalam hidup bisa jadi adalah seseorang yang menunjukkan kepalsuan atau kepura-puraan.

Misalnya, mengingkari janji yang telah mereka buat sebelumnya, menunjukkan kata-kata yang tidak konsisten, serta menunjukkan kebaikan yang berbeda-beda atau hanya pada saat-saat tertentu saja.

3. Kebaikan yang Terlihat Dibuat-buat

Kalimat “setidaknya” sering dimaksudkan untuk menenangkan, tetapi bisa terasa meremehkan perasaan. Ungkapan ini membuat emosi seseorang seolah tidak valid.

Kebaikan yang terlihat dibuat-buat/ Foto: freepik.com

Kebanyakan orang cenderung lebih mudah mengenali kebaikan ‘palsu’, terutama jika kebaikan tersebut seringkali terasa dibuat-buat sejak awal, Beauties.

Biasanya, orang-orang yang menunjukkan kebaikan pura-pura tidak peduli untuk menjalin hubungan baik secara nyata dengan siapa pun, karena mereka cenderung menyibukkan diri untuk memanfaatkan orang lain demi keuntungan pribadi.

4. Tidak Bisa Merayakan Kebahagiaan Orang Lain dengan Tulus

Orang iri kadang bersikap acuh atau sinis supaya terlihat nggak peduli padahal sebenarnya merasa terancam.

Tidak bisa merayakan kebahagiaan orang lain dengan tulus/ Foto: freepik.com

Beauties, kamu mungkin pernah menerima ucapan selamat dari orang lain, namun terdengar tidak tulus saat merayakan keberhasilanmu?

Misalnya seseorang yang berkata, “Oh, kamu dipromosikan? Bagus sekali. Aku rasa mereka benar-benar membutuhkan seseorang di posisi itu,”. Meskipun kalimat ini terdengar normal, namun terhadap sedikit rasa iri yang dibungkus dengan antusiasme palsu.

Kebaikan yang tulus untuk orang lain akan mengalir secara alami. Namun, kebaikan yang dipaksakan untuk orang lain cenderung jelas terlihat dibuat-buat.

5. Transaksional

Mereka bukan sekadar pelit dalam soal uang atau waktu, tapi juga perhitungan dalam hal perasaan dan perhatian.

Transaksional/ Foto: pexels.com

Orang-orang yang berpura-pura baik hati cenderung menunjukkan sikap transaksional terhadap orang lain, Beauties.

Mereka tidak peduli tentang bagaimana cara membangun hubungan yang baik dan tulus, karena mereka memanfaatkan pola pikir transaksional dengan mengharapkan imbalan atas kebaikan yang telah mereka berikan.

Hal-hal sederhana yang biasanya dilakukan tanpa ‘syarat’ bisa dijadikan senjata untuk mendapatkan suatu imbalan dari orang lain.

---

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(sim/sim)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE