5 Fakta Menarik tentang Mal yang Mungkin Belum Pernah Kamu Dengar

Retno Anggraini | Beautynesia
Rabu, 18 Feb 2026 13:15 WIB
2. Banyak Film Terkenal Mengambil Latar di Dalam dan Sekitar Mal
Mal sering menjadi lokasi syuting favorit/Foto: Freepik.com/Freepik

Mal sudah menjadi bagian dari gaya hidup modern dan identik dengan tempat belanja, nongkrong, hingga hiburan keluarga. Namun, di balik kemegahan fasad kaca dan deretan toko branded, ada banyak fakta menarik tentang mal yang jarang kita sadari.

Keberadaan mal sebenarnya bukan sekadar tentang transaksi jual beli semata, melainkan sebuah mahakarya arsitektur dan strategi pemasaran yang sangat terencana. Setiap sudutnya dirancang sedemikian rupa untuk memengaruhi suasana hati dan perilaku kita. Melansir dari berbagai sumber, berikut 5 fakta menarik tentang mal yang akan memberikan perspektif baru saat kita berkunjung ke sana di kemudian hari.

1. Mal Pertama di Dunia

Galleria Vittorio Emanuele II merupakan mal pertama di dunia yang dibangun pada abad ke-19. Tempat ini menjadi cikal bakal pusat perbelanjaan modern sekaligus simbol kemewahan gaya hidup Eropa klasik.
Galleria Vittorio Emanuele II, mal pertama di dunia/Foto: Unsplash.com/tompodmore86

Banyak yang mengira bahwa konsep mal modern lahir di Amerika Serikat pada abad ke-20, tapi sejarah mencatat bahwa akarnya jauh lebih tua dan berasal dari daratan Eropa. Galleria Vittorio Emanuele II yang terletak di Milan, Italia, sering disebut sebagai prototipe mal tertua di dunia yang masih beroperasi hingga saat ini.

Melansir Reader's Digest, mal yang dibangun antara tahun 1865 hingga 1877 ini bukan hanya merupakan tempat belanja, melainkan sebuah monumen kemegahan arsitektur yang menghubungkan Duomo di Milano dengan Teater La Scala. Struktur bangunannya menggunakan atap kaca dan besi yang sangat revolusioner pada masanya, menciptakan ruang publik yang terlindung dari cuaca namun tetap mendapatkan cahaya alami.

Fakta menarik mal ini terletak pada fungsinya yang sejak dulu sudah menjadi tempat berkumpulnya para intelektual, seniman, dan kaum borjuis Milan. Dengan lantai mosaik yang indah dan toko-toko mewah yang berderet, Galleria Vittorio Emanuele II membuktikan bahwa konsep pusat perbelanjaan terpadu sudah menjadi pusat gaya hidup masyarakat kelas atas sejak ratusan tahun lalu.

2. Banyak Film Terkenal Mengambil Latar di Dalam dan Sekitar Mal

Mal sering menjadi lokasi syuting favorit/Foto: Freepik.com/Freepik

Pusat perbelanjaan sering kali menjadi pilihan utama para sutradara untuk menciptakan latar cerita yang relevan dengan kehidupan sehari-hari maupun fantasi. Dari film remaja klasik tahun 80-an hingga film aksi modern, mal menyediakan mikrokosmos masyarakat yang sempurna untuk digambarkan di layar lebar.

Luasnya area dan keberagaman visual di dalam gedung membuat lokasi ini sangat fleksibel untuk berbagai genre film, mulai dari drama romantis hingga horor bertema zombi yang mencekam. Beberapa mal bahkan menjadi sangat ikonik berkat kemunculannya dalam film-film box office. Misalnya, bagaimana mal digambarkan sebagai tempat bertahan hidup atau justru tempat terjadinya konflik besar yang mendebarkan.

3. Fenomena Gruen Transfer

Gruen Transfer adalah efek psikologis di mana desain mal sengaja dibuat tanpa jendela dan jam untuk membuat pengunjung kehilangan fokus waktu.
Mal memiliki efek hipnotik yang disebut Gruen Transfer/Foto: Freepik.com/jcomp

Saat kita pertama kali memasuki mal, tidak sedikit dari kita pernah merasa kehilangan jejak waktu atau lupa pada tujuan awal. Mengutip Mental Floss, fenomena ini dikenal dalam dunia psikologi retail sebagai Gruen Transfer.

Dinamai sesuai dengan arsitek Victor Gruen, efek ini merupakan kondisi di mana desain interior mal yang sengaja dibuat membingungkan dan penuh stimulasi visual menyebabkan pengunjung kehilangan fokus. Akibatnya, kita cenderung berjalan lebih lambat, merasa lebih santai, dan akhirnya melakukan pembelian impulsif yang sama sekali tidak ada dalam rencana awal.

Fenomena ini melibatkan penggunaan pencahayaan yang konstan, suhu udara yang diatur sempurna, serta ketiadaan jendela dan jam dinding di area utama. Strategi ini bertujuan agar kita terputus dari dunia luar dan sepenuhnya tenggelam dalam pengalaman belanja.

4. Amerika Serikat Dikenal sebagai Rumah bagi Mal Terbengkalai

Amerika Serikat dikenal sebagai rumah bagi mal terbengkalai/Foto: Freepik.com/ASphotofamily

Meskipun Amerika Serikat pernah menjadi pelopor budaya mal secara global, kini negara tersebut justru dikenal karena fenomena Dead Malls atau mal yang terbengkalai. Pergeseran perilaku konsumen ke belanja online serta perubahan demografi wilayah membuat banyak pusat perbelanjaan raksasa di sana ditinggalkan oleh pengunjung dan penyewanya.

Pemandangan gedung-gedung besar yang kosong, eskalator yang mati, dan lorong-lorong sepi kini menjadi pemandangan yang lazim ditemukan di berbagai negara bagian. Fenomena ini memberikan gambaran tentang siklus hidup sebuah industri. Banyak dari bangunan tua ini yang dialihfungsikan menjadi pusat komunitas, apartemen, atau bahkan pusat data, tapi tidak sedikit pula yang dibiarkan hancur dimakan waktu.

5. Mal Terbesar di Dunia

Predikat mal terbesar saat ini dipegang oleh Iran Mall di Teheran. Dengan fasilitas super lengkap, mal ini berevolusi menjadi kota dalam kota yang menggabungkan tradisi Persia dan modernitas.
Iran Mall dikenal sebagai mal terbesar di dunia/Foto: Dok. Official Website Iran Mall

Selama hampir satu dekade, gelar mal terbesar di dunia dipegang oleh Dubai Mall di Uni Emirat Arab. Namun, predikat tersebut bergeser pada 2018 setelah Iran Mall di Teheran, Iran, resmi dibuka.

Mengutip Interesting Facts, Iran Mall memiliki luas sekitar 15 juta kaki persegi saat fase pertamanya dibuka. Jika seluruh pembangunan selesai, total luas kawasan ini diperkirakan mencapai hampir 21 juta kaki persegi.

Tidak hanya unggul dari segi ukuran, Iran Mall juga menawarkan beragam fasilitas yang menjadikannya lebih dari sekadar tempat belanja. Kompleks ini dilengkapi fasilitas olahraga di area rooftop dengan jalur khusus untuk berjalan kaki dan joging, air mancur musikal, masjid, serta bazar tradisional yang menghadirkan nuansa khas Timur Tengah.

Setelah mengetahui berbagai fakta menarik tentang mal dari sejarah hingga fenomena modernnya, kita bisa melihat bahwa mal bukan sekadar tempat belanja biasa. Di balik gemerlap etalase dan keramaian pengunjung, ada cerita panjang tentang budaya, psikologi, dan perubahan gaya hidup manusia.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiwa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.