5 Fakta Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang Jarang Diketahui

Belinda Safitri | Beautynesia
Minggu, 16 Aug 2026 11:00 WIB
5. Kain Merah Putih untuk Bendera Didapat dari Pihak Jepang
Bendera merah putih/ Foto: Detik/Andhika Prasetia

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia selalu identik dengan pembacaan teks oleh Soekarno didampingi Mohammad Hatta pada 17 Agustus 1945. Namun, di balik momen yang setiap tahun diperingati tersebut, terdapat sejumlah cerita menarik yang mungkin belum banyak diketahui.

Peristiwa bersejarah itu ternyata tidak berlangsung sesederhana yang selama ini tergambar dalam buku pelajaran, Beauties. Ada naskah yang nyaris hilang, dokumentasi yang harus disembunyikan dari tentara Jepang, hingga suara pembacaan proklamasi yang ternyata bukan rekaman dari pagi 17 Agustus 1945. Dilansir dari detikEdu, yuk simak fakta-fakta proklamasi kemerdekaan Indonesia yang jarang diketahui! 

1. Naskah Asli Proklamasi Sempat Dibuang

Naskah proklamasi kemerdekaan/ Foto: Kemendikbud

Ada kisah tak biasa di balik naskah tulisan tangan Proklamasi. Setelah Soekarno menyelesaikan rumusan teks sekitar pukul 04.00 WIB pada 17 Agustus 1945, naskah tersebut kemudian diberikan kepada para pemuda yang berada di rumahnya di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta.

Naskah tulisan tangan itu kemudian diketik oleh Sayuti Melik. Setelah selesai mengetik, naskah tulisan tangan Soekarno disebut sempat diremas dan dibuang karena dianggap sudah tidak diperlukan lagi. Kisah tersebut disampaikan Andaryoko Wisnuprabu, pria yang mengaku sebagai tokoh pemberontakan Pembela Tanah Air (PETA) Supriyadi, pada 2008 silam.

"Usai mengetik, Melik meremas-remas naskah (teks proklamasi yang ditulis Bung Karno) itu. Dia pikir kertas itu tidak diperlukan lagi, karena sudah ada naskah ketikan. Naskah itu dibuang ke tempat sampah," kata Andaryoko.

Beruntung, wartawan BM Diah menemukan dan menyelamatkan naskah tersebut. Dokumen tulisan tangan itu kemudian disimpan BM Diah selama 47 tahun sebelum diserahkan kepada Museum Arsip Nasional pada 1992. Dengan begitu, salah satu bukti autentik proses lahirnya teks Proklamasi tetap dapat disaksikan hingga sekarang.

2. Proklamasi Dibacakan Saat Bulan Ramadan

Proklamasi dibacakan saat Ramadan/ Foto: Perpustakaan Nasional

Beauties, hari kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945 ternyata bertepatan dengan Jumat, 9 Ramadan 1364 Hijriah. Pada pagi hari sekitar pukul 10.00 WIB, Soekarno membacakan teks Proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta, ketika umat Islam di Indonesia sedang menjalankan ibadah puasa Ramadan.

Hal menarik lainnya terjadi beberapa jam sebelum pembacaan. Rumusan Proklamasi disusun pada dini hari di rumah Laksamana Tadashi Maeda. Soekarno, Mohammad Hatta, dan Achmad Soebardjo merumuskan teks tersebut dalam suasana yang berlangsung hingga menjelang waktu sahur.

3. Suara Pembacaan Proklamasi Ternyata Rekaman Ulang

Pembacaan proklamasi direkam ulang/ Foto: penasoekarno

Selama ini, suara Soekarno ketika membacakan teks Proklamasi mungkin terasa seperti rekaman langsung dari Jalan Pegangsaan Timur. Namun, ternyata suara yang sering didengar masyarakat tersebut merupakan hasil rekaman ulang.

Pada 17 Agustus 1945, belum tersedia perangkat yang memungkinkan pembacaan Proklamasi direkam dengan kualitas seperti yang dikenal saat ini. Tidak ada peralatan siaran atau perekam suara yang mendokumentasikan pembacaan Proklamasi secara langsung di lokasi.

Rekaman suara Soekarno baru dibuat sekitar enam tahun kemudian di studio Radio Republik Indonesia (RRI). Rekaman ulang tersebut dilakukan atas inisiatif Jusuf Ronodipuro, salah satu tokoh penting dalam sejarah penyiaran Indonesia.

Menariknya, Soekarno awalnya tidak langsung bersedia. Ia sempat menolak karena menganggap pembacaan Proklamasi merupakan peristiwa sakral yang hanya terjadi satu kali. Namun, setelah dibujuk agar generasi penerus tetap dapat mendengarkan suara pembacaan Proklamasi, Soekarno akhirnya bersedia membacakannya kembali.

4. Foto Proklamasi Pernah Disembunyikan di Bawah Pohon

Foto proklamasi pernah disembunyikan/ Foto: Frans Mendur

Selain teks dan suara, foto menjadi bagian penting dalam mengabadikan detik-detik kemerdekaan Indonesia. Salah satu fotografer yang mengabadikan momen tersebut adalah Frans Mendur, yang bersama BM Diah turut merekam berbagai peristiwa penting di sekitar Proklamasi.

Namun, hasil dokumentasi tersebut tidak serta-merta aman. Ketika Jepang masih berada dalam situasi pasca-kekalahan dan berusaha mempertahankan kontrol, dokumentasi terkait kemerdekaan Indonesia memiliki risiko untuk disita.

Frans Mendur kemudian mengambil langkah berani untuk menyelamatkan hasil jepretannya. Foto-foto tersebut disembunyikan dengan cara ditanam di bawah pohon di sekitar kantor Harian Asia Raja agar tidak ditemukan oleh tentara Jepang.

5. Kain Merah Putih untuk Bendera Didapat dari Pihak Jepang

Bendera merah putih/ Foto: Detik/Andhika Prasetia

Bendera Merah Putih yang dikibarkan saat Proklamasi juga memiliki kisah tersendiri, Beauties. Berdasarkan catatan Fatmawati dalam buku Catatan Kecil Bersama Bung Karno, kain katun berukuran 2×3 meter berwarna merah dan putih yang digunakan untuk membuat bendera diperoleh melalui bantuan Hitoshi Shimizu, seorang perwira atau pimpinan Barisan Propaganda Jepang.

Shimizu kemudian memerintahkan perwira muda bernama Chairul Basri untuk mencari dan mengambil kain merah putih tersebut sebagai persiapan kemerdekaan. Kain yang telah diperoleh itu kemudian menjadi bahan untuk bendera yang dijahit langsung oleh Fatmawati.

Proses menjahitnya dilakukan pada Oktober 1944 di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta. Saat itu, Fatmawati sedang mengandung anak sulungnya, Guntur Soekarnoputra. 

Jadi, itulah beberapa fakta proklamasi kemerdekaan Indonesia. Momen ini bukan sekadar pembacaan teks selama beberapa menit, namun di baliknya terdapat rangkaian cerita tentang keberanian, kecermatan, hingga upaya menyelamatkan berbagai bukti sejarah agar tidak hilang.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(ria/ria)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE