5 Hal yang Perlu Kamu Hindari saat Silaturahmi Lebaran ke Rumah Calon Mertua

Gayuh Tri Pinjungwati | Beautynesia
Jumat, 20 Mar 2026 15:00 WIB
2. Tak Perlu Menjawab Semua Pertanyaan
Tak Perlu Menjawab Semua Pertanyaan/Foto: Pexels.com/ Monstera Production

Lebaran selalu identik dengan silaturahmi. Dari rumah saudara, teman lama, sampai tetangga yang jarang bertemu. Tapi ada satu momen yang rasanya beda, yaitu silaturahmi ke rumah calon mertua. Ini bisa jadi pengalaman yang campur aduk, antara senang, gugup, dan penuh harap.

Datang ke rumah calon mertua saat Lebaran bukan sekadar berkunjung biasa. Ada perasaan ingin meninggalkan kesan baik, ingin terlihat sopan, hangat, dan pantas menjadi bagian dari keluarga mereka. Apalagi kalau ini pertama kalinya kamu berkunjung di momen spesial seperti hari raya. Rasanya seperti ujian kecil, ya?

Momen ini bukan sekadar kunjungan biasa, tapi juga langkah kecil untuk membangun hubungan yang lebih serius. Supaya semuanya berjalan lancar, ada beberapa hal yang sebaiknya kamu hindari. Melansir dari CNN Indonesia, berikut beberapa hal yang perlu kamu hindari saat silaturahmi ke rumah calon mertua. 

1. Jangan Larut pada Topik Pembicaraan yang Serius

Jangan Larut pada Topik Pembicaraan yang Serius/Foto: Pexels.com/ Kindel Media

Lebaran pada dasarnya adalah momen hangat. Suasananya identik dengan maaf-maafan, tawa ringan, dan obrolan santai ditemani kue kering. Jadi, kalau pembicaraan tiba-tiba berubah jadi terlalu serius, misalnya membahas detail rencana pernikahan, urusan finansial, perbedaan prinsip hidup, atau bahkan topik sensitif keluarga, suasana bisa jadi canggung tanpa disadari.

Bukan berarti topik serius itu tabu. Hanya saja, waktu dan tempatnya perlu diperhatikan. Saat suasana masih perkenalan atau kumpul keluarga besar, sebaiknya jaga obrolan tetap ringan. Kamu bisa mengalihkan pembicaraan ke hal-hal yang lebih santai seperti tradisi Lebaran keluarga mereka, makanan favorit, cerita masa kecil pasangan, atau pengalaman lucu selama puasa.

2. Tak Perlu Menjawab Semua Pertanyaan

Tak Perlu Menjawab Semua Pertanyaan/Foto: Pexels.com/ Monstera Production

Ya, tidak semua pertanyaan wajib dijawab panjang lebar. Apalagi saat suasana Lebaran biasanya ramai dengan keluarga besar. Pertanyaan yang muncul bisa beragam, mulai dari yang ringan sampai yang cukup sensitif. 

Kadang, niat mereka sebenarnya sederhana, sekadar ingin tahu atau membuka obrolan. Tapi bukan berarti kamu harus memberikan jawaban detail yang membuatmu tidak nyaman. Kamu tetap berhak menjaga batasan. Salah satu cara elegan adalah menjawab secukupnya. Tidak perlu terlalu panjang, tidak perlu terlalu defensif. 

Ingat, menjaga batas bukan berarti tidak sopan. Justru itu tanda kamu tahu bagaimana menghargai diri sendiri. Sebagai perempuan dewasa, kamu berhak menentukan mana yang ingin dibagikan dan mana yang ingin disimpan. Lebaran adalah momen kebersamaan, bukan sesi wawancara mendalam tentang hidupmu.

3. Jangan Asik Main Ponsel saat Ngobrol

Jangan Asik Main Ponsel saat Ngobrol/Foto: Pexels.com/ Anastasia Shuraeva

Kelihatannya sepele, tapi dampaknya bisa besar. Saat kamu sibuk menatap layar, orang di depanmu bisa merasa kurang dihargai. Padahal, momen Lebaran identik dengan kebersamaan dan tatap muka langsung. Calon mertua mungkin ingin mengenalmu lebih dekat, melihat caramu berbicara, tersenyum, dan menanggapi cerita mereka. Kalau perhatianmu terbagi dengan notifikasi yang terus berbunyi, kesan hangat itu bisa berkurang.

Memang tidak bisa dipungkiri, ada saja pesan penting yang masuk. Entah dari atasan, klien, atau grup keluarga yang ramai. Tapi kamu tetap bisa mengaturnya. Sebelum masuk rumah, coba atur ponsel ke mode senyap atau getar. Simpan di tas, bukan di genggaman. Dengan begitu, kamu tidak tergoda untuk mengecek layar setiap beberapa menit.

4. Jangan Terlihat Cuek

Jangan Terlihat Cuek/Foto: Pexels.com/ PNW Production

Bersikap cuek bukan berarti kamu tidak peduli. Kadang justru itu mekanisme pertahanan diri karena gugup atau merasa tidak nyaman. Kamu mungkin memilih diam, duduk manis, dan berbicara seperlunya supaya tidak salah. Tapi kalau terlalu pasif, kesannya bisa berbeda di mata keluarga pasangan. Mereka mungkin mengira kamu kurang tertarik atau kurang antusias.

Sebagai perempuan yang sudah punya banyak pengalaman sosial, kamu sebenarnya punya modal besar untuk bersikap hangat. Tidak perlu jadi orang yang paling cerewet di ruangan, cukup tunjukkan ketertarikan. Misalnya dengan tersenyum, menanggapi cerita, atau sesekali mengajukan pertanyaan ringan. Hal-hal kecil seperti ini membuat suasana terasa lebih cair.

5. Jangan Bertingkah Layaknya Tamu yang Harus Dilayani

Jangan Bertingkah Layaknya Tamu yang Harus Dilayani/Foto: Pexels.com/ Alfatah Bilal Afdam

Memang benar, secara posisi kamu adalah tamu. Tapi dalam konteks hubungan yang sedang menuju ke jenjang lebih serius, sikapmu mencerminkan kesiapan untuk menjadi bagian dari keluarga tersebut. Jika kamu hanya duduk manis, menunggu disuguhi makanan, dan tidak menunjukkan inisiatif, kesannya bisa kurang hangat.

Bagi perempuan yang sudah terbiasa mandiri, sebenarnya hal ini bukan sesuatu yang sulit. Kuncinya adalah peka. Saat melihat calon ibu mertua bolak-balik ke dapur membawa hidangan, kamu bisa menawarkan bantuan. Tidak perlu langsung mengambil alih semuanya, cukup berkata, “Boleh saya bantu, Tante?” Kalimat sederhana ini sudah menunjukkan niat baik.

Ingat, yang paling diingat bukanlah seberapa sempurna penampilanmu, tapi bagaimana kamu membuat orang lain merasa dihargai dan nyaman. Senyum hangat, sikap sopan, dan ketulusan jauh lebih berarti daripada kesan yang dibuat-buat.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE