5 Kalimat yang Sering Diucapkan Orang Tua Childish untuk Meremehkan Anaknya

Florence Febriani Susanto | Beautynesia
Rabu, 02 Sep 2026 19:30 WIB
“Kamu Nggak Tahu Apa yang Kamu Bicarakan”
Suka Merendahkan/Foto: Magnific

Sebagai orang tua, kamu mungkin masih belajar memahami kebutuhan emosional anak. Karena itu, mengenali kalimat yang sering diucapkan orangtua childish bisa membantu kamu menghindari komunikasi yang tanpa sadar menyakiti.

Anak memang membutuhkan arahan, tetapi bukan berarti setiap kesalahan harus dibalas dengan ucapan yang meremehkan. Apalagi ketika anak mulai besar, cara kamu berbicara dapat memengaruhi rasa percaya dirinya serta hubungan kalian ke depannya. Dilansir dari Your Tango, ini daftar kalimatnya!

“Dulu Waktu Seumuran Kamu, Ayah/Ibu Lebih Susah”

Suka Membandingkan/Foto: Magnific

Pernah merasa ingin mengatakan ini ketika anak mengeluhkan masalahnya? Sebaiknya tahan sebentar, karena pengalaman sulit yang kamu lalui tidak otomatis membuat masalah anak menjadi sepele.

Anak membutuhkan ruang untuk bercerita tanpa merasa harus membuktikan bahwa masalahnya cukup berat. Menurut para ahli dari Lartney Wellness Group, orang tua sebaiknya mendengarkan dan memvalidasi ketidaknyamanan anak tanpa mengatakan bahwa kehidupannya lebih mudah.

Jadi, daripada membandingkan pengalaman, kamu bisa mengatakan, “Ibu mungkin belum memahami semuanya, tetapi mama mau mendengarkan.” Kalimat sederhana tersebut membuat anak merasa didengar sekaligus tetap membuka ruang untuk memberikan nasihat.

“Kamu Nggak Tahu Apa yang Kamu Bicarakan”

Suka Merendahkan/Foto: Magnific

Ketika anak mulai memiliki pendapat sendiri, kamu mungkin merasa pendapat tersebut keliru. Namun, langsung menganggapnya tidak tahu apa-apa justru dapat membuat anak takut menyampaikan pikirannya.

Anak yang beranjak dewasa memang membutuhkan arahan, tetapi mereka juga perlu belajar mengambil keputusan. Daripada mematahkan pendapatnya, coba tanyakan alasan di balik pilihannya dan diskusikan risikonya bersama.

Dengan begitu, kamu tetap menjalankan peran sebagai orangtua tanpa membuat anak merasa selalu bergantung pada keputusanmu. Ini juga membantu membangun hubungan yang lebih terbuka ketika anak semakin dewasa.

“Kamu Berlebihan Banget”

Ilustrasi orang tua memaharahi anak

Mengabaikan Emosi Anak/Foto: magnific.com/magnific

Menurut psikolog Harvard, Dr. Cortney Warren, orang tua dengan kecenderungan narsistik dapat menggunakan ucapan seperti ini untuk mengabaikan atau membatalkan emosi anak.

Sebagai orangtua, kamu tidak harus langsung menyelesaikan masalah ketika anak sedang kesal. Terkadang, mereka hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan tanpa menghakimi.

Kamu bisa mengatakan, “Ibu mengerti kamu sedang kesal, tetapi kita cari solusinya bersama.” Dengan begitu, anak belajar bahwa emosinya boleh dirasakan sekaligus tetap perlu dikelola.

“Itu Nggak Terjadi Seperti yang Kamu Ceritakan”

Tidak Percaya dengan Anak/Foto: Magnific

Ketika anak menceritakan pengalaman masa kecil yang menyakitkan, mungkin kamu memiliki ingatan berbeda. Namun, perbedaan ingatan tidak berarti pengalaman emosional anak otomatis salah.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam Psychology and Aging menunjukkan bahwa ketegangan orang tua-anak di kemudian hari dapat berkaitan dengan percakapan tidak sehat mengenai pengalaman masa kecil dan trauma.

Karena itu, cobalah mendengarkan terlebih dahulu sebelum membantah. Kamu tidak harus mengakui sesuatu yang tidak kamu ingat, tetapi tetap dapat mengakui bahwa pengalaman tersebut terasa nyata bagi anak.

“Kan, Sudah Ayah/Ibu Bilang!”

Merasa Paling Benar/Foto: Magnific

Saat prediksi kamu benar dan anak akhirnya mengalami masalah, rasanya memang sulit menahan ucapan tersebut. Namun, momen itu sebenarnya bisa menjadi kesempatan untuk menunjukkan bahwa rumah tetap menjadi tempat aman ketika anak melakukan kesalahan.

Terapis Patricia Morgan menyarankan agar orang tua menghindari sikap ini karena pola tersebut dapat mengganggu kepercayaan dan pemahaman dalam hubungan. Jadi, daripada berkata, “Tuh, kan, sudah dibilang,” coba tanyakan, “Menurut kamu, apa yang bisa kita pelajari dari kejadian ini?” Dengan begitu, kamu tetap dapat mengajarkan konsekuensi tanpa membuat anak merasa dipermalukan.

Menjadi orang tua tidak berarti kamu harus selalu punya jawaban paling benar. Justru, kemampuan mendengarkan dan mengakui perasaan anak dapat membantu membangun hubungan yang lebih aman.

Jadi, ketika menyadari ada kalimat yang sering diucapkan orang tua childish dalam kebiasaan kamu, jangan langsung menyalahkan diri sendiri. Gunakan kesadaran tersebut sebagai kesempatan untuk memperbaiki cara berkomunikasi dengan anak.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.