5 Kebiasaan di Tempat Kerja yang Sering Dikira Profesional, Padahal Bisa Jadi Tanda Kecemasan

Retno Anggraini | Beautynesia
Senin, 02 Nov 2026 16:30 WIB
5 Kebiasaan di Tempat Kerja yang Sering Dikira Profesional, Padahal Bisa Jadi Tanda Kecemasan
Kebiasaan di Tempat Kerja yang Sering Dikira Profesional, Padahal Bisa Jadi Tanda Kecemasan/Foto: Pexels.com/cottonbro studio

Bekerja di kantor sering kali menuntut kita untuk selalu tampil sempurna, sigap, dan bisa diandalkan dalam situasi apa pun. Tidak jarang, beberapa kebiasaan di tempat kerja dianggap sebagai cerminan etos kerja yang tinggi atau profesionalisme kelas atas oleh rekan kerja dan atasan.

Namun, ada kalanya aktivitas tersebut berakar dari rasa cemas yang tersembunyi jauh di dalam diri. Terapis dan psikolog klinis mengungkapkan bahwa setiap kecemasan di tempat kerja pada dasarnya berakar dari rasa takut. Melansir dari HuffPost, berikut 5 kebiasaan di tempat kerja yang sering kali disalahartikan sebagai bentuk profesionalisme.

1. Perfeksionisme

Perfeksionisme merupakan salah satu kebiasaan di tempat kerja yang sering dipandang sebagai keunggulan karena berkaitan dengan ketelitian dan standar kerja tinggi.
Perfeksionisme, kebiasaan di tempat kerja yang jadi tanda kecemasan/Foto: Pexels.com/Ron Lach

Perfeksionisme sering kali dielu-elukan sebagai nilai tambah, bahkan menjadi jawaban klise yang paling sering diucapkan kandidat saat wawancara kerja. Memiliki standar tinggi untuk diri sendiri maupun orang lain dianggap sebagai bentuk dedikasi yang wajar di lingkungan profesional.

Namun, perfeksionisme sejatinya adalah salah satu bentuk kecemasan yang paling kentara. Nikki Lacherza-Drew, seorang psikolog berlisensi, menjelaskan bahwa sifat ini erat kaitannya dengan kebutuhan untuk mengendalikan situasi serta ketakutan terhadap kegagalan.

Perfeksionisme ekstrem bukanlah cerminan profesionalisme sejati, melainkan topeng dari rasa takut gagal dan rendah diri. Ketika kita memaksakan standar yang tidak masuk akal kepada rekan setim, kita justru menciptakan lingkungan yang toksik dan membuat diri kita sendiri kelelahan. Ironisnya, perfeksionisme mustahil dicapai, sehingga membuat kita justru menjemput kegagalan yang selama ini ditakuti.

2. Terlalu Sering Menyetujui Segala Hal

People pleasing, kebiasaan di tempat kerja yang jadi tanda kecemasan/Foto: Pexels.com/Yan Krukau

Menjadi sosok yang selalu siap sedia membantu rekan kerja tentu membuat kita disukai satu kantor. Namun, ada batasan tipis antara menjadi team player yang baik dan menjadi seorang people pleaser yang mengorbankan kewarasan diri sendiri.

Shannon Garcia, seorang psikoterapis dari States of Wellness Counseling, memaparkan bahwa kebiasaan di tempat kerja ini berakar dari ketakutan mendalam terhadap penilaian orang lain. Kita merasa cemas jika menolak permintaan rekan kerja akan membuat rekan kerja marah, membenci kita, atau menganggap kita tidak lagi bisa diandalkan.

Menjadi seorang people pleaser mengikis batasan personal dan memicu kecemasan berkepanjangan. Kecemasan mendorong kita untuk menyenangkan orang lain meski energi dan waktu kita sudah habis terkuras. Mulailah belajar menetapkan batasan waktu yang tegas serta meninjau ulang setiap kata "ya" yang hendak kita ucapkan.

3. Terus Menunda Pekerjaan

Menunda pekerjaan sering dianggap sebagai tanda kurang disiplin. Kebiasaan di tempat kerja ini juga bisa berkaitan dengan kecemasan ketika merasa takut menghadapi tugas sulit, percakapan yang tidak nyaman, atau kemungkinan melakukan kesalahan.
Terus menunda pekerjaan, kebiasaan di tempat kerja yang jadi tanda kecemasan/Foto: Pexels.com/Pavel Danilyuk

Mendapatkan tugas atau proyek baru terkadang langsung memicu rasa sesak di dada, yang berujung pada dorongan kuat untuk menunda-nundanya. Menghindari situasi atau tugas yang terasa berat di kantor sering kali disalahartikan sebagai kemalasan biasa.

Perilaku menunda-nunda ini merupakan manifestasi nyata dari kecemasan yang sedang mengambil alih kendali diri kita. Garcia menjelaskan bahwa kecemasan membuat seseorang cenderung menghindari berbagai hal yang memicu ketidaknyamanan, mulai dari menghindari ruang istirahat karena takut bersosialisasi, sengaja memutar jalan agar tidak melewati kubikel rekan kerja tertentu, hingga enggan mengajukan diri naik jabatan.

Kebiasaan di tempat kerja berupa penundaan tugas ini justru menjadi lingkaran yang memperparah kecemasan itu sendiri. Kecemasan sangat menyukai penghindaran karena penghindaran hanya memberi ketenangan sesaat sebelum beban mental melompat lebih besar.

Untuk memutus rantai ini, cobalah untuk memecah proyek besar menjadi bagian-bagian kecil yang lebih mudah dikelola. Ketika sebuah tugas besar diurai menjadi langkah-langkah mikro, otak kita tidak akan merasa kewalahan dan akan menyadari bahwa kita mampu menyelesaikannya satu per satu.

4. Mengontrol Berlebihan

Mengontrol berlebihan, kebiasaan di tempat kerja yang jadi tanda kecemasan/Foto: Pexels.com/Mikhail Nilov

Sifat cemas yang bergejolak di dalam diri seseorang juga kerap termanifestasi dalam bentuk micromanagement atau kebiasaan mengontrol setiap detail terkecil dari pekerjaan orang lain. Mirip dengan seorang perfeksionis, seorang micromanager merasa harus memegang kendali penuh atas segala hal agar hasilnya sesuai dengan standar.

Tanisha Ranger, seorang psikolog klinis yang berbasis di Nevada, mengungkapkan bahwa dorongan ini muncul karena kecemasan internal yang hebat akan perasaan bahwa jika kita tidak turun tangan langsung, pekerjaan tersebut pasti akan berantakan dan pada akhirnya nama baik kita sendiri yang akan tercemar.

Kebiasaan di tempat kerja ini sering kali berakar dari trauma masa lalu atau rasa tidak berdaya yang terbawa hingga dewasa. Ketika merasa situasi mulai tidak terkendali, kita meresponsnya dengan mengontrol lingkungan sekitar secara berlebihan. Sebelum memutuskan untuk memeriksa ulang pekerjaan rekan setim karena rasa cemas kita, cobalah menanyakan beberapa hal mendasar pada diri sendiri.

Tanyakan apakah rekam jejak karyawan tersebut bagus, apakah selalu tepat waktu, dan apakah karyawan tersebut sudah memahami tugasnya dengan baik sebelum kita memutuskan untuk ikut campur.

5. Selalu Menyibukkan Diri

Selalu menyibukkan diri di tempat kerja sering menjadi pelindung psikologis dari kecemasan tersembunyi dan patut dievaluasi.
Selalu menyibukkan diri, kebiasaan di tempat kerja yang jadi tanda kecemasan/Foto: Pexels.com/Felicity Tai

Terjebak dalam siklus kesibukan tiada henti sering kali dianggap sebagai lambang produktivitas yang luar biasa di era modern. Orang yang selalu sibuk, jarang istirahat, dan mengejar hustle culture kerap dianggap sebagai pekerja paling loyal dan profesional.

Namun, Lacherza-Drew menekankan bahwa sifat dan kepribadian manusia berada dalam sebuah spektrum yang luas. Kesibukan yang dipaksakan terus-menerus tanpa jeda terkadang menjadi cara bawah sadar seseorang untuk melarikan diri dari rasa cemas atau perasaan hampa yang mengintai di balik layar.

Menjadi karyawan yang teliti dan bertanggung jawab tentu merupakan hal yang positif. Namun, jangan sampai kebiasaan di tempat kerja yang terlihat profesional justru membuat kita terus hidup dalam ketakutan akan kesalahan, penolakan, atau penilaian orang lain. Yuk, mulai bangun kebiasaan kerja yang tidak hanya membuat kita terlihat profesional, tetapi juga membantu kita merasa lebih tenang dan nyaman dalam menjalani hari!

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE