Setelah lama ditunggu, Warner Bros dan Mattel akhirnya resmi merilis film Barbie yang dibintangi oleh Margot Robbie (Barbie) dan Ryan Gosling (Ken). Film yang disutradarai oleh Greta Gerwig ini sontak menjadi perhatian, salah satunya karena mengangkat tema feminism dengan sangat dalam.
Terlepas dari kehidupannya yang digambarkan glamor dan bisa menjadi apapun di Barbieland, ternyata banyak rintangan yang harus dijalani Barbie dengan titel perempuan. Penasaran?
Berikut ulasannya sebagaimana dilansir dari berbagai sumber.
1. Perempuan Tak Selalu Soal Kesempurnaan Fisik
Cuplikan Film Barbie/Foto: Warner Bros. Pictures |
Sejak muncul tahun 1959, dilansir dari Huffpost, Barbie digambarkan sebagai sosok berkulit putih, berambut blonde, dan tampak sempurna dengan kaki jinjitnya di atas high heels. Hal itu sesuai dengan yang ditampilkan oleh Margot Robbie.
Namun dalam film rekaan Greta Gerwig, Barbie bukan satu-satunya perempuan di Barbieland. Di dunia tersebut tinggal banyak Barbie lain yang memiliki keragaman bentuk fisik. Ada yang berkulit gelap, rambut hitam, tubuh berisi, bahkan ada yang duduk di atas kursi roda.
Gambaran ini seolah menegaskan bahwa setiap perempuan memiliki kecantikannya sendiri dan tak selalu soal fisik yang sempurna. Padahal, selama ini Barbie dianggap membuat banyak perempuan menerapkan standar kecantikan yang salah sehingga tak menghargai diri sendiri.
2. Kehidupan Nyata Tak Seindah di Barbieland
Cuplikan Film Barbie/Foto: Warner Bros. Pictures |
Masih ingat lagu “Barbie Girl” yang dipopulerkan grup musik Aqua pada tahun 1990an? Disebutkan bahwa kehidupan Barbie dalam plastik memang fantastis. Dalam film ini pun, para Barbie bisa menjadi apa pun yang mereka inginkan. Mereka bisa memiliki rumah impian, menjalani profesi apapun yang diinginkan, punya sahabat dekat, dan berbagai kesempurnaan hidup lainnya.
Namun Greta Gerwig menyajikan fakta bahwa kehidupan perempuan nyatanya tak seindah harapan. Ketika Barbie dikirim ke dunia nyata, dia melihat banyak hal mengejutkan di depan matanya. Perempuan seperti dirinya nyatanya tak selalu diperlakukan baik. Bahkan beberapa orang menganggap kehadirannya sebagai bencana.
Selain itu, America Ferrera yang berperan sebagai Gloria, seorang ibu, perempuan bekerja, sekaligus pecinta Barbie, juga menampilkan scene cukup menyentuh. Dia menunjukkan betapa beratnya kehidupan yang dipikulnya sebagai perempuan.
3. Fenomena Pelecehan pada Perempuan
Cuplikan Film Barbie/Foto: Warner Bros. Pictures |
Saat Barbie baru saja hadir ke dunia nyata, dia tampak berjalan bersama Ken di tempat umum. Namun alih-alih menjadi momen menyenangkan, dia justru menjadi perhatian publik dan mendapat perilaku pelecehan seksual.
Setelah menjadi korban catcalling, seorang pria bahkan dengan sengaja menepuk bagian tubuhnya. Barbie langsung memukul pria tersebut, namun malah dirinya yang ditangkap polisi. Sementara Barbie merasa tidak nyaman, Ken justru menikmati semua perhatian publik kepadanya.