5 Rekomendasi Novel Heartwarming tentang Sisterhood yang Bikin Haru
Beauties, hubungan antara kakak-adik perempuan punya dinamika yang unik, bukan? Kadang kamu bisa jadi sahabat terbaik, kadang bisa jadi musuh bebuyutan, tapi satu hal yang pasti, yaitu ikatan darah nggak bisa diputus begitu saja. Nah, hubungan yang kompleks ini sering banget jadi tema menarik dalam novel, mengeksplorasi cinta, pengorbanan, persaingan, dan kekuatan ikatan keluarga.
Novel-novel tentang persaudaraan perempuan ini nggak cuma sekadar kisah dua perempuan yang kebetulan punya orang tua yang sama. Mereka mengeksplorasi bagaimana kepribadian yang berbeda bisa bertabrakan namun saling melengkapi, bagaimana trauma masa kecil membentuk hubungan dewasa, dan bagaimana cinta antar saudara bisa bertahan melewati jarak, waktu, bahkan kematian. Simak rekomendasinya, yuk!
1. The Vanishing Half - Brit Bennett
Novel kedua Brit Bennett ini adalah kisah keluarga lintas generasi yang brilian tentang kembar identik Vignes, Stella dan Desiree. Mereka tumbuh di Mallard, Louisiana tahun 1950-an, sebuah kota kecil yang didirikan oleh mantan budak yang hanya menerima orang berkulit terang. Pada usia 16 tahun, kedua kembar ini kabur dari rumah bersama-sama.
Namun, pilihan hidup mereka sangat berbeda. Stella memutuskan untuk berpura-pura sebagai orang kulit putih, menikah dengan pria yang nggak tahu apa pun tentang masa lalunya, dan hidup dalam kebohongan konstan. Sementara Desiree kembali ke Mallard dengan putrinya yang berkulit gelap setelah melarikan diri dari suami yang kasar, hidup dengan identitas aslinya meski penuh perjuangan.
Bennett dengan brilian mengeksplorasi tema diskriminasi warna kulit dan harga yang harus dibayar untuk identitas baru. The Vanishing Half adalah perenungan yang kuat tentang bagaimana masa lalu membentuk keputusan kita dan bagaimana ikatan darah tetap ada meski terpisah jarak dan kebohongan.
2. The Nightingale - Kristin Hannah
The Nightingale - Kristin Hannah/ Foto: goodreads.com
Novel yang mengharukan karya Kristin Hannah ini berlatar Perang Dunia II dan mengikuti dua kakak beradik, Vianne dan Isabelle Rossignol. Mereka terpisah oleh perbedaan usia dan pengalaman, punya idealisme dan semangat yang sangat berbeda, tapi masing-masing memulai perjalanan berbahaya mereka sendiri menuju keselamatan, cinta, dan kebebasan di Prancis yang diduduki Jerman.
Vianne, kakak yang lebih tua, bersikap hati-hati dan patuh pada aturan, mencoba melindungi putrinya dan mempertahankan kehidupan normal di desa kecil Carriveau. Ketika seorang kapten Jerman mengambil alih rumahnya, dia dan putrinya harus hidup dengan musuh atau kehilangan segalanya. Tanpa makanan, uang, atau harapan, Vianne terpaksa membuat pilihan-pilihan yang mustahil untuk menjaga keluarganya tetap hidup.
Isabelle, adik yang pemberontak dan berusia 18 tahun, mencari tujuan hidup dengan semua semangat masa muda yang nekat. Setelah bertemu Gaëtan, seorang partisan, dia jatuh cinta dan bergabung dengan perlawanan, nggak pernah menoleh ke belakang lagi. Dengan nama sandi "The Nightingale," Isabelle mempertaruhkan nyawanya berulang kali untuk menyelamatkan pilot-pilot Sekutu yang ditembak jatuh, membawa mereka melewati Pyrenees ke Spanyol.
Novel ini adalah perayaan ketahanan dan kekuatan perempuan. Hannah dengan brilian menunjukkan bahwa tindakan heroik nggak cuma terjadi di medan perang, tapi juga di dapur dan toko buku. Kedua kakak beradik ini menemukan keberanian mereka sendiri melalui jalan yang berbeda, dan pembaca akan merasakan emosi yang intens hingga halaman terakhir.
3. Little Women - Louisa May Alcott
Kisah klasik karya Louisa May Alcott yang diterbitkan lebih dari 150 tahun lalu ini masih beresonansi dengan pembaca modern. Novel ini mengikuti empat kakak beradik March. Meg yang tertua dan hampir menemukan cinta, Jo si tomboy yang ingin jadi penulis, Beth yang lembut dan selalu mendahulukan orang lain, dan Amy si bungsu yang cerdas.
Berlatar di New England selama Perang Saudara Amerika, keempat kakak beradik ini tumbuh dalam kemiskinan karena ayah mereka pergi berperang. Meski uang terbatas dan masa-masa sulit, semangat mereka yang menular membawa semua orang dalam petualangan mereka, termasuk Laurie, tetangga laki-laki mereka. Melalui pertengkaran antarsaudara, saat-saat bahagia dan sedih, mereka menemukan bahwa tumbuh dewasa kadang sangat sulit dilakukan.
Alcott menangkap dinamika persaudaraan dengan jujur. Keempat kakak beradik punya kepribadian dan prioritas yang sangat berbeda. Mereka bertengkar, cemburu satu sama lain, tapi di akhir mereka saling mencintai dan mendukung. Novel ini mengeksplorasi tema-tema yang tak lekang waktu seperti cinta dan kematian, perang dan perdamaian, konflik antara ambisi pribadi dan tanggung jawab keluarga.
Alcott sendiri mendasarkan Little Women pada kehidupan awalnya dengan tiga saudara perempuannya. Novel ini nggak cuma sekadar "buku untuk anak perempuan" seperti yang diminta penerbitnya, tapi eksplorasi mendalam tentang kewanitaan, ambisi, dan pengorbanan yang tetap relevan hingga sekarang.
4. My Sister's Keeper - Jodi Picoult
My Sister's Keeper - Jodi Picoult/ Foto: goodreads.com
Novel yang sangat mengharukan dari Jodi Picoult ini menceritakan Anna Fitzgerald, seorang gadis berusia 13 tahun yang menuntut orang tuanya untuk mendapatkan kebebasan medis. Anna adalah hasil dari diagnosis genetik sebelum implantasi. Dia dikandung khusus sebagai pendonor sumsum tulang untuk kakaknya Kate yang menderita leukemia sejak kecil.
Sejak lahir, Anna telah menjalani operasi, transfusi, dan suntikan yang tak terhitung jumlahnya agar Kate bisa melawan leukemia. Tali pusar, darah, sumsum tulang, semuanya telah didonorkan. Anna nggak pernah mempertanyakan perannya ini sampai pada usia 13 tahun ketika diminta mendonorkan ginjalnya. Tiba-tiba, Anna menyewa pengacara Campbell Alexander dan membuat keputusan yang memungkinkannya menuntut hak atas tubuhnya sendiri.
Picoult menggunakan sudut padang yang beragam. Kita mendengar dari Anna, Kate, Jesse si kakak yang sering dilupakan, Sara si ibu yang putus asa menyelamatkan Kate, Brian si ayah yang terpecah antara kedua putrinya, dan Campbell si pengacara dengan masa lalu sendiri. Setiap karakter punya motivasi dan rasa sakit yang valid. Novel ini adalah pemeriksaan yang indah tentang cinta, pengorbanan, dan kompleksitas dinamika keluarga ketika menghadapi tragedi.
5. In the Time of the Butterflies - Julia Alvarez
Novel fiksi sejarah yang kuat ini berdasarkan kisah nyata dari empat kakak beradik Mirabal, yaitu Patria, Minerva, María Teresa, dan Dedé, yang hidup di Republik Dominika selama kediktatoran brutal Rafael Trujillo di tahun 1960-an. Tiga dari empat kakak beradik ini menjadi pahlawan revolusioner yang dikenal sebagai "Las Mariposas" atau "The Butterflies."
Alvarez menggunakan perspektif keempat kakak beradik untuk menceritakan mengapa mereka akhirnya merencanakan perlawanan terhadap kediktatoran Trujillo dan bagaimana tiga dari mereka dibunuh pada 1960. Setiap kakak beradik punya alasan berbeda untuk bergabung dengan perlawanan. Minerva adalah yang paling politis dan pemberontak. Patria menemukan semangat revolusionernya melalui iman. María Teresa bergabung karena cinta pada kakak-kakaknya dan kemarahan terhadap ketidakadilan. Dedé, satu-satunya yang bertahan hidup, harus hidup dengan rasa bersalah dan tanggung jawab untuk menceritakan kisah mereka.
Melalui novel ini, Alvarez menunjukkan bahwa keberanian datang dalam bentuk yang berbeda. Keberanian Dedé untuk tetap hidup dan bercerita sama kuatnya dengan keberanian Minerva untuk berjuang. Novel ini adalah pengingat bahwa persaudaraan bisa jadi sumber kekuatan terbesar bahkan di masa paling gelap.
***
Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!