5 Tanda Kamu Terlalu Takut Merepotkan Orang Lain Menurut Ilmu Psikologi

Norma Rini | Beautynesia
Jumat, 03 Jul 2026 12:00 WIB
2. Sering Mengatakan “Aku Nggak Apa-Apa” Padahal Sedang Kesulitan
Perempuan tersenyum meski sedang menyembunyikan kesulitan yang dialami/Foto: pexels.com/Matheus Bertelli

Beauties, pernah merasa sangat sulit meminta bantuan, bahkan ketika kamu benar-benar membutuhkannya?

Misalnya saat pekerjaan menumpuk, kamu tetap memilih mengerjakannya sendiri. Atau ketika sedang sedih dan membutuhkan teman bicara, kamu justru berkata, “Nggak apa-apa kok, aku bisa sendiri.”

Sekilas, sikap seperti ini terlihat mandiri dan dewasa. Namun menurut psikologi, ketakutan berlebihan untuk merepotkan orang lain tidak selalu berasal dari kemandirian. Dalam beberapa kasus, hal tersebut justru berkaitan dengan rasa tidak enak yang berlebihan, kecemasan sosial, atau keyakinan bahwa kebutuhan diri sendiri tidak sepenting kebutuhan orang lain.

Psikolog klinis Dr. Ellen Hendriksen menjelaskan bahwa banyak orang yang takut menjadi beban bagi orang lain karena khawatir dianggap merepotkan, ditolak, atau dinilai negatif oleh lingkungan sekitar. Jika terus dibiarkan, kebiasaan ini bisa membuat seseorang merasa kesepian, kelelahan secara emosional, dan sulit membangun hubungan yang sehat.

Nah, menurut ilmu psikologi, berikut beberapa tanda bahwa kamu mungkin terlalu takut merepotkan orang lain.

1. Selalu Berusaha Menyelesaikan Semua Hal Sendirian

Perempuan terlihat menahan diri untuk meminta bantuan saat menghadapi pekerjaan/Foto: pexels.com/Ron Lach

Beauties, mandiri memang merupakan kualitas yang positif. Namun, jika kamu merasa harus melakukan semuanya sendiri dalam situasi apa pun, bisa jadi ada alasan psikologis di baliknya.

Orang yang terlalu takut merepotkan orang lain sering merasa tidak nyaman saat meminta bantuan. Mereka khawatir dianggap tidak kompeten, lemah, atau menjadi beban bagi orang di sekitarnya.

Menurut psikolog sosial Heidi Grant, banyak orang menolak meminta bantuan karena terlalu fokus pada kemungkinan ditolak. Padahal sebagian besar orang sebenarnya senang ketika diberi kesempatan untuk membantu.

Akibatnya, mereka justru memikul beban yang seharusnya bisa dibagi bersama orang lain. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini berisiko memicu stres dan kelelahan emosional.

2. Sering Mengatakan “Aku Nggak Apa-Apa” Padahal Sedang Kesulitan

Perempuan tersenyum meski sedang menyembunyikan kesulitan yang dialami/Foto: pexels.com/Matheus Bertelli

Pernah tetap mengatakan baik-baik saja meskipun sebenarnya sedang kewalahan?

Bagi sebagian orang, mengungkapkan kesulitan terasa jauh lebih menakutkan daripada menghadapi masalah itu sendiri. Mereka khawatir orang lain akan merasa terganggu atau terbebani jika harus mendengarkan cerita mereka.

Melansir dari Verywell Mind, perilaku ini sering ditemukan pada individu yang memiliki kecenderungan people pleasing atau selalu berusaha membuat orang lain merasa nyaman, bahkan dengan mengorbankan kebutuhan diri sendiri.

Padahal hubungan antar manusia, baik pasangan ataupun pertemanan yang sehat seharusnya memberikan ruang bagi kedua pihak untuk saling berbagi dukungan, bukan hanya satu arah.

3. Terlalu Sering Meminta Maaf untuk Hal-Hal Kecil

Perempuan tampak meminta maaf berulang kali dalam percakapan/Foto: pexels.com/Pavel Danilyuk

Beauties, apakah kamu sering mengucapkan maaf bahkan untuk hal yang sebenarnya bukan kesalahanmu? Misalnya, meminta maaf karena bertanya, meminta bantuan, atau sekadar mengirim pesan kepada teman.

Menurut psikolog Harriet Lerner, kebiasaan meminta maaf secara berlebihan sering muncul karena seseorang merasa dirinya harus terus menjaga kenyamanan orang lain. Mereka takut dianggap mengganggu sehingga memilih meminta maaf terlebih dahulu.

Jika dilakukan terus-menerus, kebiasaan ini dapat memengaruhi rasa percaya diri karena tanpa sadar seseorang menempatkan dirinya pada posisi yang lebih rendah dibanding orang lain.

4. Sulit Mengungkapkan Apa yang Kamu Butuhkan

Perempuan terlihat ragu menyampaikan kebutuhan atau pendapatnya/Foto: pexels.com/Arif Syuhada

Menurut psikologi, kemampuan menyampaikan kebutuhan secara sehat merupakan bagian penting dari hubungan interpersonal yang baik.

Namun, orang yang terlalu takut merepotkan orang lain sering memilih diam. Mereka menganggap kebutuhan pribadi tidak sepenting kebutuhan orang lain atau merasa tidak berhak meminta perhatian.

Melansir dari Psychology Today menunjukkan bahwa banyak orang cenderung meremehkan seberapa besar dukungan sosial yang bisa mereka dapatkan ketika sedang membutuhkan bantuan. Akibatnya, mereka lebih sering menanggung beban sendiri dan merasa tidak dipahami oleh lingkungan sekitar. Padahal, orang lain tidak selalu bisa menebak apa yang kita rasakan jika kita tidak pernah mengungkapkannya.

5. Merasa Bersalah Setelah Meminta Bantuan

Perempuan merasa bersalah setelah meminta bantuan kepada teman/Foto: pexels.com/Mikhail Nilov

Tanda terakhir yang cukup umum adalah munculnya rasa bersalah setelah meminta bantuan atau menerima kebaikan dari orang lain. Alih-alih merasa terbantu, seseorang justru terus memikirkan apakah dirinya sudah terlalu merepotkan atau membuat orang lain tidak nyaman.

Sebuah penelitian dalam jurnal Psychological Science menemukan bahwa banyak orang cenderung salah memperkirakan respons orang lain saat menerima bantuan atau perhatian. Kita sering berpikir akan merepotkan atau membuat orang lain tidak nyaman, padahal mereka justru merasa lebih positif dan menghargai interaksi tersebut.

Jika kamu terus merasa menjadi beban meski orang lain tidak pernah mengatakan demikian, mungkin sudah saatnya mulai bertanya pada diri sendiri, apakah ketakutan itu benar-benar berasal dari orang lain, atau hanya dari asumsi yang selama ini kamu percayai?

Beauties, sesekali meminta bantuan bukan berarti kamu lemah atau merepotkan. Hubungan yang sehat justru dibangun melalui proses saling membantu dan saling mendukung. Baik hubungan dengan pasangan, keluarga, ataupun pertemanan.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(ria/ria)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE