5 Tanda Strict Parenting, Pengaruh ke Kepercayaan Diri Anak!

Patricia Astrid Nadia | Beautynesia
Selasa, 07 Apr 2026 17:15 WIB
2. Komunikasi Cenderung Satu Arah
Saat hanya ada komunikasi satu arah, di sini orangtua memposisikan dirinya lebih hebat dan punya kekuasaan dibanding anak. Anak akhirnya jadi membatasi diri berkomunikasi dengan orangtua/Foto: Freepik.com/Freepik

Ingin melihat anak tumbuh jadi sosok yang percaya diri tentu bukan hal yang instan. Kepribadian anak yang berani dan percaya diri dengan potensi yang mereka miliki perlu diimbangi dengan pola asuh yang tepat.

Namun, ketika orang tua lebih mendominasi dengan pola asuhan strict parenting yang terkesan kaku, hanya mengandalkan komunikasi satu arah, dan memiliki segudang aturan akan menghambat perkembangan psikologis anak. Pola asuh ini juga dikenal dengan istilah pola asuh otoriter.

Dikutip dari penelitian pola asuh dan psikologi dari Diana Baumrind, berikut ciri-ciri dari strict parenting yang harus kamu cermati, Beauties!

1.Tidak Ada Penjelasan tentang Aturan dan Hukuman yang Dibuat

Ketika orang tua membuat sebuah aturan dan memberikan hukuman pada anak, tentu perlu dilengkapi dengan penjelasan di balik alasan hukuman dan aturan itu perlu dijalankan. Dalam pola asuh yang strict, orang tua hanya memberikan perintah dan meminta anak mengikuti apa yang menurut pikiran dan pendapat orang tuanya sebagai suatu hal yang baik dan benar.

Alhasil, anak akan merasa mereka berada dalam suatu tekanan karena berada dalam paksaan, di mana ia harus mengikuti apa kata orang tua dan tidak memiliki kebebasan untuk bertanya, berpendapat, atau didengarkan tentang alasannya melakukan kesalahan tertentu.

Saat anak berada di posisi yang terus ditekan tanpa pilihan dan penjelasan, maka anak jadi takut untuk mencoba hal yang baru. Mungkin anak ingin punya inisiatif untuk memulai suatu hal, tapi memilih untuk diam, karena takut dimarahi atau mendapat hukuman hanya karena pendapatnya bertentangan dengan orang tua.

2. Komunikasi Cenderung Satu Arah

Saat hanya ada komunikasi satu arah, di sini orangtua memposisikan dirinya lebih hebat dan punya kekuasaan dibanding anak. Anak akhirnya jadi membatasi diri berkomunikasi dengan orangtua/Foto: Freepik.com/Freepik

Saat komunikasi hanya terjalin satu arah, ini mirip hubungan antara bos dengan anggota timnya. Ada kesenjangan yang besar. Hal ini akan membuat orang tua dan anak memiliki batasan atau jurang yang sangat luas. Anak menjadi enggan untuk bercerita, anak pun juga tidak berani untuk mengajak orang tua berdiskusi. Sekali pun diminta oleh orang tuanya untuk bercerita, mungkin anak hanya akan memilih cerita-cerita tertentu untuk diceritakan.

Ini mungkin sudah diprediksi oleh anak kalau nanti bercerita, mungkin orang tua hanya akan menghakimi, memberikan nasihat panjang lebar, tanpa bermaksud untuk memahami dan mengerti situasi atau kondisi anak. Atau bisa jadi komunikasi yang sifatnya satu arah ini akan membuat anak merasa disudutkan dan disalahkan dan hanya dicari sisi negatifnya, karena orang tua tidak memahami cerita versi anak yang sebenarnya.

3. Tidak Adanya Kepercayaan

Dalam strict parenting, biasanya orangtua mudah merasa curiga karena sulit percaya pada anak. Termasuk dalam kegiatan sekolah dan di luar sekolah yang dilakukan oleh anak/Foto: Freepik.com/our-team

Tidak adanya rasa percaya dalam hubungan orang tua dan anak akan membuat anak semakin menjaga jarak dan risih dengan orang tua. Bisa jadi anak justru ingin menjauh, karena setiap gerak gerik mereka seperti dipantau oleh CCTV, seperti saat di sekolah, orangtua selalu curiga tentang pergaulan anak, tentang nilai akademik dan prestasi anak. Orang tua kerap ragu dan mungkin menanyakan berkali-kali tentang jadwal belajar dan memastikan apakah anak melakukan hal yang baik di sekolah atau tidak.

Tak hanya itu, ketika anak memiliki aktivitas di luar sekolah, seperti pergi bersama teman, mungkin orangtua dengan strict parenting cenderung bertanya dan mengirim chat atau pesan WA berkali-kali, dengan siapa pergi, jam berapa pulang, kenapa lama pergi dengan teman tanpa henti dan meminta dikirimkan bukti dengan cara yang berlebihan.

Komunikasi yang dilandasi ketidakpercayaan dan pola asuh yang strict hanya akan membuat anak merasa berada dekat dengan orang tuanya adalah suatu beban.

4. Tidak Ada Ruang untuk Diskusi

Tanpa adanya ruang untuk diskusi dan negosiasi, anak merasa dirinya tidak dipahami, tidak penting dan sulit untuk dimengerti. Anak akan memilih untuk mencari ruang diskusi lain selain orangtuanya/Foto: Freepik.com/Weyo

Antara anak dan orang tua sangat wajar memiliki perbedaan pendapat. Apalagi orang tua dan anak berada dalam generasi yang bereda.

Anak bisa saja ingin berdiskusi tentang teman sekolahnya yang tidak menyenangkan, kegiatan sekolah yang terlalu melelahkan hingga hal-hal lain yang butuh diskusi lebih dalam dengan orang tua. Tapi bayangkan, seorang dengan strict parenting akan menutup ruang diskusi dan hanya terkesan memberikan dikte dan daftar yang harus atau wajib diikuti oleh anak, tanpa mempertimbangkan ruang diskusi, perasaan, dan kekhawatiran yang dirasakan oleh anak.

Dengan begitu, anak akan berpikir dan merasa kalau hal negatif yang dirasakan dan dialami adalah hal yang tidak boleh dilakukan. Ujung-ujungnya, anak jadi tertutup, minder, dan merasa tidak berhak berpendapat.

5. Tidak Sabar Menghadapi Perbedaan Pendapat dengan Anak

Ketika orangtua cepat merespon dengan rasa marah yang tak terkontrol untuk perbedaan pendapat dengan anak, maka anak akan mudah hidup dalam rasa takut dan kecemasan/Foto: Freepik.com/PeopleCreation

Anak akan tumbuh dengan rasa takut dan cemas yang berlebih, ketika orang tua mudah marah dan tidak sabar menghadapi perilaku anak yang tidak sesuai dengan harapan atau keinginan anak.

Sederhananya, ketika orang tua berharap anak bekerja sebagai dokter, tapi anak ingin jadi content creator, maka orang tua dengan strict parenting buru-buru meluapkan emosi dengan rasa marah yang tidak terkontrol tanpa mau mendengarkan anak. Akhirnya, anak nanti akan tumbuh dalam ketakutan, kekhawatiran, dan kecemasan yang berlebihan.

Oke, Beauties! Berikut tanda-tanda strict parenting yang perlu kamu waspadai. Jangan sampai anak tumbuh dengan rasa takut dan nggak percaya diri!

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

 

(dmh/dmh)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.