5 Topik Obrolan yang Sebaiknya Tidak Dibahas saat Kumpul Keluarga Besar
Lebaran adalah momen yang paling ditunggu-tunggu oleh sebagian besar umat Muslim di Indonesia. Satu-satunya waktu dalam setahun di mana seluruh keluarga besar yang terpisah jarak bisa berkumpul kembali di bawah satu atap, tertawa bersama, dan saling bermaaf-maafan.
Namun, di balik kehangatan itu, tidak sedikit orang yang justru merasa cemas atau enggan pulang kampung karena takut menghadapi serentetan pertanyaan personal atau "sesi interogasi" dari keluarga besar. Pertanyaan-pertanyaan yang mungkin terasa biasa bagi penanya, bisa sangat membebani bagi yang menerimanya.
Rasa ingin tahu memang manusiawi. Tapi tidak semua pertanyaan layak dilontarkan. Agar momen Lebaran tetap terasa hangat dan menyenangkan untuk semua pihak, hindari topik-topik obrolan berikut ini saat berkumpul dengan keluarga besar maupun teman lama supaya momen silaturahmi tetap berkesan tanpa menciptakan jarak.
1. Performa Akademis
Seorang siswa di kelas / Foto: pexels.com/Yan Krukau
"Nilai kamu bagus? Rangking berapa di kelas?" "Kapan lulusnya?"
Pertanyaan seputar prestasi sekolah atau perkuliahan mungkin terasa seperti bentuk perhatian. Namun bagi anak atau remaja yang sedang berjuang dengan tekanan akademis, pertanyaan ini bisa terasa seperti pengingat atas kekurangan mereka, apalagi jika diikuti dengan perbandingan terhadap sepupu atau anak tetangga yang dianggap lebih berprestasi.
Setiap anak punya ritme belajar dan jalannya masing-masing. Alih-alih menuntut hasil, cobalah untuk mengapresiasi usaha mereka.
2. Karier dan Penghasilan
Pebisnis membaca berkas / Foto: pexels.com/Sora Shimazaki
"Kerja di mana sekarang?" "Gajinya berapa?" "Kok belum kerja-kerja?"
Di tengah kondisi lapangan pekerjaan yang semakin kompetitif seperti saat ini, pertanyaan "kapan kerja?" bisa sangat melukai harga diri seseorang yang sudah berjuang keras melamar ke berbagai tempat namun belum berhasil. Situasinya akan semakin tidak nyaman jika penanya membandingkan-bandingkan pihak yang ditanya dengan orang lain yang dianggap lebih sukses.
Soal gaji pun sama. Besaran penghasilan adalah ranah privasi yang tidak seharusnya ditanyakan oleh siapa pun yang tidak memiliki wewenang atas hal tersebut, termasuk keluarga besar sekalipun. Hindari juga memberikan komentar atau nasihat keuangan yang tidak diminta, karena niatnya baik pun bisa terasa menghakimi bagi yang mendengarnya.
3. Status Asmara dan Pernikahan
Tangan membentuk hati / Foto: pexels.com/Vera
"Sudah punya calon pasangan belum?" "Kapan nikah?" "Kok masih jomblo aja?"
Urusan asmara adalah hal yang sangat personal. Keluarga besar tidak berkewajiban dan tidak berhak mengetahui detail kehidupan percintaan seseorang hingga ia sendiri yang memilih untuk berbagi.
Pertanyaan semacam ini, meski dilontarkan dengan nada bercanda, bisa terasa menekan bagi yang sedang dalam proses penyembuhan setelah hubungan yang gagal, atau bagi mereka yang memang belum siap untuk menikah.
4. Keturunan dan Momongan
Memegang tangan bayi / Foto: pexels.com/Lisa from Pexels
"Kapan punya anak?" "Kok belum hamil-hamil?" "Nunggu apa lagi?"
Asumsi yang kerap muncul dalam obrolan salah satunya adalah sesudah menikah seolah harus segera punya anak. Padahal, keputusan untuk memiliki keturunan adalah urusan yang sangat pribadi bagi setiap pasangan, dan tidak semua orang nyaman membicarakannya secara terbuka.
Pertanyaan semacam ini juga akan sangat menyakitkan bagi pasangan yang sebenarnya sangat mendambakan kehadiran buah hati, namun belum diberi kesempatan untuk memiliki. Mereka mungkin sudah melalui proses yang panjang dan melelahkan. Melontarkan pertanyaan semacam itu bisa membuka luka yang sedang mereka coba tutup.
5. Perubahan Fisik
Menimbang berat badan / Foto: pexels.com/Andres Ayrton
"Kamu tambah gemukan ya?" "Kok kurusan? Kurang makan?" "Kulitmu jadi gelap, kenapa?"
Waktu memang bisa mengubah penampilan seseorang secara cukup signifikan, apalagi bagi mereka yang jarang bertemu. Perubahan fisik adalah hal yang alami dan tidak bisa dihindari. Tapi mengusik perubahan itu dengan komentar spontan, meski tanpa niat menyakiti, tetap bisa berdampak buruk pada kepercayaan diri seseorang.
Komentar soal berat badan, warna kulit, atau penampilan fisik lainnya tidak pernah benar-benar "netral." Bisa jadi pihak yang ditanya sedang berjuang dengan kondisi kesehatan tertentu atau masalah lain yang tidak terlihat dari luar.
Pertanyaan-pertanyaan di atas mungkin terasa biasa saja bagi beberapa orang dan bagi yang melontarkannya. Tapi bagi sebagian orang, satu pertanyaan saja sudah cukup untuk mengubah momen Lebaran yang seharusnya membahagiakan menjadi sesuatu yang ingin mereka hindari.
Mulai tahun ini, yuk ganti pertanyaan-pertanyaan yang membebani itu dengan obrolan yang benar-benar mempererat kedekatan, bisa dengan menceritakan kisah masa kecil, kejadian random lucu, atau sesederhana menanyakan jalur yang dilalui saat mudik, dan dengarkan jawabannya dengan penuh perhatian.
***
Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!