Beauties, umat Muslim kembali menyambut bulan suci Ramadan. Selama 30 hari, umat Muslim di dunia harus menahan hawa nafsunya dari Subuh hingga Maghrib tiba. Tidak hanya menahan hawa nafsu, tetapi berpuasa juga mengajarkan kita untuk mengendalikan emosi beserta kalimat yang akan kita tuturkan saat sedang berbicara.
Berbicara tentang Ramadan, tentu identik dengan salat tarawih, beragam takjil yang tersaji di atas meja maupun yang dijual di pinggir jalan, serta buka bersama alias bukber dengan orang-orang terkasih.
Biasanya buka bersama akan dijadwalkan pada jauh-jauh hari, bahkan ada beberapa orang yang merelakan waktu serta tenaganya untuk mengurus buka bersama agar acara berjalan lancar. Namun, momen bukber yang harusnya dihabiskan dengan sukacita terkadang justru dijadikan ajang pamer serta membandingkan kehidupan satu sama lain.
Tidak hanya itu, beberapa pertanyaan sensitif dan bersifat pribadi pun juga terlontarkan hanya untuk basa-basi semata. Berikut pertanyaan yang sering dilontarkan saat bukber dan cara menjawabnya, check it out!
Pekerjaan dan Penghasilan
Beauties, pernah mendengar pertanyaan di bawah ini?
“Eh, udah kerja belum?”
“Kerjanya di mana?”
“Jabatannya apa?”
“Gajinya berapa?”
Kamu mungkin pernah mendengar atau bahkan mendapatkan pertanyaan tersebut ketika sedang bukber dengan keluarga maupun teman-teman lama. Sekilas, pertanyaan itu terdengar sederhana dan tidak sensitif. Namun, bagi sebagian orang pertanyaan tersebut benar-benar melelahkan untuk didengar, terutama jika orang yang menanyakan memiliki maksud tertentu seperti membandingkan hidupnya dan membanggakan pekerjaannya.
Untuk mengatasinya, kita bisa menjawab pertanyaan tersebut dengan jujur dan sederhana. Sayangnya, kadang jawaban yang kamu lontarkan tak mampu memuaskan si penanya. Mereka tanpa diminta akan menuturkan kalimat seperti, “wah, kalau saya sih kerjanya di xxx dengan gaji sekian” atau “oh kalau anak om/tante kerjanya di sini, gajinya juga besar, padahal dia kerjanya belum ada setahun,” dan tuturan lainnya yang mampu membuat diri kita menjadi kecil serta keki.
Kamu bisa menjawab pertanyaan tadi dengan sederhana. Tetapi jika mendapat respon seperti yang telah disebutkan tadi, kamu juga bisa membalas ucapan mereka dengan beberapa contoh kalimat di bawah ini:
“Selama kebutuhan terpenuhi, gaji saya sudah lebih dari cukup kok. Kebutuhan kan lebih penting daripada keinginan.”
“Wah, bagus dong, kalau ada lowongan kerja kasih tahu ya, siapa tau saya bisa gabung dan bernasib sama kayak kamu.”
“Tahu nggak? Nanya persoalan gaji itu hal pribadi dan sensitif, jadi nggak etis untuk ditanyain ya dan saya juga punya pilihan untuk tidak menjawab.”
Pasangan
Ilustrasi Pasangan/Freepik/rawpixel.com |
“Kok nggak sama pasangannya?”
“Pasangannya mana?”
“Nggak bosen sendiri terus?”
Beauties, kamu tentu pernah mendengar pertanyaan seperti di atas bukan? Saat pertama, reaksi kamu mendengar pertanyaan tersebut mungkin akan biasa saja. Tetapi bagaimana jika pertanyaan tersebut dilontarkan berulang kali? Terutama ketika bertemu lagi setelah tidak lama berjumpa, kamu tentu akan bosan serta jengkel mendengarnya. Bahkan jawaban yang kamu berikan pun tak mampu membuat si penanya menjadi puas.
Karena itulah terkadang hal tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat seseorang malas untuk mengikuti acara bukber maupun kumpul keluarga. Namun, kamu mungkin bisa mengeluarkan kalimat ini untuk menjawab pertanyaan tersebut.
“Memang saya harus selalu bersama pasangan saya?”
“Saya lagi belajar mandiri, makanya lagi nggak perlu pasangan.”
“Didoakan saja, ya.”
Pernikahan
Ilustrasi Pasangan Menikah/Freepik/bristekjegor |
Ketika kamu sudah punya pasangan, pertanyaan yang paling sering ditanyakan ketika bukber adalah tentang pernikahan, seperti, “kapan nikah?”, “emang kamu nggak punya keinginan untuk menikah?”, “udah pacaran lama masa nggak mau nikah?”, “ayo cepat nikah, nanti keburu tua,” dan beragam pertanyaan pernikahan lainnya.
Pertanyaan tersebut tentunya mampu menghadirkan rasa kesal dan jengkel. Jika kamu salah satu orang yang jengkel dengan pertanyaan tersebut dan lelah menjawabnya, mungkin kamu bisa mencoba menjawabnya dengan kalimat di bawah ini:
“Mau kok menikah, tapi kan semua orang punya targetnya masing-masing.”
“Menikah kan nggak gampang, perlu biaya ini itu, belum lagi nanti kehidupan pernikahan. Cinta kan nggak bikin kenyang.”
“Usia kan nggak jadi penentu kita harus menikah saat itu juga.”