6 Red Flag di Tempat Kerja yang Sering Dianggap Sepele

Nindya Putri Hermansyah | Beautynesia
Senin, 06 Apr 2026 10:30 WIB
5. Atasan yang Gemar Menganak-Emaskan Salah Satu Pegawai
Ilustrasi favoritisme/FreepiK:KamranAdinov

Masuk ke dunia kerja sering kali terasa seperti pencapaian besar, terutama bagi pekerja yang penuh semangat dan ambisi. Kamu ingin terlihat profesional, berdedikasi, dan bisa diandalkan.

Sayangnya, keinginan untuk “jadi karyawan baik” ini sering membuat banyak hal tidak sehat di tempat kerja dianggap wajar. Mulai dari pulang larut, kerja dadakan, sampai suasana kantor yang bikin capek mental.

Tanpa disadari, kebiasaan-kebiasaan yang dianggap sepele itu bisa menjadi tanda bahaya yang berdampak panjang pada kesehatan mental, kepercayaan diri, hingga arah karier kamu. Pertanyaannya, apa saja red flag di tempat kerja yang sering dianggap biasa, padahal seharusnya tidak?

1. Terlalu Sering Kerja Lembur/Jam Pulang Molor

Ilustrasi pulang larut karena pekerjaan/freepik: lookstudio

Sesuatu yang terlihat sepele seperti pulang kerja molor karena tuntutan lembur kini sering dianggap normal di banyak perusahaan. Budaya kerja yang memuja kerja nonstop atau “hustle culture” justru dikategorikan sebagai salah satu tanda lingkungan kerja tidak sehat, karena melebur batas antara waktu kerja dan waktu pribadi.

Forbes menyebut kondisi seperti ini memberi kesan bahwa lembur adalah ukuran loyalitas, padahal menurut banyak ahli budaya kerja, itu bisa menunjukkan manajemen waktu yang buruk dan tekanan berlebihan pada karyawan, sesuatu yang sering kali membuat para karyawan merasa harus selalu on dan siap bekerja kapan saja.

2. Sulit Ambil Cuti

Ilustrasi sulit ambil cuti/Freepik: katemangostar

Kantor yang mempersulit karyawan mengambil cuti bukan hal sepele dan justru menjadi red flag besar dalam dunia kerja. Cuti adalah hak dasar pekerja, bukan bentuk kemalasan atau kurang dedikasi.

Jika perusahaan membuat proses cuti berbelit, memberi tekanan emosional, atau memberi stigma negatif pada karyawan yang ingin istirahat, itu menunjukkan budaya kerja yang tidak sehat dan cenderung mengabaikan kesejahteraan mental pekerja.

Dilansir dari CNBC, perusahaan yang tidak menghormati hak cuti biasanya juga memiliki masalah dalam manajemen kerja dan kepemimpinan, karena menganggap produktivitas lebih penting daripada kesehatan manusia yang bekerja di dalamnya.

3. Pekerjaan Menumpuk dan Mendadak

Ilustrasi banyak tugas/Freepik: cookie_studio

Salah satu tanda lingkungan kerja toksik adalah ketika tuntutan kerja sering muncul mendadak dengan beban yang tidak realistis. Pekerjaan berlebihan dengan tenggat yang tidak masuk akal disebut sebagai salah satu gejala lingkungan kerja yang menimbulkan stres dan burnout.

Beban kerja seperti ini sering kali datang tanpa dukungan tambahan atau sumber daya yang layak, sehingga karyawan merasa terjebak antara harus menyelesaikan pekerjaan dan menjaga loyalitas atau menyelamatkan kesehatan mentalnya.

4. Kurangnya Apresiasi dan Feedback

Ilustrasi tidak ada feedback/Freepik: pchvector

Menurut laporan Toxic Workplace Trends Report 2025, kurangnya apresiasi dan pengakuan terhadap kontribusi karyawan termasuk bagian dari budaya kerja yang buruk yang dialami banyak pekerja di berbagai negara. Ketika kontribusi kerja tidak pernah diakui atau dihargai secara adil, karyawan cenderung merasa tidak berdampak dan kurang termotivasi.

Selain itu, ketidakmampuan perusahaan dalam memberikan umpan balik yang konstruktif dan jelas bisa membuat orang-orang kehilangan arah dalam pengembangan kariernya. Tanpa feedback yang baik, pekerja tidak tahu apa yang harus diperbaiki atau ditingkatkan, yang pada akhirnya berdampak pada rasa percaya diri mereka di tempat kerja.

5. Atasan yang Gemar Menganak-Emaskan Salah Satu Pegawai

Ilustrasi favoritisme/FreepiK:KamranAdinov

Favoritisme di tempat kerja merupakan salah satu indikator kuat dari budaya kerja yang tidak adil dan tidak sehat. Menurut survei Resume Now, sekitar 70 persen pekerja di dunia pernah melihat atasan memberi perlakuan istimewa ke orang tertentu bukan karena kinerjanya bagus, tapi karena faktor pribadi.

Favoritisme seperti ini bisa menciptakan persaingan negatif, konflik antara rekan kerja, dan perasaan tidak aman bagi mereka yang tidak termasuk “favorit”. Hal ini juga berdampak buruk terhadap kesempatan karier, karena promosi dan penghargaan sering kali diberikan bukan berdasarkan prestasi, tetapi berdasarkan hubungan personal atau bias atasan.

6. Lingkungan Toksik (Gosip & Drama)

Ilustrasi lingkungan toksik/Freepik: freepik

Salah satu aspek yang paling sering disepelekan tapi sebenarnya sangat merusak adalah lingkungan kantor yang dipenuhi gosip, persaingan tidak sehat, atau drama interpersonal. Menurut New York Times, gosip di tempat kerja bisa menjadi bentuk konflik interpersonal yang melemahkan konsentrasi, merusak hubungan profesional, dan menciptakan suasana kerja yang tidak nyaman.

Drama seperti ini dapat menarik energi karyawan dari pekerjaan nyata dan menciptakan rasa kuatir, kecemasan, atau bahkan isolasi dari tim. Selain itu, gosip juga sering kali memperburuk isu favoritisme dan menurunkan moral kolektif, terutama di antara mereka yang merasa tersisih.

Mengenali red flag di tempat kerja bukan berarti kamu lemah atau mudah mengeluh, tapi justru tanda kamu peduli pada kesehatan mental dan masa depan kariermu. Dengan lebih peka terhadap tanda-tanda ini, kamu bisa berani menetapkan batas yang sehat dan memilih lingkungan kerja yang benar-benar menghargai usaha, waktu, dan dirimu.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(ria/ria)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE