7 Cara Menyembuhkan Trauma Akibat Diselingkuhi Pasangan

Nindya Putri Hermansyah | Beautynesia
Sabtu, 21 Feb 2026 20:00 WIB
4. Hentikan Kebiasaan Mengulang Kejadian di Kepala (Overthinking) Secara Sadar
Ilustrasi ovethinking/Freepik: freepik

Perselingkuhan sering meninggalkan luka yang tidak langsung terlihat. Bukan hanya soal patah hati, tapi juga rasa percaya yang runtuh, pikiran yang terus berputar, dan perasaan tidak aman yang tiba-tiba muncul tanpa alasan jelas. Banyak orang terlihat baik-baik saja dari luar, padahal di dalamnya masih menyimpan marah, kecewa, dan bingung yang belum selesai.

Bagi kamu yang pernah mengalaminya, proses sembuh sering terasa lambat dan melelahkan. Ada kalanya kamu merasa sudah kuat, lalu di hari lain luka itu muncul lagi hanya karena hal sepele.

Jika trauma ini tidak hilang begitu saja, lalu apa yang sebenarnya bisa dilakukan agar kamu benar-benar pulih dan kembali merasa utuh?

1. Terima dan Validasi Lukamu

Ilustrasi validasi perasaan/Freepik: pikisuperstar

Langkah paling awal untuk sembuh dari trauma diselingkuhi adalah menerima bahwa kamu benar-benar terluka, tanpa menyuruh diri untuk cepat kuat atau cepat move on. Artinya, kamu membolehkan diri merasa sedih, marah, kecewa, atau hancur tanpa menghakimi perasaan itu. Kamu tidak perlu membandingkan lukamu dengan orang lain atau merasa lebay hanya karena masih sakit.

Psikoterapis Esther Perel menjelaskan dalam wawancaranya bersama The New York Times bahwa perselingkuhan merusak rasa aman emosional, sehingga wajar jika korban merasa kehilangan arah dan kepercayaan. Karena itu, menerima luka berarti mengakui bahwa apa yang kamu alami memang menyakitkan dan berdampak besar, bukan sesuatu yang bisa langsung dilupakan.

2. Jangan Menyalahkan Diri

Ilustrasi bersedih/Freepik: freepik

Salah satu efek paling umum dari perselingkuhan adalah munculnya pikiran menyalahkan diri sendiri. Kamu mungkin bertanya-tanya, “Apa aku kurang?” atau “Apa aku tidak cukup baik?”. Dr. Ramani Durvasula menjelaskan dalam artikelnya di Psychology Today bahwa self-blame atau menyalahkan diri sendiri adalah respons trauma yang sering dialami korban pengkhianatan.

Menurut Dr. Ramani, menyalahkan diri sendiri memberi ilusi kendali, seolah-olah dengan menemukan kesalahan pada diri sendiri, luka bisa dicegah. Padahal kenyataannya, perselingkuhan adalah keputusan sadar dari pelaku, bukan kegagalan korban. Memahami hal ini penting agar kamu tidak terus menghukum diri atas pilihan yang tidak pernah kamu buat.

3.Jangan Membandingkan Diri dengan “Orang Ketiga”

Ilustrasi insecure dan membandingkan diri/Freepik: khroska_nastya

Setelah diselingkuhi, banyak korban terjebak membandingkan diri dengan orang ketiga. Kamu mungkin menilai penampilan, kepribadian, atau pencapaiannya, lalu menyimpulkan bahwa dirimu “kalah”. Psychology Today menjelaskan bahwa kebiasaan membandingkan diri setelah penolakan atau pengkhianatan justru memperparah luka emosional.

Otak korban cenderung mencari alasan sederhana atas pengkhianatan, dan orang ketiga sering dijadikan simbol penyebab rasa sakit. Padahal, perselingkuhan tidak terjadi karena kamu kurang, melainkan karena keputusan dan batasan pelaku yang bermasalah. Menghentikan perbandingan adalah langkah penting untuk memulihkan harga diri yang sempat runtuh.

4. Hentikan Kebiasaan Mengulang Kejadian di Kepala (Overthinking) Secara Sadar

Ilustrasi ovethinking/Freepik: freepik

Mengulang-ulang kejadian perselingkuhan di kepala adalah respons trauma yang umum. Kamu mungkin terus membayangkan momen tertentu, percakapan lama, atau tanda-tanda yang dulu terlewat. Dilansir dari American Psychological Association, pola ini dikenal sebagai rumination, yaitu kebiasaan memikirkan ulang peristiwa menyakitkan tanpa menghasilkan solusi.

Hal ini membuat otak terjebak di masa lalu dan memperpanjang stres emosional. Menghentikannya bukan berarti memaksa pikiran kosong, tetapi menyadari saat pikiran mulai berputar lalu mengalihkannya secara sadar ke aktivitas yang lebih menenangkan atau produktif. Kesadaran ini membantu otak belajar bahwa bahaya sudah berlalu dan kamu tidak lagi berada di situasi yang sama.

5. Batasi atau Putus Kontak dengan Sumber Luka

Ilustrasi batasi kontak/Egypt Today: Ramdan Hady

Pemulihan akan sulit terjadi jika kamu terus terpapar hal-hal yang memicu luka lama. Mengutip The Guardian, batasan emosional adalah bagian penting dari penyembuhan trauma relasional. Tanpa batasan, sistem saraf akan terus berada dalam kondisi siaga, seolah ancaman masih ada.

Membatasi atau memutus kontak bukanlah bentuk kekanak-kanakan, melainkan tindakan perlindungan diri. Menjauh dari mantan pasangan, menghentikan kebiasaan memantau media sosial, atau menolak percakapan yang membuka luka lama membantu otak memahami bahwa kamu kini berada di situasi yang lebih aman.

6. Fokus pada Diri Sendiri (Self-Care) dan Mengembalikan Harga Diri

Ilustrasi fokus pada diri/Freepik: prostooleh

Trauma perselingkuhan sering membuat seseorang kehilangan koneksi dengan dirinya sendiri. Penulis buku The Body Keeps the Score menjelaskan dalam wawancaranya bersama BBC World Service bahwa trauma tidak hanya tersimpan di pikiran, tetapi juga di tubuh. Itulah sebabnya banyak korban mengalami kelelahan, sulit tidur, atau kecemasan tanpa sebab jelas.

Self-care bukan sekadar memanjakan diri, melainkan cara mengembalikan rasa aman pada tubuh dan pikiran. Aktivitas sederhana seperti olahraga ringan, rutinitas tidur yang teratur, atau melakukan hobi menyenangkan dapat membantu sistem saraf kembali stabil. Fokus pada diri sendiri berarti memberi pesan bahwa kamu layak dirawat, bukan diabaikan.

7. Belajar Memaafkan dan Melupakan

Ilustrasi memaafkan/Freepik: prostooleh

Memaafkan sering disalahartikan sebagai membenarkan perbuatan pelaku. Padahal, psikoterapis Dr. Fred Luskin pada Stanford University bahwa memaafkan adalah proses internal untuk melepaskan beban emosional, bukan untuk menghapus kesalahan orang lain.

Dr. Fred Luskin menyatakan bahwa memaafkan membantu korban berhenti hidup dalam kemarahan yang menguras energi. Sementara itu, “melupakan” tidak selalu berarti ingatan hilang, tetapi kenangan tersebut tidak lagi mengendalikan emosi dan keputusan hidupmu. Proses ini membutuhkan waktu dan tidak bisa dipaksakan, namun sangat penting agar trauma tidak terus membentuk masa depan.

Beauties, luka karena perselingkuhan memang tidak bisa hilang dalam semalam, tapi setiap langkah kecil yang kamu ambil untuk memahami dan merawat diri adalah bagian dari proses pulih yang nyata.

Jadikan pengalaman ini bukan sebagai alasan untuk menutup hati, melainkan sebagai pengingat bahwa kamu berhak atas hubungan yang sehat, jujur, dan saling menghargai.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI! 

(ria/ria)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE