7 Kalimat yang Diucap Orang Pura-Pura Kaya, tapi Sebenarnya Tidak!

Nindya Putri Hermansyah | Beautynesia
Rabu, 04 Feb 2026 10:30 WIB
7 Kalimat yang Diucap Orang Pura-Pura Kaya, tapi Sebenarnya Tidak!
Ilustrasi orang pura-pura kaya/Freepik: pressfoto

Di tengah gaya hidup modern yang semakin menonjolkan pencitraan, cara seseorang berbicara kerap menjadi cerminan dari bagaimana ia ingin dipersepsikan oleh lingkungan sekitarnya. Bukan hanya dari pakaian atau barang yang digunakan, pilihan kata dan kalimat tertentu juga sering dipakai untuk membangun kesan mapan, sibuk, dan berkelas, meski kenyataannya kondisi finansial belum tentu sejalan dengan citra yang ditampilkan.

Tanpa disadari, ada sejumlah kalimat yang terdengar “biasa saja”, namun berulang kali muncul pada orang yang ingin terlihat kaya di mata orang lain. Lantas, apa saja kalimat yang diucap orang yang pura-pura kaya, padahal sebenarnya tidak? Simak!

1. “Duh, Jadwal Saya Sangat Padat Minggu Ini.”

Ilustrasi pura-puraFreepik: cookie_studio

Kalimat ini sering terdengar netral, tapi dalam konteks tertentu bisa menjadi alat untuk membangun citra status tinggi. Orang yang ingin terlihat “penting” atau sukses kerap menekankan betapa padatnya jadwal mereka, seolah kesibukan identik dengan kekayaan dan kesuksesan finansial.

Padahal, menurut The New York Times tentang budaya kesibukan modern, orang yang benar-benar mapan justru tidak perlu terus-menerus membuktikan kesibukan mereka karena nilai diri mereka tidak bergantung pada pengakuan eksternal.

Kesibukan sering digunakan sebagai simbol status sosial baru, menggantikan kemewahan fisik. Dalam praktiknya, banyak orang yang secara finansial belum stabil justru menggunakan narasi jadwal padat untuk menciptakan ilusi produktivitas dan keberhasilan, meskipun aktivitas tersebut tidak selalu berkorelasi dengan kekayaan nyata.

2. “Harganya Nggak Masalah, yang Penting Kualitas atau Mereknya.”

Ilustrasi membeli barang/Freepik: freepik

Ucapan ini sering muncul saat seseorang ingin menunjukkan bahwa harga bukanlah kendala bagi mereka. Namun, pernyataan semacam ini kerap diasosiasikan dengan kebutuhan validasi sosial. Dalam laman Psychology Today tentang perilaku konsumen dan status sosial, ketertarikan berlebihan pada merek sering kali bukan soal kualitas, melainkan tentang citra diri yang ingin ditampilkan kepada orang lain.

Orang yang benar-benar kaya cenderung membicarakan fungsi, durabilitas, atau nilai jangka panjang suatu produk, bukan sekadar mereknya. Sementara itu, orang yang berpura-pura mapan lebih fokus pada simbol yang mudah dikenali publik, karena merek menjadi bahasa tercepat untuk mengomunikasikan status, meski kondisi finansial sebenarnya belum tentu mendukung.

3. “Kemarin Saya Baru Ingin Membeli Barang Itu, tapi…”

Ilustrasi membeli barang mewah/freepik: prostooleh

Menyebut barang mewah yang “hampir dibeli” adalah pola komunikasi yang cukup umum pada orang yang ingin memberi kesan mampu membeli barang harga tinggi. Dalam VegOut Magazine yang membahas frasa khas orang yang berpura-pura kaya, dijelaskan bahwa membicarakan rencana pembelian mahal tanpa realisasi sering digunakan untuk membangun narasi kepemilikan, meski transaksi nyata tidak pernah terjadi.

Fenomena ini juga dijelaskan oleh pakar ekonomi perilaku Dr. Dan Ariely bahwa otak manusia bisa mendapatkan kepuasan sosial hanya dari cerita dan imajinasi kepemilikan, tanpa benar-benar membeli barang tersebut. Akibatnya, pembicaraan tentang barang mewah menjadi alat pencitraan, bukan refleksi kondisi finansial yang sesungguhnya.

4. “Tenang, Nanti Saya yang Urus Semuanya.”

Ilustrasi bossy/Freepik: freepik

Kalimat ini terdengar meyakinkan dan berwibawa, tetapi dalam konteks tertentu bisa menjadi upaya menunjukkan kontrol dan kekuasaan finansial. Menurut The Expert Editor, orang yang berpura-pura memiliki harta besar sering menggunakan bahasa dominan untuk menutupi keterbatasan nyata mereka, termasuk keterbatasan finansial.

Sementara itu, orang yang benar-benar mapan biasanya menjelaskan bagaimana sesuatu akan diurus, oleh siapa, dan dengan cara apa. Mereka cenderung transparan soal proses, bukan hanya menawarkan janji besar. Bahasa yang terlalu umum dan tanpa detail sering kali menjadi tanda bahwa pernyataan tersebut lebih bersifat citra daripada kemampuan aktual.

5. “Aku Nggak Pernah Beli Barang Semurah Itu.”

Ilustrasi memilih baju di mall/Freepik: freepik

Merendahkan harga murah sering dijadikan cara tidak langsung untuk menaikkan posisi diri sendiri. Dalam laman CEOWORLD Magazine tentang fenomena status illusion, dijelaskan bahwa sikap meremehkan barang murah sering kali berasal dari rasa tidak aman, bukan dari kekayaan. Orang yang percaya diri dengan kondisi finansialnya tidak merasa terancam oleh harga murah atau pilihan hemat.

Sebaliknya, mereka yang merasa perlu menjaga citra “kelas atas” justru cenderung menghindari asosiasi dengan barang murah, karena takut status sosial mereka dipertanyakan. Padahal, banyak individu kaya secara finansial justru dikenal sangat selektif dan rasional dalam pengeluaran, tanpa rasa malu membeli barang terjangkau.

6. “Urusan Duit Itu Gampang”

Ilustrasi punya banyak uang/Freepik: drobotdean

Pernyataan ini sering diasosiasikan dengan kesan santai terhadap uang. Namun, menurut laporan Yahoo Finance yang membahas perbedaan orang kaya asli dan kaya palsu, sikap mengabaikan harga justru lebih sering ditemukan pada mereka yang tidak memiliki sistem keuangan yang sehat. Orang kaya sesungguhnya biasanya sangat sadar angka, arus kas, dan nilai uang.

Kebiasaan memperhatikan harga bukan tanda kekurangan uang, melainkan tanda kontrol. Kalimat yang menyepelekan uang sering menjadi mekanisme pertahanan psikologis untuk menutupi kecemasan finansial yang sebenarnya dirasakan.

7. “Capek Banget Bolak-balik ke Luar Kota/Negeri Terus.”

Ilustrasi mengeluh/Freepik: freepik

Mengeluhkan aktivitas yang diasosiasikan dengan gaya hidup mewah, seperti liburan ke luar kota atau perjalanan rutin, bisa menjadi cara halus untuk memamerkan status. Dalam laman The Atlantic tentang sinyal sosial modern, disebutkan bahwa keluhan tentang kemewahan adalah bentuk pamer terselubung yang dibungkus dengan keluhan (humblebrag).

Humblebrag sering muncul dari kebutuhan akan pengakuan sosial, tetapi dibungkus agar tidak terlihat sombong. Orang yang benar-benar terbiasa dengan kenyamanan finansial cenderung tidak menjadikannya topik utama percakapan, apalagi sebagai keluhan yang diulang-ulang.

Memahami pola kalimat ini bukan untuk menghakimi, melainkan agar kamu lebih peka terhadap makna di balik cara orang membangun citra dirinya. Sebagai Beauties yang bijak, fokuslah pada kejujuran dan pengelolaan hidup yang realistis, karena nilai diri sejati tidak ditentukan oleh pengakuan semu, melainkan ketenangan dan keaslian.

____

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiwa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(ria/ria)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.