7 Kalimat yang Diucap Orang yang Lari dari Tanggung Jawab

Dimitrie Hardjo | Beautynesia
Jumat, 16 Oct 2026 20:30 WIB
2. “Aku bisa melakukan apa pun yang aku mau”
Kalimat “Aku bisa melakukan apa pun yang aku mau”/ Foto: Pexels.com/Ron Lach

Kemampuan seseorang untuk memikul tanggung jawab dapat mencerminkan kualitas dirinya. Sikap bertanggung jawab sangat penting dalam kehidupan, Beauties, baik dalam pekerjaan, hubungan interpersonal, maupun tanggung jawab terhadap diri sendiri.

Jika ada kesalahan diperbuat dan menyebabkan situasi terasa tidak nyaman, seseorang yang bertanggung jawab akan tulus meminta maaf dan mencoba memperbaikinya dengan sungguh-sungguh. Namun, lain hal jika seseorang yang lari dari tanggung jawabnya. Mereka hanya mencari alasan supaya tidak disalahkan, atau mencari celah agar bisa lepas dari kewajiban. Maka dari itu, orang yang menghindari tanggung jawab mungkin akan mengucapkan kalimat-kalimat ini, Beauties.

1. “Itu bukan salahku”

Kalimat “Itu bukan salahku”

Kalimat “Itu bukan salahku”/ Foto: Pexels.com/VLAD IVANOV

Orang yang ingin lari dari tanggung jawab akan melemparkan kesalahan dari dirinya sendiri ke orang lain, sebagaimana disebutkan dalam laman Inner Mastery Hub. Pengalihan kesalahan ini bentuk manipulasi, ditunjukkan dengan cara berpura-pura bodoh atau tidak tahu apa-apa.

2. “Aku bisa melakukan apa pun yang aku mau”

Kalimat “Aku bisa melakukan apa pun yang aku mau”

Kalimat “Aku bisa melakukan apa pun yang aku mau”/ Foto: Pexels.com/Ron Lach

Pada beberapa kasus, seseorang yang tidak bisa bertanggung jawab juga kesulitan bertanggung jawab atas kehidupan personalnya. Misalnya, seperti menerapkan gaya hidup tidak sehat, mungkin dengan merokok atau makan makanan yang tidak sehat. Ketika ditegur, orang tersebut akan membela dirinya sendiri dengan mengucapkan perkataan seperti “Aku bisa melakukan apa pun yang aku mau”.

3. “Waktu itu, aku lagi sibuk banget”

Kalimat “Waktu itu, aku lagi sibuk banget”

Kalimat “Waktu itu, aku lagi sibuk banget”/ Foto: Pexels.com/Felicity Tai

Tanda lain seseorang ingin melarikan diri dari tanggung jawab yaitu mencari-cari alasan, Beauties. Namun terkadang, alasan itu tidak cukup kuat karena bersumber dari kelalaian dirinya sendiri. Misalnya, seseorang melupakan sesuatu yang penting dan kemudian beralasan, “Waktu itu, aku lagi sibuk banget”. Jika demikian, orang tersebut kurang bisa mengatur prioritasnya.

4. “Aku disuruh…”

Kalimat “Aku disuruh…”

Kalimat “Aku disuruh…”/ Foto: Pexels.com/Antoni Shkraba Production

Pengalihan kesalahan juga bisa dilakukan dengan menyudutkan orang lain. Dia tidak ingin disalahkan atas apa yang dia lakukan, sehingga dia akan menunjuk nama orang lain yang menyuruhnya. Maka dari itu, kalimat seperti “Aku disuruh…” atau “Aku cuma mengikuti perintah ….” bisa saja terucap.

Melansir dari situs Bolde, itu adalah cara cerdik untuk mengatakan bahwa seseorang tidak memiliki kendali atas tindakan mereka sendiri, dan orang lainlah yang menjadi dalang, pengendali segalanya.

5. “Kan aku sudah minta maaf”

Kalimat “Kan aku sudah minta maaf”

Kalimat “Kan aku sudah minta maaf”/ Foto: Pexels.com/KAROLINA GRABOWSKAKABOOMPICS

Beauties, meminta maaf memang hal yang penting. Namun, bagaimana jika maaf itu tidak didasari perasaan menyesal yang tulus? Menurut profesor psikologi Dr. Karina Schumann yang dikutip dari YourTango, terdapat perbedaan yang mencolok antara permintaan maaf yang tulus dan didasari niat baik dengan ungkapan yang bersifat pasif dan bersifat menghindari. Oleh sebab itu, orang-orang yang menghindari tanggung jawab sering kali berlindung di balik ungkapan seperti "Aku kan sudah minta maaf" untuk melindungi diri dari kritik.

6. “Semua orang melakukannya kok!”

Kalimat “Semua orang melakukannya kok!”

Kalimat “Semua orang melakukannya kok!”/ Foto: Pexels.com/Vitaly Gariev

Ungkapan lain yang menandakan seseorang tidak mau bertanggung jawab atas kesalahannya adalah dengan menggunakan alasan, “Semua orang melakukannya kok!”. Dengan mengucapkan perkataan ini, seseorang ingin mengaburkan tanggung jawab pribadi dengan menunjukkan bahwa perilaku tersebut sudah tersebar luas.

Dikutip dari Bolde, psikolog etika Dr. Linda Elder menjelaskan bahwa pola pikir ini dapat menyebabkan terkikisnya nilai-nilai pribadi karena individu berusaha menjustifikasi perbuatan yang salah dengan perilaku kelompok.

7. “Aku cuma bercanda”

Kalimat “Aku cuma bercanda”

Kalimat “Aku cuma bercanda”/ Foto: Pexels.com/Timur Weber

Bercanda boleh saja, tapi mengucapkannya perlu melihat situasi dan kondisi lawan bicara dan lingkungan. Ketika kondisi atau kesalahan yang dilakukan serius dan genting, melontarkan candaan terasa tidak etis. Masih dilansir dari sumber yang sama, menanggapi sebuah masalah dengan “lelucon”, orang tersebut berupaya meremehkan keseriusan tindakan mereka. Menurut psikolog Dr. Susan Heitler, humor dapat digunakan sebagai mekanisme pertahanan untuk menghindari kebenaran yang terasa tidak nyaman.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI! 

(dmh/dmh)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE