7 Kebiasaan Orang yang Terlihat Rendah Hati tapi Sebenarnya Hanya Haus Pujian
Bergaul dengan orang-orang rendah hati memang menyenangkan karena mereka selalu menghargai sesama. Meski demikian, Beauties tetap harus waspada terhadap para “serigala berbulu domba” yang sekilas terlihat rendah hati tapi sebenarnya hanya haus pujian.
Melansir laman Our Mental Health, ada beberapa golongan orang yang tidak terang-terangan membanggakan diri, bahkan kadang terlihat merendah, namun sikap “rendah hati” ini sering kali hanya topeng. Di baliknya, ada kebutuhan besar akan validasi, perhatian, dan pujian dari orang lain.
Dilansir dari Very Well Mind, tipe orang seperti ini biasanya tidak meminta pujian secara langsung. Mereka menggunakan cara-cara halus, manipulatif, bahkan terselubung agar tetap terlihat santun, padahal tujuannya hanya untuk menjadi pusat perhatian. Lebih lanjut, berikut beberapa kebiasaan yang sering muncul pada orang yang terlihat rendah hati, tetapi sebenarnya haus pujian.
1. Terlalu Sering “Promosi” Diri
![]() Ilustrasi Perempuan Haus Pujian/Foto: Freepik.com |
Orang yang haus pujian hampir selalu menemukan cara untuk membicarakan dirinya sendiri. Prestasi, kemampuan, hingga aktivitas sehari-hari kerap diselipkan dalam percakapan, meski topiknya tidak relevan.
Mereka bisa terlihat seperti “sekadar berbagi cerita”, padahal tujuannya agar orang lain mengakui kehebatan mereka. Dalam interaksi sosial, melansir Our Mental Health, percakapan dengan mereka sering berakhir kembali ke pengalaman atau pencapaian pribadi mereka. Kadang hal ini membuat hubungan terasa melelahkan karena fokusnya selalu satu arah.
2. Melebih-lebihkan Pencapaian
Ilustrasi Perempuan Haus Pujian/Foto: Freepik.com/jcomp
Ciri lain yang cukup kentara, menurut Our Mental Health, adalah kebiasaan membesar-besarkan pencapaian. Hal kecil bisa dikisahkan seolah pencapaian luar biasa. Cerita-cerita ini sering diulang ke banyak orang, dengan detail yang makin lama makin dramatis.
Mereka juga gemar membandingkan diri dengan orang lain, secara implisit maupun terang-terangan, agar terlihat lebih unggul. Tujuannya bukan berbagi kebahagiaan, melainkan memancing kekaguman dan pengakuan.
3. Gemar Playing Victim
![]() Ilustrasi Perempuan Haus Pujian/Foto: Freepik.com/garetsvisual |
Orang yang haus perhatian seringnya memosisikan diri sebagai korban dalam berbagai situasi. Masalah kecil dibesar-besarkan, kesalahpahaman dianggap perlakuan tidak adil, dan konflik selalu diceritakan dari sudut pandang yang menguntungkan diri sendiri.
Dengan menonjolkan penderitaan, mereka mendapatkan simpati, empati, dan dukungan emosional. Tanpa disadari, ini menjadi cara lain untuk mendapatkan validasi dan memastikan perhatian tetap tertuju pada mereka.
4. Mengandalkan Media Sosial untuk Validasi
Ilustrasi Perempuan Haus Pujian/Foto: Freepik.com/tirachardz
Melansir Very Well Mind, orang-orang yang haus perhatian umumnya mengandalkan media sosial sebagai panggung utama. Unggahan dilakukan secara konsisten, dengan fokus pada pencapaian, momen terbaik, atau aktivitas yang bisa memancing pujian.
Jumlah like, komentar, dan respons orang lain sering dijadikan tolok ukur harga diri. Bahkan perdebatan atau unggahan kontroversial pun bisa digunakan demi mendapatkan reaksi. Ketergantungan pada validasi online ini biasanya menutupi rasa tidak aman yang tidak terselesaikan.
5. Pamer yang Disamarkan sebagai Keluhan
![]() Ilustrasi Perempuan Haus Pujian/Foto: Freepik.com/drobotdean |
Our Mental Health mengungkap humble bragging sebagai salah satu ciri paling halus, tapi paling sering muncul. Mereka mengeluh, tetapi isi keluhannya justru menonjolkan kelebihan diri. Misalnya, mengeluh terlalu sibuk bekerja, terlalu capek olahraga, atau kewalahan karena “terlalu dipercaya”.
Keluhan semacam ini dirancang agar orang lain merespons dengan pujian, tanpa mereka harus terlihat sombong. Secara tidak langsung, mereka tetap mendapatkan pengakuan sambil menjaga citra rendah hati.
Selain itu, mereka juga sering merendahkan diri namun terselubung. Alih-alih percaya diri, mereka kerap melontarkan komentar merendahkan diri sendiri. Bukan karena benar-benar merasa kurang, melainkan berharap orang lain membantah dan memberi pujian. Pola ini menandakan ketergantungan pada validasi eksternal. Rasa percaya diri tidak tumbuh dari dalam, melainkan selalu menunggu pengakuan dari luar.
6. Mendominasi dan Menyela Percakapan
Ilustrasi Perempuan Haus Pujian/Foto: Freepik.com/tirachardz
Dalam interaksi sosial, mereka sulit benar-benar menjadi pendengar. Menurut Our Mental Health, orang-orang yang haus pujian sering menyela percakapan agar topik kembali ke diri mereka. Sementara itu, orang lain jarang diberi ruang untuk menyelesaikan cerita.
Kebiasaan ini menunjukkan kebutuhan besar untuk menjadi pusat perhatian. Dalam jangka panjang, sikap ini bisa membuat orang di sekitarnya merasa tidak dihargai dan perlahan menjaga jarak.
7. Bersikap Dramatis Demi Jadi Pusat Perhatian
![]() Ilustrasi Perempuan Haus Pujian/Foto: Freepik.com/katemangostar |
Cleveland Clinic mengungkap kebiasaan lain orang yang tampak rendah hati tapi haus pujian adalah kecenderungan untuk menjadi pusat perhatian dengan menciptakan drama atau reaksi emosional yang berlebihan. Orang yang haus pujian sering menunjukkan perilaku emosional yang dramatis atau “over the top” hanya untuk menarik respon dari orang lain.
Demikian beberapa kebiasaan orang yang terlihat rendah hati, tapi sebenarnya hanya haus pujian, Pada dasarnya, sikap haus pujian sering berakar dari rasa tidak aman dan harga diri yang rapuh. Di permukaan, mereka tampak rendah hati dan menyenangkan. Namun, jika terlalu sering berinteraksi, relasi bisa terasa berat karena penuh drama emosional dan kebutuhan akan perhatian yang tidak ada habisnya.
Memahami pola ini penting agar kita bisa menjaga batasan emosional, sekaligus tidak terjebak dalam dinamika hubungan yang melelahkan.
***
Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!



