8 Bahan Makanan yang Terdampak Kenaikan Dolar AS, Harganya Bisa Meroket!

Justina Nur | Beautynesia
Rabu, 10 Jun 2026 11:00 WIB
Kedelai
Produksi tahu dan tempe butuh impor kedelai dari luar negeri, sehingga terdampak melemahnya rupiah terhadap dolar AS./ Foto: magnific.com/jcomp

Seperti yang kamu ketahui, akhir-akhir ini nilai mata uang rupiah semakin melemah terhadap mata uang asing, termasuk dolar AS. Kondisi ini tentu sangat berdampak bagi berbagai aspek kehidupan kita.

Hal ini karena saat mata uang rupiah melemah terhadap dolar AS, biaya impor jadi semakin mahal. Padahal, ada banyak hal di sekitar kita yang bisa hadir di kehidupan sehari-hari karena adanya impor.

Bahkan, bahan makanan yang kita konsumsi sehari-hari bisa ikut naik, karena sejumlah komoditas pangan di Indonesia sebagian besar masih bergantung pada impor yang transaksinya menggunakan mata uang dolar AS.

Lalu, apa saja bahan makanan yang terdampak kenaikan dolar Amerika Serikat? Simak penjelasan berikut ini, seperti yang telah dirangkum dari berbagai sumber.

Gandum dan Meslin

Gandum dan meslin sering digunakan untuk industri berbahan tepung seperti mie instan, roti, kue, pastry, dan sebagainya./ Foto: Magnific.com/freepik

Gandum dan meslin (gandum hitam) merupakan bahan pangan yang cukup penting bagi masyarakat Indonesia. Gandum sering dimanfaatkan untuk diolah menjadi tepung terigu yang bisa digunakan untuk membuat mie instan, mi, roti, kue dan pastry, serta berbagai makanan olahan yang terbuat dari tepung lainnya.

Seperti yang dilansir dari BBPMP Bangka Belitung, hasil samping dari proses penggilingan gandum seperti pollard gandum dan bran gandum bisa digunakan sebagai pakan ternak karena mengandung nutrisi yang baik untuk memenuhi kebutuhan ternak.

Namun, bahan pangan ini ternyata masih didatangkan dari luar negeri, seperti Amerika Serikat, Australia, Ukraina, Kanada, dan Argentina. Seperti yang dilansir dari CNBC dari data BPS, nilai CIF (Cost, Insurance, and Freight) Januari sampai Desember 2025 dari gandum dan meslin mencapai 3,05 miliar USD atau sekitar Rp54,78 triliun (dengan asumsi kurs Rp17.960,80 per dolar AS).

Oleh karena itu, dengan melemahnya mata uang rupiah terhadap dolar AS, maka harga gandum dan meslin bisa semakin meningkat yang akhirnya memengaruhi harga roti, atau makanan berbasis tepung lainnya yang dijual di sekitar kita.

Gula

Gula diimpor dalam bentuk raw sugar dan gula rafinasi untuk memenuhi kebutuhan industri minuman dan makanan./ Foto: magnific.com/freepik

Meski Indonesia adalah salah satu negara penghasil tebu, ternyata gula tetap diimpor dari luar negeri untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Biasanya, gula akan diimpor dalam bentuk raw sugar dan gula rafinasi yang biasanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan industri minuman kemasan, makanan kemasan, hingga susu.

Saat ini, nilai CIF Januari-Desember 2025 Indonesia untuk komoditas gula mencapai 1,9 miliar USD atau sekitar Rp34,13 triliun (dengan asumsi kurs Rp17.960,80 per dolar AS). Semakin melemahnya rupiah, bisa jadi minuman kemasan atau gula yang dijual harganya juga akan semakin mahal.

Kakao

Kakao untuk membuat cokelat di Indonesia masih butuh impor dari negara seperti Ekuador, Pantai Gading, dan masih banyak lagi./Foto: magnific.com/freepik

Kakao adalah bahan utama dari cokelat yang kita konsumsi. Sebelum cokelat yang kita kenal dijual di minimarket atau toko-toko di sekitar kita, ada banyak proses yang melibatkan fermentasi biji kakao, pengeringan, hingga pemanggangan.

Selain itu, biji kakao untuk industri di Tanah Air ini ternyata diimpor dari Ekuador, Pantai Gading, Kongo, Papua Nugini, Liberia, dan masih banyak lagi. Jadi, jika rupiah semakin melemah, harga cokelat bisa berpotensi ikut mengalami kenaikan.

Nilai CIF Januari-Desember 2025 Indonesia untuk komoditas kakao mencapai 1,7 miliar USD atau sekitar Rp30,53 triliun (dengan asumsi kurs Rp17.960,80 per dolar AS).

Kedelai

Produksi tahu dan tempe butuh impor kedelai dari luar negeri, sehingga terdampak melemahnya rupiah terhadap dolar AS./ Foto: magnific.com/jcomp

Kedelai adalah bahan pokok untuk membuat tahu dan tempe, salah satu jenis makanan yang kerap mengisi piringmu sebagai sumber protein nabati.

Meski tempe dan tahu terkesan harganya murah, tapi ternyata bahan untuk membuatnya yaitu kedelai masih diimpor dari luar negeri. Hal ini karena produksi kedelai lokal masih belum dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Kedelai sendiri diimpor dari Amerika Serikat, Kanada, Bolivia, Tiongkok, hingga Malaysia. Nilai CIF Januari-Desember 2025 Indonesia untuk komoditas kedelai mencapai 1,187 miliar USD atau sekitar Rp21,32 triliun (dengan asumsi kurs Rp17.960,80 per dolar AS).

Susu

Kebutuhan susu dalam negeri ternyata masih bergantung dari impor, sehingga sangat terdampak terhadap naiknya dolar AS./ Foto: magnific.com/freepik

Susu adalah salah satu bahan pangan yang penting tak hanya untuk memenuhi kebutuhan gizi, tapi juga untuk industri. Hal ini karena susu bisa diolah oleh industri menjadi produk turunan-turunannya seperti keju, yogurt, dan sebagainya.

Meski begitu, susu yang ada di Indonesia ternyata masih bergantung dari impor yang berasal dari negara seperti Selandia Baru, Belgia, Australia, Amerika Serikat, dan Jerman.

Saat ini, nilai CIF Januari-Desember 2025 Indonesia untuk komoditas susu mencapai 960 juta USD atau sekitar Rp17,24 triliun (dengan asumsi kurs Rp17.960,80 per dolar AS).

Daging Sapi

Daging sapi di Indonesia masih butuh impor dari negara seperti Australia, jadi tetap terdampak melemahnya rupiah terhadap dolar AS. /Foto: magnific.com/muhammad.abdullah

Daging sapi adalah bahan makanan yang dikonsumsi untuk memenuhi asupan protein harian. Selain itu, daging sapi juga kerap digunakan untuk industri bahan makanan seperti bakso, sosis, kornet, dan masih banyak lagi.

Daging sapi atau daging jenis lembu yang kita jumpai sekarang ternyata diimpor Indonesia dari berbagai negara seperti Australia, Brasil, India, Amerika Serikat, Selandia Baru, dan masih banyak lagi.

Sedangkan nilai CIF Januari-Desember 2025 Indonesia untuk komoditas daging sapi mencapai 609 juta USD atau sekitar Rp10,94 triliun (dengan asumsi kurs Rp17.960,80 per dolar AS).

Bawang Putih

Meski bawang putih bisa ditanam di berbagai dataran tinggi di Indonesia, kita masih butuh impor dari Tiongkok dan India./ Foto: magnific.com/jcomp

Bukan hanya bahan pokok makanan, bumbu masakan seperti bawang putih juga masih diimpor dari luar negeri. Bawang putih biasanya didatangkan dari Tiongkok dan India, walau sebetulnya bawang putih ini bisa ditanam di berbagai daerah dataran tinggi di Tanah Air.

Hal ini karena produksi bawang putih dari dalam negeri masih tidak dapat memenuhi kebutuhan pasar yang cukup tinggi. Nilai CIF Januari-Desember 2025 Indonesia untuk komoditas bawang putih sendiri sudah mencapai 608 juta USD atau sekitar Rp10,92 triliun.

Beras

Beras di Indonesia masih banyak yang diimpor dari India, Pakistan, Myanmar, Tiongkok, hingga Thailand./ Foto: magnific.com/jcomp

Beras adalah makanan pokok masyarakat Indonesia untuk memenuhi kebutuhan karbohidrat harian. Bahkan, masyarakat Indonesia sendiri punya prinsip, kalau tidak makan nasi (yang dibuat dari memasak beras), itu artinya tidak makan.

Meski ada banyak sawah di sekitar kita, beras yang ada di toko-toko sembako sebetulnya masih diimpor dari India, Pakistan, Myanmar, Tiongkok, Thailand, dan masih banyak lagi untuk memenuhi kebutuhan Tanah Air.

Bahkan nilai CIF Januari-Desember 2025 Indonesia untuk komoditas beras mencapai 217 juta USD atau sekitar Rp3,90 triliun. Oleh karena itu, jika dolar AS semakin naik atau rupiah semakin melemah, harga beras bisa ikut naik.

Itu tadi Beauties, deretan komoditas bahan makanan yang harganya bisa ikut terdampak akibat naiknya dolar Amerika Serikat. Semoga keadaan jadi semakin membaik ya!

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI! 

(dmh/dmh)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE