8 Kebiasaan di Media Sosial yang Bisa Berubah Jadi Tidak Sehat

Gayuh Tri Pinjungwati | Beautynesia
Jumat, 16 Oct 2026 10:00 WIB
2. Berulang Kali Menonton Konten Sendiri untuk Mencari Validasi
Berulang Kali Menonton Konten Sendiri/Foto: Pexels.com/ Xuân Thống Trần

Beauties, pernah merasa kebiasaan di media sosial sudah begitu biasa sampai kita tidak lagi mempertanyakannya? Mulai dari kepo akun mantan sampai mengecek siapa saja yang melihat story, ternyata ada beberapa perilaku digital yang terlihat sepele tetapi bisa menjadi berlebihan.

Melansir dari YourTango ada beberapa kebiasaan yang sering dianggap normal, padahal jika dilakukan terus-menerus bisa menunjukkan hubungan kita dengan media sosial yang kurang sehat. Yuk, cek apakah ada yang diam-diam masih sering kamu lakukan. 

 

1. Stalking

Stalking/Foto: Pexels.com/ Trần Quốc Bảo

Sesekali melihat akun seseorang sebenarnya bukan hal yang aneh karena media sosial memang dibuat untuk memungkinkan kita mengetahui aktivitas orang lain. Namun, kebiasaan ini bisa berubah menjadi tidak sehat ketika kita terus memantau akun seseorang setiap hari. 

Kebiasaan ini bisa membuat perhatian kita terus tertuju pada kehidupan orang lain tanpa benar-benar mendapatkan sesuatu yang berarti. Apalagi jika orang yang dipantau adalah seseorang yang pernah memberikan pengalaman buruk atau hubungan yang sudah selesai.

Karena itu, Beauties, rasa penasaran sebaiknya tetap memiliki batas. Kalau membuka akun seseorang justru membuat pikiran semakin gelisah atau sulit move on, mungkin sudah waktunya memberikan jarak dari aktivitas tersebut.

2. Berulang Kali Menonton Konten Sendiri untuk Mencari Validasi

Berulang Kali Menonton Konten Sendiri/Foto: Pexels.com/ Xuân Thống Trần

Menonton kembali video atau melihat unggahan sendiri sesekali tentu bukan sesuatu yang aneh. Namun, ketika seseorang terus mengulang kontennya terutama karena ingin mengejar jumlah penonton atau mencari dorongan kepercayaan diri dari respons orang lain, ini bisa jadi tidak sehat.

Awalnya mungkin terasa menyenangkan ketika sebuah unggahan mendapatkan banyak perhatian. Masalahnya, ketika respons tersebut menjadi ukuran harga diri, unggahan yang tidak mendapatkan banyak views justru bisa membuat seseorang merasa kecewa terhadap dirinya sendiri.

Padahal, tidak semua konten yang kita sukai akan mendapatkan perhatian besar. Beauties tetap boleh menjadi pendukung nomor satu untuk diri sendiri tanpa harus menjadikan angka di media sosial sebagai penentu seberapa berharga dirimu.

3. Terobsesi Melihat Foto Mantan

Terobsesi Melihat Foto Mantan/Foto: Pexels.com/ Jobert Enamno

Setelah putus cinta, rasa penasaran terhadap kehidupan mantan memang cukup manusiawi. Tetapi, kebiasaan terus-menerus memeriksa foto atau akun mantan dapat menjadi tanda bahwa seseorang masih belum benar-benar pulih dari hubungan tersebut. 

"Secara alami, kita memiliki kecenderungan untuk memperhatikan orang lain. Bahkan jika kita yang mengakhiri hubungan, pada dasarnya kita ingin meyakini bahwa tidak ada seorang pun yang bisa menggantikan posisi kita. Kita menginginkan pengakuan bahwa diri kita berharga atau merupakan sosok yang baik, oleh karena itu, kita berharap mereka akan merasa sedikit sedih atau menderita tanpa kehadiran kita," ujar psikolog media Pamela Rutledge. 

4. Menghapus Unggahan karena Sepi Like

Menghapus Unggahan karena Sepi Like/Foto: Pexels.com/ Dương Nhân

Pernah menghapus foto karena jumlah likes-nya jauh lebih sedikit dari perkiraan? Kebiasaan menghapus unggahan karena kurang mendapatkan perhatian menandakan bahwa rasa berharga terlalu bergantung pada respons orang lain. 

Ketika sebuah foto sudah dibuat dengan susah payah, tentu wajar jika kita berharap orang lain menyukainya. Namun, jumlah likes tidak selalu menggambarkan kualitas sebuah unggahan karena algoritma, waktu posting, dan kebiasaan audiens juga dapat memengaruhi jangkauannya.

Jadi, Beauties, cobalah mengunggah sesuatu karena kamu memang menyukainya, bukan semata-mata karena ingin mendapatkan pengakuan. Foto yang bermakna bagimu tetap memiliki nilai meskipun tidak mendapatkan ribuan respons.

5. Terus Mengecek Siapa yang Melihat Konten

Terus Mengecek Siapa yang Melihat Konten/Foto: Pexels.com/ Nima Ghodsi

Mengecek viewers story sekali dua kali mungkin terasa biasa. Tetapi jika dilakukan berulang kali hanya untuk mencari tahu siapa yang melihat atau tidak melihat, kebiasaan ini bisa membuat kita terlalu terpaku pada media sosial.

Selain itu, menurut sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Contemporary Clinical Practice, orang-orang dengan tingkat ketergantungan media sosial yang tinggi juga cenderung mengalami tingkat depresi yang tinggi. Karena itu, penting untuk memiliki batasan menggunakan media sosial dengan sewajarnya.

6. Memperbesar Foto Orang untuk Melihat Rumahnya

Memperbesar Foto Orang untuk Melihat Rumahnya/Foto: Pexels.com/ KUTLUER ERDAL Triumph rider

Kebiasaan memperbesar foto orang lain untuk mengintip bagian rumah, barang, buku, atau merek yang mereka gunakan juga dibahas sebagai perilaku yang cukup intrusif. Kebiasaan tersebut dapat membuat kehidupan pribadi seseorang terasa seperti konten yang bebas diamati. 

Rasa penasaran memang manusiawi, tetapi ada batas antara sekadar memperhatikan foto dan sengaja mencari detail kehidupan pribadi seseorang. Semakin jauh kita memperbesar foto hanya untuk mengetahui hal-hal yang sebenarnya tidak dibagikan secara sengaja, semakin besar pula masalah privasinya.

Media sosial seharusnya tidak membuat kita merasa berhak mengetahui seluruh kehidupan orang lain. Menghargai privasi juga berlaku ketika informasi tersebut terlihat begitu mudah diakses.

7. Marah karena Teman Tidak Menyukai Unggahan

Marah karena Teman Tidak Menyukai Unggahan/Foto: Pexels.com/ Sheep.

Tidak mendapatkan like dari teman dekat memang kadang bisa membuat kita bertanya-tanya. Namun, menganggap teman wajib memberikan respons pada setiap unggahan justru bisa menciptakan ekspektasi yang tidak realistis.

Wajar saja jika seseorang merasa kecewa akan hal ini, karena mereka mungkin merasa teman-temannya tidak peduli pada mereka. Faktanya, penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Child Development, menemukan bahwa orang yang mendapatkan lebih sedikit “likes” pada unggahan media sosial mereka cenderung memiliki penilaian diri yang lebih rendah, yang dapat memicu depresi dan kecemasan. Namun, persahabatan jauh lebih berarti daripada sekadar algoritma, dan media sosial seharusnya tidak menjadi faktor penentu dalam hubungan tersebut.

8. Menjadikan Anak sebagai Konten

Menjadikan Anak sebagai Konten/Foto: Pexels.com/ ShotPot

Anak memang bisa menjadi bagian yang menggemaskan dari media sosial keluarga. Namun, membagikan terlalu banyak informasi mengenai anak secara online dapat menimbulkan persoalan privasi, termasuk penyebaran nama, foto, atau informasi lain yang seharusnya lebih dilindungi. 

Fenomena membagikan kehidupan anak di internet sering disebut sharenting. Sebelum mengunggah foto anak, ada baiknya mempertimbangkan bukan hanya apakah fotonya lucu, tetapi juga bagaimana dampaknya ketika anak tersebut tumbuh dewasa. Privasi anak tetap perlu dihargai meskipun mereka belum dapat menentukan sendiri apa yang ingin dibagikan.

Media sosial seharusnya menjadi alat yang membantu kita terhubung, bukan ruang yang membuat kita terus mengawasi orang lain, mengejar validasi, atau membuka terlalu banyak bagian kehidupan pribadi. Jadi, Beauties, tidak ada salahnya sesekali berhenti scrolling, mematikan notifikasi, dan kembali menikmati kehidupan yang tidak harus selalu dibagikan kepada dunia.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE