8 Kriteria Penting untuk Memilih Calon Suami yang Ideal Menurut Psikolog

Nindya Putri Hermansyah | Beautynesia
Minggu, 25 Jan 2026 15:30 WIB
3. Hangat, Terpercaya, dan Dapat Diandalkan
Ilustrasi pasangan yang hangat/Freepik: freepik

Memilih calon suami bukan hanya soal rasa nyaman atau cinta yang besar di awal hubungan. Pernikahan adalah perjalanan panjang yang akan diisi dengan berbagai dinamika kehidupan, mulai dari perbedaan pendapat, tekanan pekerjaan, hingga tanggung jawab membangun keluarga. Karena itu, penting bagi setiap orang untuk memahami kualitas apa saja yang benar-benar dibutuhkan agar hubungan pernikahan bisa berjalan sehat dan bertahan lama.

Banyak psikolog menilai bahwa kebahagiaan dalam pernikahan lebih dipengaruhi oleh karakter, cara berkomunikasi, serta kesiapan emosional pasangan dibandingkan faktor romantis semata. Untuk membantu kamu memahami hal tersebut, berikut kriteria calon suami ideal dari sudut pandang psikologi. Simak!

1. Beragama dan Seiman

Ilustrasi seiman/Freepik: freepik

Dilansir dari Pew Research Center, kriteria calon suami ideal adalah beragama dan seiman sangat dianggap penting. Sebab, agama tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga membentuk nilai, sikap, dan cara seseorang menjalani kehidupan sehari-hari. Kesamaan keyakinan membantu pasangan memiliki panduan moral yang sama, termasuk dalam menyikapi masalah, mengambil keputusan penting, dan membangun keluarga bersama.

Pasangan yang memiliki kesamaan agama cenderung melaporkan tingkat kepuasan pernikahan yang lebih tinggi karena memiliki nilai hidup dan tujuan spiritual yang sejalan. Kesamaan ini juga membantu mengurangi konflik yang berkaitan dengan prinsip hidup dan pola asuh anak di kemudian hari.

2. Emosi yang Stabil

Ilustrasi pasangan yang sabar/Freepik: yanalya

Emosi yang stabil berarti seseorang mampu mengendalikan perasaannya dengan baik, tidak mudah meledak, dan bisa berpikir jernih saat menghadapi masalah. Dalam kehidupan pernikahan, perbedaan pendapat dan tekanan hidup pasti akan muncul, sehingga kestabilan emosi sangat dibutuhkan agar konflik tidak berkembang menjadi pertengkaran berkepanjangan.

Dilansir dari American Psychological Association (APA), individu yang mampu mengelola emosinya dengan baik cenderung memiliki hubungan yang lebih sehat dan minim konflik destruktif. Kestabilan emosi membantu seseorang merespons masalah dengan cara yang lebih tenang dan dewasa, sehingga hubungan menjadi lebih aman secara emosional.

3. Hangat, Terpercaya, dan Dapat Diandalkan

Ilustrasi pasangan yang hangat/Freepik: freepik

Sikap hangat dan dapat dipercaya membuat pasangan merasa aman dan dihargai dalam hubungan. Calon suami ideal yang dapat diandalkan biasanya konsisten antara ucapan dan tindakan, hadir saat dibutuhkan, serta tidak mudah mengingkari janji. Kehangatan ini juga terlihat dari perhatian sederhana dan sikap peduli terhadap pasangan.

Dilansir dari Journal of Personality and Social Psychology, kehangatan dan kepercayaan merupakan kualitas paling penting dalam memilih pasangan hidup jangka panjang. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa pasangan yang hangat dan bisa dipercaya lebih berpeluang menciptakan hubungan yang stabil dan memuaskan.

4. Komunikasi yang Efektif dan Terbuka

Ilustrasi pendengar yang baik/Freepik: freepik

Komunikasi yang baik bukan hanya soal berbicara, tetapi juga soal mendengarkan. Calon suami yang ideal mampu menyampaikan perasaan dan pikirannya dengan jujur, sekaligus mau mendengar sudut pandang pasangan tanpa menyela atau meremehkan. Sikap ini sangat penting saat terjadi perbedaan pendapat.

Dilansir dari The Gottman Institute, keberhasilan pernikahan sangat ditentukan oleh cara pasangan berkomunikasi saat konflik. Gottman menjelaskan bahwa pasangan yang mampu berdiskusi secara terbuka dan mencari solusi bersama memiliki peluang lebih besar untuk mempertahankan hubungan jangka panjang.

5. Visi dan Tujuan Hidup yang Sama

Ilustrasi pasangan yang tepat/Freepik: freepik

Memiliki visi dan tujuan hidup yang sama membantu pasangan berjalan ke arah yang sejalan. Kesamaan ini mencakup pandangan tentang keluarga, karier, gaya hidup, hingga cara menghadapi tantangan hidup. Tanpa kesamaan tujuan, hubungan bisa dipenuhi tarik-menarik kepentingan yang melelahkan.

Dilansir dari European Journal of Social Psychology, pasangan dengan nilai dan tujuan hidup yang sejalan cenderung memiliki hubungan yang lebih harmonis dan stabil. Penelitian tersebut menjelaskan bahwa kesamaan visi memudahkan pasangan dalam mengambil keputusan besar bersama dan mengurangi konflik jangka panjang.

6. Komitmen dan Kesetiaan

Ilustrasi pasangan yang romantis dan setia/Freepik: freepik

Kesetiaan adalah bentuk nyata dari komitmen dalam hubungan. Bukan hanya soal tidak berpaling kepada orang lain, tetapi juga tentang konsistensi dalam menjaga kepercayaan dan tetap memilih pasangan di tengah berbagai tantangan hidup. Kesetiaan membuat hubungan terasa aman dan tidak penuh kecurigaan.

Dilansir dari Journal of Social and Personal Relationships, komitmen dan kesetiaan terbukti menjadi salah satu faktor terkuat yang menjaga hubungan tetap bertahan dalam jangka panjang. Penelitian tersebut menyebutkan bahwa pasangan yang memiliki komitmen tinggi lebih mampu menghadapi tekanan dan konflik tanpa mengorbankan hubungan.

7. Rasa Hormat (Respect) dan Empati

Ilustrasi pasangan yang mencintai/Freepik: freepik

Rasa hormat berarti memperlakukan pasangan sebagai mitra sejajar, bukan sebagai pihak yang lebih rendah atau harus selalu mengalah. Empati melengkapi rasa hormat dengan kemampuan memahami perasaan pasangan dan melihat situasi dari sudut pandangnya.

Dilansir dari Psychology Today, hubungan yang sehat ditandai oleh adanya empati dan rasa hormat yang konsisten antar pasangan. Selain itu, empati membantu pasangan menyelesaikan konflik dengan lebih tenang dan saling memahami, bukan saling menyakiti.

8. Stabilitas dalam Kehidupan (Finansial & Pekerjaan)

Ilustrasi pasangan yang stabil/Freepik: freepik

Stabilitas finansial dan pekerjaan bukan berarti harus kaya, tetapi menunjukkan tanggung jawab dan kesiapan membangun kehidupan bersama. Calon suami yang stabil biasanya mampu mengelola keuangan, bekerja dengan konsisten, dan memiliki rencana hidup yang realistis.

Dilansir dari American Psychological Association, tekanan finansial merupakan salah satu penyebab utama konflik dalam rumah tangga. Karena itu, stabilitas ekonomi dinilai penting untuk mengurangi stres dalam hubungan dan membantu pasangan fokus membangun kehidupan yang sehat secara emosional.

Beauties, memilih calon suami bukan soal mencari sosok yang sempurna, tetapi menemukan pasangan yang matang secara emosional, bertanggung jawab, dan sejalan dengan nilai hidup kamu. Hubungan yang sehat dimulai dari pilihan yang tepat, dan kamu layak mendapatkan pasangan yang mampu tumbuh bersama kamu, dalam keadaan senang maupun sulit.

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(ria/ria)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE