9 Ciri Kepribadian Orang yang Suka Oversharing di Media Sosial

Gayuh Tri Pinjungwati | Beautynesia
Selasa, 29 Sep 2026 13:15 WIB
2. Suka Membangun Koneksi
Suka Membangun Koneksi/Foto: Pexeles.com/ Mikhail Nilov

Beauties, media sosial memang menjadi tempat yang menyenangkan untuk berbagi banyak hal, mulai dari foto liburan, makanan favorit, pencapaian kecil, sampai cerita keseharian yang terasa menarik untuk dibagikan. Namun, ada orang yang hampir selalu menceritakan setiap detail hidupnya secara online, bahkan hal-hal yang sebenarnya cukup pribadi dan tidak perlu diketahui banyak orang.

Menurut YourTango, kebiasaan membagikan terlalu banyak hal di media sosial dapat berkaitan dengan sejumlah karakter tertentu, seperti keinginan mendapatkan validasi, terlalu memperhatikan citra diri, hingga kesulitan mengendalikan reaksi emosional.

Meski begitu, karakter-karakter ini tidak berarti setiap orang yang aktif mengunggah sesuatu pasti memiliki sifat tersebut, karena konteks dan kebiasaan setiap pengguna media sosial tentu berbeda. Yuk, cari tahu selengkapnya!

1. Cenderung Ceroboh

Cenderung Ceroboh/Foto: Pexels.com/ cottonbro studio

Beauties, orang yang suka oversharing terkadang terlalu spontan ketika membagikan sesuatu di media sosial. Mereka bisa mengunggah lokasi, masalah pribadi, atau konflik dengan orang lain tanpa memikirkan dampaknya lebih jauh.

Keinginan untuk segera bercerita membuat mereka lupa mengambil jeda sebelum menekan tombol unggah. Akibatnya, informasi yang sebenarnya bersifat pribadi bisa diketahui terlalu banyak orang.

2. Suka Membangun Koneksi

Suka Membangun Koneksi/Foto: Pexeles.com/ Mikhail Nilov

Bagi sebagian orang, media sosial adalah cara untuk merasa terhubung dengan komunitas dan menemukan orang-orang yang memiliki pengalaman serupa. Karena itu, mereka merasa nyaman menceritakan banyak hal tentang kehidupannya.

Kebutuhan untuk diterima dan memiliki tempat untuk berbagi memang sangat manusiawi. Namun, Beauties tetap perlu berhati-hati agar keterbukaan tidak membuat orang lain memanfaatkan kerentanan kita.

3. Cenderung Suka Mengontrol

Cenderung Suka Mengontrol/Foto:Pexels.com/ cottonbro studio

Orang yang gemar membagikan kehidupannya juga bisa sangat memperhatikan bagaimana dirinya terlihat di mata orang lain. Mereka mungkin merasa tidak nyaman ketika ada foto atau cerita yang tidak sesuai dengan citra yang ingin ditampilkan. Keinginan mengendalikan image tersebut dapat membuat seseorang sulit menerima hal-hal yang berada di luar kendalinya. Padahal, tidak semua penilaian orang lain perlu kita atur.

Menurut psikoterapis Sharon Martin, perilaku ingin memegang kendali sering kali berakar pada kecemasan dan ketakutan. Saat situasi terasa di luar kendali, wajar jika kita ingin mengendalikannya demi merasa aman.

Namun, tentu saja, kita tidak bisa mengendalikan orang lain ataupun situasi yang ada. Jadi, upaya kita pada akhirnya tidak membuat kita merasa lebih baik. Justru, perilaku ingin memegang kendali biasanya justru menimbulkan masalah dalam hubungan serta membuat kita merasa frustrasi dan stres.

4. Suka Bersosialisasi

Suka Bersosialisasi/Foto: Pexels.com/ RDNE Stock project

Beauties, orang yang outgoing biasanya memang menikmati interaksi, pengalaman baru, dan kegiatan bersama banyak orang. Media sosial kemudian menjadi ruang tambahan untuk membagikan keseruan tersebut.

Mereka mungkin senang mengunggah aktivitas bersama teman, perjalanan, hingga momen spontan yang menurut mereka menarik. Bagi mereka, berbagi cerita bisa menjadi bagian dari kesenangan bersosialisasi.

5. Cenderung Perfeksionis

Cenderung Perfeksionis/Foto: Pexels.com/ cottonbro studio

Menariknya, oversharing tidak selalu berarti seseorang menunjukkan seluruh sisi kehidupannya apa adanya. Mereka justru bisa memilih bagian tertentu yang dianggap paling menarik untuk membentuk kesan kehidupan yang sempurna.

Foto terbaik, pencapaian, liburan, atau momen bahagia lebih sering ditampilkan daripada sisi kehidupan yang berantakan. Keinginan mempertahankan citra sempurna ini dapat membuat media sosial terasa seperti panggung pribadi. Sayangnya, menurut penelitian dari Journal of Social & Clinical Psychology, perfeksionisme dapat memicu depresi, keterasingan sosial, dan hilangnya rasa memiliki.

6. Kurang Menyadari Batas Diri

Kurang Menyadari Batas Diri/Foto: Pexels.com/ Nam Phong Bùi

Orang yang terlalu sering berbagi terkadang kurang menyadari bahwa tidak semua cerita cocok dikonsumsi publik. Mereka mungkin merasa sebuah pengalaman biasa saja, padahal bagi orang lain informasi tersebut sudah tergolong sangat pribadi.

Kurangnya kesadaran terhadap batas ini dapat membuat seseorang menyesal setelah unggahannya mendapatkan respons tertentu. Karena itu, kemampuan berhenti sejenak dan mempertimbangkan konsekuensi menjadi penting.

7. Sangat Memperhatikan Image

Sangat Memperhatikan Image/Foto: Pexels.com/ Q. Hưng Phạm

Beauties, media sosial membuat kita semakin sadar terhadap penampilan dan bagaimana kehidupan kita terlihat dibandingkan dengan orang lain. Seseorang yang sangat memperhatikan image bisa terdorong untuk terus menunjukkan sisi terbaik dirinya.

Tanpa disadari, kebiasaan membandingkan diri dengan unggahan orang lain juga bisa memengaruhi rasa percaya diri. Karena itu, sesekali mengambil jarak dari media sosial dapat membantu menjaga ketenangan diri.

8. Mudah Merasa Khawatir

Mudah Merasa Khawatir/Foto: Pexels.com/ EGO AGENCY EGO AGENCY

Orang yang mudah khawatir terkadang menggunakan media sosial sebagai tempat meluapkan berbagai keresahan. Hal kecil seperti masalah pekerjaan, hubungan, atau kejadian sehari-hari bisa menjadi bahan unggahan ketika pikirannya sedang penuh.

Membagikan kekhawatiran mungkin membuat mereka merasa lebih lega untuk sementara. Namun, jika setiap masalah selalu dibawa ke media sosial, kebiasaan tersebut justru bisa membuat seseorang semakin sulit memproses emosinya secara pribadi.

9. Suka Mencari Validasi

Suka Mencari Validasi/Foto: Pexels.com/ 小和尚 温柔的

Beauties, likes, komentar, dan respons dari followers memang bisa memberikan rasa senang. Bagi orang yang membutuhkan validasi, perhatian tersebut bahkan dapat menjadi alasan utama mengapa mereka terus membagikan cerita pribadi.

Masalahnya, rasa percaya diri bisa ikut naik turun mengikuti jumlah respons yang diterima. Jika sudah terlalu sering mengecek engagement, mungkin sudah waktunya mengambil jeda dan kembali mendengarkan penilaian dari diri sendiri.

Pada akhirnya, aktif di media sosial bukan sesuatu yang buruk selama kita tetap memiliki kendali atas apa yang dibagikan dan alasan di baliknya. Kalau mulai merasa setiap momen harus diposting atau setiap unggahan membutuhkan validasi, mungkin ini saat yang tepat untuk mengambil jeda dan kembali menikmati kehidupan tanpa selalu melihatnya melalui layar.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE