Apa Saja Tren HR yang Bakal Populer dan Bikin Dunia Kerja Makin Menarik di 2025? Ini Ulasannya

Dewi Maharani Astutik | Beautynesia
Jumat, 11 Apr 2025 18:15 WIB
Peningkatan Fokus pada Kesejahteraan Karyawan di Ranah Finansial
Ilustrasi/Foto: Freepik/pressfoto

Peran Human Resources (HR) dalam menciptakan lingkungan kerja yang menarik dan produktif sangatlah krusial. Seiring dengan transformasi dunia kerja yang makin cepat di mana HR dituntut untuk terus beradaptasi dengan berbagai tren terbaru agar tetap relevan dan efektif.

Di tahun ini pun, ada beberapa tren HR 2025 yang diprediksi akan mendominasi dan membawa perubahan signifikan dalam strategi rekrutmen modern dan manajemen sumber daya manusia dalam perusahaan. Berikut ulasannya dilansir dari SHRM.

Peningkatan Keterampilan Karyawan untuk Meningkatkan Daya Saing

Ilustrasi/Foto: Freepik
Ilustrasi/Foto: Freepik

James Atkinson dari SHRM mengindikasikan bahwa perubahan teknologi yang cepat membuat karyawan memerlukan pelatihan tambahan bahkan sebelum proses orientasi selesai. Data SHRM menunjukkan bahwa 83 persen pemimpin HR menganggap peningkatan keterampilan sebagai hal penting agar pekerja tetap kompetitif di pasar kerja yang dipengaruhi oleh artificial intelligence (AI).

Organisasi kini menilai keterampilan karyawan mereka untuk menyesuaikannya dengan kebutuhan masa depan yang diprediksi, terutama dengan adopsi AI dan teknologi canggih lainnya. Selain itu, perusahaan menyadari pentingnya mengintegrasikan karyawan dengan teknologi dalam peran yang sedang berubah atau baru muncul. Tuntutan pelanggan yang meningkat memaksa perusahaan untuk terus berinovasi, sedangkan karyawan dituntut untuk meningkatkan produktivitas mereka.

Karyawan juga menyadari pentingnya pembaruan keterampilan untuk menjaga daya saing mereka. Survei PwC 2024 mengungkapkan bahwa hampir setengah dari karyawan mempertimbangkan kesempatan belajar keterampilan baru sebagai faktor kunci dalam keputusan karier mereka. Namun, meskipun ada rencana dari banyak pemberi kerja untuk meningkatkan keterampilan karyawan, penelitian SHRM menemukan bahwa hanya 29 persen organisasi yang telag mengambil langkah proaktif dalam melatih karyawan untuk bekerja bersama AI.

Analitik Sumber Daya Manusia

Ilustrasi/Foto: Freepik/rawpixel.com

Dalam pasar tenaga kerja yang masih ketat, organisasi harus menemukan cara cerdas dan efektif untuk mendorong loyalitas karyawan jangka panjang. Salah satu solusi potensial yang bisa diterapkan adalah analitik sumber daya manusia, yaitu ilmu yang menggunakan data tentang kinerja karyawan, keterampilan, keterlibatan, dan sentimen untuk memprediksi dan membentuk masa depan tenaga kerja.

Analitik sumber daya manusia dapat mengungkap berbagai wawasan. Misalnya, menganalisis data survei keterlibatan karyawan dapat membantu perusahaan menentukan moral karyawan atau alasan berulang di balik pengunduran diri atau pergantian karyawan. Analitik sumber daya manusia juga dapat mengidentifikasi peluang pembelajaran dan potensi pengembangan, seperti kesenjangan keterampilan yang mungkin menghambat kemajuan.

Penggunaan analitik ini juga dapat membantu dalam mengidentifikasi kebutuhan intervensi dini, seperti penyediaan sumber daya kesehatan mental, sebelum masalah berkembang menjadi krisis yang lebih besar. Saat ini, banyak profesional HR menggunakan analitik sumber daya manusia untuk menilai retensi dan pergantian karyawan, serta untuk mendukung proses rekrutmen dan perekrutan. Beberapa organisasi bahkan memanfaatkan kecerdasan buatan untuk mengidentifikasi calon karyawan berperforma tinggi berdasarkan profil karyawan sukses sebelumnya, sehingga dapat fokus pada pengembangan dan retensi talenta tersebut.

Peningkatan Fokus pada Kesejahteraan Karyawan di Ranah Finansial

Ilustrasi/Foto: Freepik/pressfoto

Meskipun kesehatan fisik dan mental telah lama menjadi fokus, kini ”kesehatan“ finansial juga dianggap krusial karena berdampak signifikan pada kehidupan pribadi dan profesional karyawan.

Data menunjukkan peningkatan jumlah pemberi kerja yang menawarkan manfaat perencanaan finansial di tempat kerja, dari 14 persen pada tahun 2023 menjadi 28 persen pada tahun 2024, dengan proyeksi hampir setengahnya akan menyediakan program kesejahteraan finansial komprehensif pada akhir 2026. Hal ini mencerminkan pergeseran persepsi bahwa kesejahteraan finansial bukan lagi sekadar manfaat tambahan, tetapi kebutuhan utama.

Survei mengindikasikan bahwa lebih dari setengah karyawan mengalami stres terkait keuangan mereka setiap hari. Oleh karena itu, manfaat seperti bantuan persiapan pensiun, perencanaan finansial, dan panduan investasi pensiun berbasis tujuan menjadi sangat diminati.

Selain itu, terdapat perbedaan kebutuhan finansial antar generasi. Karyawan mudah mungkin membutuhkan bantuan dalam menabung untuk uang muka rumah atau mengelola pinjaman pendidikan, sedangkan Baby Boomers lebih memprioritaskan pendidikan finansial.

Sementara itu, Generasi Milenial dan Generasi Z cenderung menginginkan pelatihan dan perencanaan finansial yang dipersonalisasi. Memahami perbedaan ini penting bagi organisasi untuk menyediakan dukungan yang tepat sesuai dengan kebutuhan masing-masing generasi dalam tenaga kerja mereka.

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE