Apakah AI Chatbot Punya Kepribadian? Ini Fakta dan Penjelasannya

Florence Febriani Susanto | Beautynesia
Jumat, 10 Apr 2026 10:00 WIB
Kenapa Kepribadian Buatan AI Jadi Penting?
AI Chatbot/Foto: Freepik

AI Chatbot kini berkembang sangat pesat dan semakin terasa seperti manusia ketika diajak berbicara sehari-hari. Bahkan, banyak orang mulai merasa chatbot memiliki karakter tertentu, seolah-olah mereka punya cara berpikir dan kepribadian sendiri.

Namun, pertanyaannya adalah, apakah benar chatbot punya kepribadian atau hanya sekadar meniru pola komunikasi manusia? Di tengah meningkatnya penggunaan aneka AI Chatbot, penting banget buat kamu memahami bagaimana teknologi ini bekerja dan apa dampaknya dalam kehidupan sehari-hari.

Kelebihan dan Resiko AI yang Terasa Manusiawi

AI/Foto: Freepik

Beauties, menurut penelitian dari University of Cambridge dan Google DeepMind yang dipublikasikan di Nature Machine Intelligence, AI berbasis large language models (LLMs) mampu meniru karakter manusia dari data yang mereka pelajari. Para peneliti menyebutnya sebagai “synthetic personality” atau kepribadian buatan.

Mereka menjelaskan bahwa sejumlah besar data manusia memungkinkan model ini meniru karakteristik manusia dalam output-nya. Artinya, chatbot tidak benar-benar memiliki kepribadian, tetapi mampu menampilkan respons yang terasa sangat personal dan konsisten.

Di satu sisi, hal ini membuat interaksi jadi lebih nyaman dan engaging, sehingga kamu merasa lebih dekat saat berbicara dengan chatbot. Namun di sisi lain, kemampuan ini juga bisa meningkatkan pengaruh chatbot terhadap keputusan atau opini kamu, dan itu tidak selalu positif.

Jadi, Beauties, semakin terasa manusiawi sebuah chatbot, maka semakin besar juga potensi dampaknya terhadap cara kamu berpikir dan merespons informasi. Inilah alasan kenapa topik chatbot punya kepribadian jadi penting untuk dibahas lebih dalam.

Kenapa Kepribadian Buatan AI Jadi Penting?

AI Chatbot/Foto: Freepik

Penggunaan AI tools terus meningkat, dan data menunjukkan bahwa chatbot sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Berdasarkan survei YouGov tahun 2025 terhadap 1.132 orang dewasa di Amerika, sebanyak 56 persen responden mengaku menggunakan alat AI.

Tidak hanya itu, penggunaan chatbot di kalangan remaja juga sangat tinggi. Menurut survei Pew Research Center tahun 2025, sebanyak 68 persen remaja usia 15–17 tahun dan 57 persen usia 13–14 tahun menggunakan AI chatbot, bahkan sekitar tiga dari sepuluh remaja berinteraksi setiap hari.

Chatbot yang paling sering digunakan adalah ChatGPT dengan 59 persen, disusul Gemini 23 persen, Meta AI 20 persen, Copilot 14 persen, Character.ai 9 persen, dan Claude 3 persen. Data ini menunjukkan bahwa aneka AI Chatbot sudah menjadi bagian dari kebiasaan digital generasi muda.

Karena itulah, para peneliti menekankan bahwa penting untuk mengevaluasi kepribadian buatan ini secara ilmiah. Mereka juga menyebut bahwa hingga kini masih ada kebutuhan besar untuk mengukur validitas dan konsistensi “kepribadian” yang ditampilkan oleh chatbot.

Bagaimana Tes Psikologi Digunakan untuk Mengukur AI?

Kecanggihan AI/Foto: Freepik

Beauties, untuk menjawab pertanyaan besar ini, para peneliti mengembangkan metode pengujian psikometrik yang biasanya digunakan untuk manusia. Tes ini digunakan untuk mengukur aspek seperti kepribadian, emosi, hingga cara berpikir secara sistematis.

Dalam studi tersebut, mereka menguji 18 model AI termasuk PaLM, Llama 2, Llama 2-Chat, Mistral, Mixtral, dan GPT menggunakan 11 jenis tes kepribadian. Metode ini dilakukan dengan pendekatan prompting terstruktur agar hasilnya lebih konsisten dan bisa dianalisis secara ilmiah.

Hasilnya cukup menarik, Beauties, karena mereka menemukan bahwa output dari AI bisa menunjukkan pola kepribadian yang stabil dan dapat diukur. Bahkan, kepribadian tersebut bisa dibentuk atau diarahkan sesuai kebutuhan tertentu, tergantung pada desain sistemnya.

Para peneliti juga menegaskan bahwa temuan ini penting untuk isu etika, termasuk bagaimana manusia memandang AI sebagai entitas yang terasa hidup. Selain itu, ada risiko penyalahgunaan jika kepribadian buatan ini digunakan untuk mempengaruhi pengguna secara tidak sadar.

Beauties, meskipun AI Chatbot terlihat semakin manusiawi dan mampu meniru kepribadian dengan sangat baik, mereka tetap tidak memiliki kesadaran atau identitas seperti manusia. Semua respons yang kamu terima sebenarnya adalah hasil dari pola data dan algoritma yang kompleks.

Namun, karena aneka AI Chatbot semakin sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari, penting bagi kamu untuk tetap kritis dan sadar saat berinteraksi. Karena meskipun terlihat seperti manusia, chatbot tetaplah alat yang dirancang untuk membantu, bukan menggantikan cara berpikir kamu sepenuhnya.

Bagaimana menurutmu, Beauties?

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.