Asal-Usul Lahirnya Istilah "Pelecehan Seksual", Dicetuskan oleh Jurnalis Perempuan Lin Farley

Nadya Quamila | Beautynesia
Rabu, 07 Oct 2026 15:00 WIB
Ilustrasi/Foto: Ilustrasi dari Rajulur Rasyid

Pelecehan seksual atau sexual harassment adalah segala bentuk perilaku bernuansa seksual tanpa adanya persetujuan, baik secara verbal, fisik, maupun non verbal yang membuat korban terhina, malu, hingga terintimidasi.

Istilah pelecehan seksual dicetuskan pada 1970 oleh sosok perempuan bernama Lin Farley, Beauties. Ketika mencetuskan istilah "sexual harassment", Lin Farley adalah seorang jurnalis sekaligus pengajar di Universitas Cornell.

Istilah ini digunakan Farley untuk merangkum pengalaman yang dialami begitu banyak perempuan di tempat kerja mereka di seluruh negeri. Ia kemudian menulis buku berjudul Sexual Shakedown: The Sexual Harassment of Women on the Job yang terbit pada 1978.

Dikutip dari Yale University Press, sebelum menulis buku tersebut, pada 1974, Farley bekerja di Universitas Cornell sebagai direktur di Bagian Perempuan sekaligus dosen untuk mata kuliah studi lapangan berjudul "Perempuan dan Pekerjaan" (Women and Work). Di salah satu diskusi tentang peningkatan kesadaran yang terkait dengan mata kuliah tersebut, para perempuan di kelas tersebut menceritakan pengalaman mereka di tempat kerja.

Farley lalu menyadari sebuah pola, yaitu setiap perempuan di kelas tersebut pernah berhenti atau dipecat dari pekerjaan karena merasa sangat tidak nyaman akibat perilaku dari pria. Ia mendapati bahwa fenomena pelecehan dan intimidasi oleh pria terhadap pekerja perempuan ini belum pernah dijelaskan dalam literatur maupun diakui secara umum sebagai sebuah masalah. Padahal kenyataannya, ia terus mendengar cerita serupa dari perempuan dari berbagai latar belakang kehidupan. Dari sinilah akar istilah pelecehan seksual mulai dikembangkan oleh Farley, Beauties.

Satu tahun kemudian, tepatnya pada 1975, terinspirasi oleh kasus Carmita Wood, seorang asisten administratif bagi profesor di Cornell Universitas, Boyce McDaniel, kelompok di Cornell tersebut membentuk organisasi anti-pelecehan bernama Working Women United.

Wood telah mengundurkan diri setelah mengalami gejala fisik akibat stres karena harus menolak upaya pendekatan seksual yang terus-menerus dilakukan oleh McDaniel. Setelah Cornell menolak memberikan tunjangan pengangguran baginya, Wood mendatangi Kantor Urusan Kemanusiaan , yang dikelola oleh Farley dan dua aktivis feminis lainnya, Susan Meyer serta Karen Sauvigné, sebagaimana dikutip dari Cambridge University Press.

Pada bulan April 1975, Farley memberikan kesaksian dalam sidang Komisi Hak Asasi Manusia Kota New York mengenai topik Perempuan dan Pekerjaan, yang dipimpin oleh Eleanor Holmes Norton. Ia mendefinisikan pelecehan seksual sebagai "upaya pendekatan seksual yang tidak diinginkan terhadap karyawan perempuan oleh penyelia, atasan, mandor, atau manajer laki-laki."

Farley memberikan sebuah contoh, yaitu hal ini sering kali berarti bahwa seorang perempuan dipekerjakan karena ia parasnya, terlepas dari kualifikasinya; bahwa keamanan kerja seorang perempuan senantiasa bergantung pada seberapa baik ia memuaskan atasannya, sementara sang atasan sering kali menganggap hubungan seksual sebagai bagian dari deskripsi pekerjaan. Di sisi lain, Farley juga menyorot fakta bahwa perempuan sering kali dipecat karena mereka bertambah tua, terlalu mandiri, atau menolak ajakan seksual.

Seorang wartawan New York Times yang mendengar kesaksian Farley lalu menulis berita mengenai hal tersebut, Beauties. Menjelang akhir 1975, perkataan Farley menyebar luas secara nasional. Lembaga-lembaga pemerintah mulai mengakui pelecehan seksual sebagai masalah yang perlu ditangani.

Bahkan, Komisi Hak Asasi Manusia pimpinan Norton menambahkan ketentuan dalam perjanjian tindakan afirmatif mereka yang menjamin "perlindungan bagi karyawan pria maupun perempuan terhadap pelanggaran privasi seksual yang tidak adil". Selama beberapa dekade berikutnya, Farley menyampaikan berbagai presentasi publik dan akademis mengenai topik soal pelecehan seksual, serta menjadi konsultan bagi Departemen Tenaga Kerja AS, organisasi hak-hak sipil, dan program studi perempuan.

(naq/naq)