Belajar dari Broken Strings Karya Aurelie Moeremans: Posesif Bukan Berarti Sayang

Riswinanti Pawestri Permatasari | Beautynesia
Kamis, 15 Jan 2026 20:00 WIB
Belajar dari Broken Strings Karya Aurelie Moeremans: Posesif Bukan Berarti Sayang
Aurelie Moeremans/Foto: Instagram @aurelie

Memoar berjudul “Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth” karya Aurelie Moeremans belakangan menjadi perbincangan panas di media sosial. Buku ini mengungkap pengalaman Aurelie saat terjebak dalam hubungan yang tidak sehat dan penuh luka di usia muda.

Memoar itu membuka tabir tentang pengalaman masa kecilnya yang dipenuhi dengan kontrol, manipulasi, dan tekanan emosional dari hubungan yang tampak manis tapi berujung traumatis. Aurelie mengungkap bagaimana hal yang saat itu dianggapnya sebagai perhatian ternyata merupakan bentuk kontrol dan eksploitasi yang belakangan dipahaminya sebagai tindakan kekerasan emosional dan psikologis.

Sinopsis Broken Strings karya Aurelie Moeremans

Buku
Buku "Broken Strings" Karya Aurelie Moeremans/Foto: Instagram @aurelie

Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth adalah memoar yang ditulis oleh Aurelie Moeremans dan dirilis pertama kali dalam format digital pada 10 Oktober 2025. Melansir Detikcom, memoir ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia karena banyak pembaca yang memintanya.

Di dalam Broken Strings, Aurelie menceritakan bagaimana ia menjadi korban child grooming saat baru berusia sekitar 15 tahun. Ia menggambarkan pertemuannya dengan sosok pria dewasa bernama Bobby (nama samaran). Pada awalnya Bobby tampak peduli dan memberikan perhatian luar biasa, namun kemudian perlahan mengendalikan hidupnya dengan manipulasi emosional, isolasi sosial, dan tekanan psikologis yang intens. Hubungan yang tampak seimbang pada awalnya itu ternyata penuh dengan kontrol ekstrem dan kekerasan emosional.

Buku ini menjadi viral karena kisahnya langsung membuka isu sensitif seperti grooming, tekanan psikologis, dan kekerasan dalam hubungan yang sering kali tidak banyak dibicarakan secara terbuka di Indonesia. Selain itu, Aurelie menulis buku ini sebagai suara penyintas. Bukan hanya bercerita, tetapi juga untuk memberikan edukasi dan dukungan bagi banyak orang yang mungkin mengalami hal serupa.

Fakta: Banyak Orang Keliru Mengenali Posesif Sebagai Bentuk Sayang

Ilustrasi Pasangan Posesif/Foto: Freepik.com/yanalya

Mungkin Beauties sering mendengar kata-kata seperti “cemburu adalah tanda sayang”. Kalimat ini mungkin sangat relate dengan dunia percintaan di mana pasangan memiliki rasa memiliki dan berusaha menjaga agar pasangan tetap “di jalur yang benar”. Tidak heran jika sering kali ketika pasangan terlalu ingin tahu dengan siapa pasangannya berinteraksi, selalu merasa khawatir saat pasangannya bersama teman, atau merasa cemburu terhadap hal-hal kecil, itu dikira “tanda cinta.”

Perasaan cemburu sesekali memang normal di dalam hubungan. Tapi ketika cemburu berubah menjadi kontrol, seperti memeriksa ponsel, memaksa pasangan memberi informasi lokasi setiap waktu, atau membatasi hubungan sosial pasangan, itu sudah masuk ke wilayah yang merusak.

WebMD menyebut bahwa possessiveness atau sifat posesif sering kali pada intinya adalah takut kehilangan pasangan, bukan cinta yang sehat. Orang yang posesif mungkin merasa tenang ketika kontrolnya kuat, tetapi relasi yang sehat justru dibangun atas dasar kepercayaan, bukan pengawasan terus-menerus.

Dalam konteks usia muda, seperti yang dialami Aurelie saat remaja, perasaan “dipedulikan” oleh sosok dewasa bisa terasa sangat mendalam, terlebih jika sosok itu memberikan perhatian berlebihan, hadiah, atau dukungan emosional di awal. Namun kadang fokusnya bukan pada kesejahteraan si remaja, melainkan pada relasi kuasa yang kemudian berubah menjadi kontrol. Proses seperti itu disebut grooming, yaitu strategi manipulatif yang membangun ikatan dan memanfaatkan ketergantungan korban sebelum eksploitasi terjadi.

Kenali Sikap Manipulatif dalam Hubungan

Ilustrasi Pasangan Posesif/Foto: Freepik.com/jcomp

Sikap posesif pada umumnya akan mengarah pada tindakan manipulasi, sebagaimana dilaporkan WebMD. Manipulasi bukan sekadar argumen kecil atau cara berkomunikasi yang buruk. Ini adalah pola di mana satu pihak mencoba mengendalikan reaksi, keputusan, dan bahkan perasaan pihak lain dengan cara yang halus tetapi terstruktur.

WebMD juga menjelaskan bahwa manipulasi sering kali berkaitan dengan usaha untuk mengarahkan bagaimana seseorang berpikir atau bertindak dengan cara yang membuat korban meragukan dirinya sendiri. Orang yang dimanipulasi mungkin merasa bingung, bertanya-tanya apakah mereka “berlebihan” atau salah paham, padahal mereka sedang ditekan secara emosional.

Selain itu, pola manipulatif bisa muncul dengan kondisi sebagai berikut:

  • Sering menyalahkan pasangan atas masalah yang bukan kesalahan mereka.
  • Membuat pasangan merasa bersalah atau bertanggung jawab atas emosi pelaku.
  • Mengisolasi pasangan dari teman atau keluarga secara perlahan.
  • Menggunakan ancaman emosional, seperti “kalau kamu pergi, hidupku bakal hancur.”

Semua ini bisa terlihat seperti cinta pada awalnya. Tetapi dalam praktiknya, semua itu adalah upaya untuk memegang kontrol atas kehidupan orang lain. Sebagian besar tindakan manipulasi dilakukan hanya untuk kepentingan pelaku dan jarang mempertimbangkan kenyamanan korban.

Lalu Apa Bedanya Posesif dan Sayang?

Ilustrasi Pasangan Posesif/Foto: Freepik.com/stockking

Perbedaan utama posesif dan cinta yang sehat adalah keleluasaan ruang pribadi. Cinta sejati berarti dua orang mengizinkan satu sama lain memiliki identitas, teman, hobi, dan batasan masing-masing. Sedangkan posesif berarti ingin mengendalikan itu semua sehingga pasangan tidak punya ruang untuk tumbuh atau mempertahankan jati dirinya. hubungan yang sehat menunjang kesejahteraan, bukan mengurung.

Misalnya, pasangan yang sehat akan menghargai waktu bersama teman atau keluarga pasangan. Selain itu, hubungan sehat cenderung tidak memaksa pasangan untuk menyerahkan kata sandi ponsel atau media sosial. Justru, orang yang benar-benar sayang akan mendorong pasangan mengejar impian dan tujuan pribadi.

Sebaliknya, hubungan yang didominasi oleh rasa takut kehilangan seringkali menimbulkan pola kontrol intensif yang lama-lama merusak hubungan itu sendiri.

Tips Menghadapi Pasangan Posesif dan Manipulatif

Ilustrasi Pasangan Posesif/Foto: Freepik.com

Kalau kamu atau orang terdekat merasa berada di hubungan yang mulai tidak sehat, berikut beberapa langkah praktis yang bisa dipertimbangkan, sebagaimana dilansir dari WebMD:

  • Kenali Tanda-Tandanya: Langkah pertama adalah mengenali perilaku yang tidak sehat, seperti pengawasan yang berlebihan, cemburu tanpa alasan, atau ajakan isolasi dari lingkungan sosial. Menyadari ini bukan berarti menyerah, tapi memberi kamu pijakan yang realistis terhadap situasi.
  • Tetapkan Batasan yang Jelas: Coba bicara dari posisi tenang mengenai apa yang kamu butuhkan dalam relasi, misalnya ruang pribadi, waktu dengan teman, atau cara komunikasi yang lebih sehat. Setting batasan bukan egois, tetapi bagian dari menjaga martabat dan kesejahteraanmu.
  • Cari Support System: Teman dekat, keluarga, atau komunitas bisa jadi sumber dukungan yang kuat. Orang-orang ini bisa membantu kamu melihat situasi dari sudut pandang lain dan memberi perspektif yang netral.
  • Cari Bantuan Profesional Jika Perlu: Konseling atau terapi bisa membantu menjernihkan pikiran dan memberi strategi mengatasi pola komunikasi yang merusak, baik untuk dirimu sendiri maupun hubungan jika masih ingin diperbaiki.

Satu hal yang paling penting jika berada di situasi ini adalah memahami dan menerima tanda-tanda pasangan posesif. Jika kamu merasa tidak nyaman namun terus denial, maka kondisi ini akan terus berlangsung dan merugikan dirimu sendiri.

Cara Keluar dari Hubungan Toxic Secara Aman

Ilustrasi Pasangan Posesif/Foto: Freepik.com/azerbaijan_stockers

Harus diakui, keluar dari hubungan yang toxic bukan hal mudah. Namun, ada beberapa pendekatan yang bisa membantu prosesnya berjalan lebih aman dan berpikiran jernih, antara lain:

  • Buat rencana yang matang sebelum mengambil langkah besar.
  • Jaga keamanan fisik dan emosionalmu, terutama jika relasi itu sudah melibatkan ancaman atau intimidasi.
  • Gunakan dukungan profesional untuk membantu proses keluar dan pemulihan.

Kisah Broken Strings yang ditulis Aurelie Moeremans memberikan pelajaran penting bahwa kontrol bukan cinta, dan manipulasi bukan perhatian. Kontrol justru menjadi “dalang” ketidakamanan dan ketakutan, sedangkan cinta yang sehat dibangun atas rasa percaya, rasa hormat, dan kebebasan bersama.

Ingat bahwa keputusan untuk mencegah atau keluar dari hubungan toksik adalah tentang melindungi dirimu sendiri, bukan menyerah pada cinta. Cinta yang sehat tidak membuatmu merasa terkekang, Beauties.

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE