Backwards shopping bisa menjadi salah satu cara sederhana buat kamu yang ingin menghemat pengeluaran belanja in this economy. Kalau biasanya kamu menentukan menu terlebih dahulu, mencatat semua bahan yang diperlukan, lalu pergi ke supermarket, metode ini justru mengajak kamu melakukan hal yang sebaliknya.
Konsep ini bisa membantu mengurangi dua sumber pemborosan yang sering terjadi saat belanja, yaitu membeli barang yang sebenarnya masih ada di rumah dan membiarkan bahan makanan terbuang karena tidak sempat digunakan. Kalau kamu penasaran dengan konsep ini, berikut beberapa hal yang perlu kamu ketahui tentang backwards shopping, sebagaimana telah dilansir dari Reader’s Digest dan Kiplinger.
Apa Itu Backwards Shopping?
|
Pengertian backwards shopping/Foto: Magnific.com/senivpetro |
Backwards shopping adalah kebalikan dari pola belanja bahan makanan yang biasa dilakukan. Kalau biasanya kamu berpikir, “Minggu ini mau masak apa?” lalu mencari resep dan membeli seluruh bahannya, backwards shopping dimulai dari pertanyaan, “Aku masih punya apa di rumah?”.
Kamu mengecek isi kulkas dan dapur, kemudian menggunakan bahan-bahan tersebut sebagai dasar untuk menentukan menu. Setelah itu, barulah kamu membuat daftar belanja untuk melengkapi bahan yang belum tersedia. Meski istilah backwards shopping belakangan semakin populer, terutama melalui media sosial, konsepnya sendiri bukanlah kebiasaan baru.
Andrea Woroch, pakar penghematan konsumen yang dikutip Reader’s Digest, menyebut strategi ini sudah digunakan keluarga selama puluhan tahun untuk menghemat pengeluaran. Ada juga yang menyebut konsep ini sebagai pantry-first meal planning, yaitu merencanakan makanan berdasarkan bahan yang sudah dimiliki sebelum membeli bahan baru.