Belanja Cerdas Pakai Backwards Shopping, Cara Simpel Biar Dompet Tetap Aman

Retno Anggraini | Beautynesia
Rabu, 26 Aug 2026 11:30 WIB
Batasi Impulse Buying saat Berada di Supermarket
Backwards shopping membantu mengurangi impulse buying/Foto: Magnific.com/pvproductions

Backwards shopping bisa menjadi salah satu cara sederhana buat kamu yang ingin menghemat pengeluaran belanja in this economy. Kalau biasanya kamu menentukan menu terlebih dahulu, mencatat semua bahan yang diperlukan, lalu pergi ke supermarket, metode ini justru mengajak kamu melakukan hal yang sebaliknya.

Konsep ini bisa membantu mengurangi dua sumber pemborosan yang sering terjadi saat belanja, yaitu membeli barang yang sebenarnya masih ada di rumah dan membiarkan bahan makanan terbuang karena tidak sempat digunakan. Kalau kamu penasaran dengan konsep ini, berikut beberapa hal yang perlu kamu ketahui tentang backwards shopping, sebagaimana telah dilansir dari Reader’s Digest dan Kiplinger.

Apa Itu Backwards Shopping?

Backwards shopping merupakan metode belanja yang dimulai dengan mengecek stok makanan di rumah, menyusun menu dari bahan yang tersedia, lalu membeli bahan yang masih kurang.
Pengertian backwards shopping/Foto: Magnific.com/senivpetro

Backwards shopping adalah kebalikan dari pola belanja bahan makanan yang biasa dilakukan. Kalau biasanya kamu berpikir, “Minggu ini mau masak apa?” lalu mencari resep dan membeli seluruh bahannya, backwards shopping dimulai dari pertanyaan, “Aku masih punya apa di rumah?”.

Kamu mengecek isi kulkas dan dapur, kemudian menggunakan bahan-bahan tersebut sebagai dasar untuk menentukan menu. Setelah itu, barulah kamu membuat daftar belanja untuk melengkapi bahan yang belum tersedia. Meski istilah backwards shopping belakangan semakin populer, terutama melalui media sosial, konsepnya sendiri bukanlah kebiasaan baru.

Andrea Woroch, pakar penghematan konsumen yang dikutip Reader’s Digest, menyebut strategi ini sudah digunakan keluarga selama puluhan tahun untuk menghemat pengeluaran. Ada juga yang menyebut konsep ini sebagai pantry-first meal planning, yaitu merencanakan makanan berdasarkan bahan yang sudah dimiliki sebelum membeli bahan baru.

Cek Stok Dapur dan Isi Kulkas Sebelum Belanja

Cek stok dapur, langkah awal dalam backwards shopping/Foto: Pexels.com/RDNE Stock project

Sebelum membuat daftar belanja, cek terlebih dahulu stok dapur dan isi kulkas kamu. Perhatikan bahan makanan yang masih tersedia, terutama bahan yang masa simpannya mulai pendek dan catat di kertas atau aplikasi catatan yang ada di ponsel.

Kamu juga bisa melihat struk belanja minggu sebelumnya. Tandai barang yang masih tersedia di rumah sehingga kamu tidak membelinya lagi.

Kebiasaan ini berguna untuk mencegah pembelian ganda, terutama untuk bahan dapur seperti beras, pasta, saus, bumbu, atau makanan kaleng. Jangan sampai niat mengisi stok malah membuat dapur penuh barang yang sama.

Susun Menu dari Bahan yang Sudah Ada

Langkah selanjutnya dalam backwards shopping adalah menyusun menu berdasarkan bahan makanan yang sudah tersedia sehingga stok lama bisa digunakan sebelum membeli bahan baru.
Cek stok dapur, salah satu langkah melakukan backwards shopping/Foto: Pexels.com/Anna Shvets

Setelah tahu isi dapur, jangan buru-buru membuka aplikasi pesan-antar atau mencari resep dari nol. Coba lihat bahan yang ada dan pikirkan kombinasi makanan yang bisa dibuat. Misalnya, kamu punya pasta, kacang kalengan, bayam, bawang putih, minyak zaitun, dan keju. Bahan-bahan ini sudah bisa menjadi satu menu tanpa perlu melakukan belanja besar.

Kamu juga tidak harus membuat meal plan super detail. Prinsipnya adalah membuat makanan dari apa yang tersedia. Nasi, telur, dan tempe, misalnya, bisa menjadi bahan dasar nasi goreng atau tempe orek sederhana.

Sayuran sisa dapat diolah menjadi tumisan atau omelet. Kalau sedang buntu, kamu bisa memanfaatkan aplikasi resep untuk mencari ide berdasarkan bahan yang tersedia di rumah.

Buat Daftar Belanja untuk Bahan yang Masih Kurang

Belanja hanya untuk bahan yang kurang, salah satu langkah melakukan backwards shopping/Foto: Magnific.com/gpointstudio

Bedanya dengan daftar belanja biasa, kali ini kamu hanya mencatat bahan yang belum tersedia. Misalnya, kamu sudah memiliki ayam goreng dan sambal untuk membuat ayam geprek, tetapi ingin menyajikannya dengan lalapan. Artinya, kamu cukup membeli sayuran seperti kol dan timun sebagai pelengkap, bukan seluruh bahan untuk membuat menu dari awal.

Konsep ini sering disebut gap-only shopping, yaitu berbelanja hanya untuk mengisi bahan yang masih kurang. Daftar yang lebih pendek membuat perjalanan ke supermarket menjadi lebih terarah. Kamu juga jadi lebih mudah menolak godaan untuk membeli barang yang sebenarnya tidak diperlukan karena sudah tahu persis apa yang ingin dicari.

Manfaatkan Stok agar Tidak Berakhir Jadi Sampah

Backwards shopping membantu mengurangi food waste dengan menggunakan bahan makanan yang sudah dimiliki sebelum membeli stok baru.
Gunakan stok sebelum kedaluwarsa, salah satu langkah melakukan backwards shopping/Foto: Pexels.com/Lucie Liz

Menghemat uang saat belanja ternyata bukan hanya soal menemukan harga paling murah. Kamu juga perlu memastikan makanan yang sudah dibeli benar-benar dimakan.

Buah yang membusuk, sayuran yang layu, produk susu yang kedaluwarsa, atau daging yang terlalu lama tersimpan di kulkas sama saja dengan uang yang terbuang. Karena itu, menggunakan bahan yang sudah tersedia menjadi salah satu manfaat utama backwards shopping.

Agar lebih mudah, letakkan bahan yang harus segera digunakan di bagian depan kulkas. Kamu juga bisa menggunakan wadah transparan untuk bahan makanan kering sehingga stok lebih mudah terlihat.

Kalau punya banyak bahan di freezer, sesekali lakukan pengecekan supaya kamu tahu apa yang sebenarnya masih tersedia. Cara sederhana ini membantu mencegah bahan makanan bersembunyi di balik tumpukan stok baru.

Batasi Impulse Buying saat Berada di Supermarket

Backwards shopping membantu mengurangi impulse buying/Foto: Magnific.com/pvproductions

Meski kamu sudah membuat daftar belanja dengan rapi, tidak menutup kemungkinan kamu akan tergiur dengan camilan baru yang belum pernah kamu coba, barang-barang yang promo, atau produk yang kemasannya terlihat menarik. Kalau tidak hati-hati, barang-barang kecil seperti ini bisa membuat total belanja membengkak.

Bukan berarti kamu sama sekali tidak boleh membeli sesuatu di luar daftar. Kamu bisa memberikan batas untuk barang impulsif agar tetap punya ruang untuk jajan tanpa membuat belanja kebablasan.

Salah satu saran dari Phil Lempert, seorang analis industri makanan dan pendiri SupermarketGuru, adalah menyediakan maksimal tiga slot untuk pembelian impulsif. Selain itu, tetap berpegang pada daftar yang sudah dibuat dan hindari terlalu lama berkeliling di area yang tidak berhubungan dengan kebutuhan kamu.

Aturan Tiga Menu dalam Backwards Shopping

Backwards shopping tidak harus dilakukan secara sempurna karena metode ini tetap bisa diterapkan secara bertahap sesuai kebiasaan dan kondisi rumah tangga. Salah satu contohnya adalah aturan tiga menu.
Aturan tiga menu dalam backwards shoppingFoto: Pexels.com/Ella Olsson

Kalau terlalu mengandalkan stok dapur dan kulkas, kamu bisa kekurangan bahan segar. Kamu juga mungkin terlalu optimistis menganggap semua bahan yang tersimpan masih layak digunakan.

Selain itu, terlalu sering pergi ke supermarket hanya untuk membeli satu atau dua bahan juga bisa menjadi masalah karena setiap kunjungan memberikan kesempatan baru untuk melakukan impulse buying.

Cobalah mulai dengan aturan tiga menu, yaitu pilih tiga makanan yang bisa dibuat dari bahan yang sudah ada di rumah selama satu minggu. Setelah itu, belanjalah hanya bahan-bahan yang kurang.

Kamu juga bisa menambahkan satu atau dua menu no-spend, yaitu makanan yang seluruh bahannya sudah tersedia di dapur atau kulkas. Dengan cara ini, backwards shopping lebih terasa seperti kebiasaan baru daripada aturan diet belanja yang ketat.

Konsep backwards shopping sebenarnya sederhana, yakni sebelum membeli sesuatu yang baru, lihat dulu apa yang sudah kamu punya. Dari sana, kamu bisa menentukan menu, membuat daftar bahan yang benar-benar dibutuhkan, lalu pergi ke supermarket dengan tujuan yang lebih jelas. Yuk, mulai coba backwards shopping di jadwal belanja kebutuhan kamu selanjutnya!

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE