Biar Cepat Naik Jabatan, Hentikan 9 Kebiasaan Ini Sekarang

Dewi Maharani Astutik | Beautynesia
Kamis, 05 Mar 2026 16:30 WIB
Terus-terusan Menghindari Konflik
Terus-terusan menghindari konflik bisa jadi salah satu kebiasaan buruk di kantor/Foto: Freepik/rawpixel.com

Banyak orang bermimpi untuk naik jabatan dan meraih kesuksesan dalam karier. Namun, pernahkah kamu merasa sudah bekerja keras, tetapi kemajuan yang kamu dapat justru tak terasa?

Sering kali penghalang terbesar dari mimpi itu bukan hanya kurangnya keterampilan atau pengalaman, melainkan juga kebiasaan buruk di kantor yang dilakukan tanpa disadari. Dilansir dari Fodmap Everyday, ada 9 kebiasaan yang perlu dihentikan agar karier cepat naik dan selalu lancar.

Menunggu untuk Diperhatikan

Banyak orang menunggu untuk diperhatikan di kantor, padahal itu hanya membuat peluang semakin kecil. Mengandalkan kerja keras tanpa komunikasi jelas bisa menghambat karier cepat naik. Nyatanya, manajer tidak selalu tahu ambisi karyawannya.
Menunggu untuk diperhatikan tanpa komunikasi jelas bisa menghambat karier cepat naik/Foto: Freepik

Banyak orang berpikir bahwa cukup bekerja dengan baik, dan orang lain akan menyadari usaha mereka. Sayangnya, menunggu untuk diperhatikan bukanlah tips naik jabatan, melainkan sekadar harapan kosong.

Beberapa pekerja bahkan enggan meminta kenaikan jabatan karena takut membicarakannya. Padahal, jika kamu tidak mengungkapkan tujuan dan ambisimu, peluang untuk diperhatikan menjadi sangat kecil.

Ingatlah, manajer bukanlah seorang yang bisa membaca pikiran setiap karyawan yang dibawahinya. Oleh karena itu, jangan ragu untuk menyampaikan secara jelas kemana kamu ingin berkembang dalam kariermu.

Menekankan Kesempurnaan secara Berlebihan

Sikap ingin selalu sempurna bisa berubah jadi kebiasaan buruk di kantor. Bukannya mempercepat karier, justru membuat kinerja terlihat lamban dan penuh tekanan. Penelitian bahkan menyebut perfeksionisme dapat melemahkan kemampuan kepemimpinan.
Menekankan kesempurnaan secara berlebihan bisa menajdi salah satu kebiasaan buruk di kantor/Foto: Freepik/DC Studio

Terlalu menekankan kesempurnaan justru bisa menahan langkahmu. Orang yang selalu ingin semuanya sempurna cenderung bergerak lebih lambat, kehilangan kreativitas, dan mengalami stres yang lebih tinggi.

Hal yang lebih ironis adalah, bahkan saat membicarakan soal promosi, yang lebih dihargai adalah orang yang berani mengambil risiko dengan perhitungan dan mampu mendorong proyek maju, bukan mereka yang menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menyempurnakan sebuah slide. Bahkan, Harvard Business Review menunjukkan bahwa orang yang terlalu mengejar kesempurnaan sering kesulitan dalam membuat keputusan dan membangun kepercayaan sebagai pemimpin.

Terus-terusan Menghindari Konflik

Terus-terusan menghindari konflik bisa jadi salah satu kebiasaan buruk di kantor/Foto: Freepik/rawpixel.com

Jika kamu sering menahan perasaanmu atau berkata bahwa kamu baik-baik saja padahal sebenarnya tidak hanya demi menghindari konflik, maka ini bisa membuat orang lain menganggapmu sebagai orang yang mudah dikendalikan. Padahal, konflik sejatinya tidak selalu berujung pada drama. Konflik sebenarnya bisa muncul sebagai kesempatan untuk menetapkan batasan, memberi umpan balik yang jujur, atau menolak sesuatu dengan sopan. 

Pemimpin sejati justru tidak takut menghadapi percakapan sulit dengan anggota timnya. Mereka paham bagaimana menyampaikannya dengan cara yang tegas, tetapi tetap menjaga hubungan tetap baik.

Tidak Membangun Hubungan Baik dengan Pengambil Keputusan

Membangun hubungan baik dengan pengambil keputusan adalah salah satu tips naik jabatan yang sering diabaikan/Foto: Freepik/DC Studio

Banyak orang mengira membangun hubungan berarti harus menjilat atasan, tetapi sebenarnya bukan itu maksudnya. Inti dari membangun hubungan dengan atasan adalah membangun koneksi yang nyata.

Jika kamu hanya akrab dengan rekan dari tim sendiri tetapi tidak memiliki hubungan dengan staf senior, peluang besar sering kali terlewat begitu saja karena mereka tidak mengenal atau mengingatmu. Sebaliknya, karyawan yang aktif menjalin hubungan lintas departemen atau fungsi justru lebih berpeluang dipertimbangkan ketika ada promosi atau posisi baru di internal perusahaan.

Mengiyakan Semua Hal

Tips naik jabatan datang dari kemampuan memilih prioritas bukan dengan mengiyakan semua hal/Foto: Freepik/pressfoto

Mengatakan “ya” untuk semua hal memang terdengar sopan dan menunjukkan loyalitas. Namun, hati-hati, jika kamu terus-menerus menerima semua permintaan, kamu bisa cepat kewalahan dan akhirnya terjebak dalam tugas-tugas yang sebenarnya tidak terlalu penting.

Kesuksesan dan promosi justru datang dari kemampuanmu membuat dampak nyata, bukan dari kelelahan yang menumpuk. Oleh karena itu, penting untuk belajar berkata, “Saya ingin membantu, tetapi saat ini saya sedang sibuk. Bisakah kita membahas ini minggu depan?”. Dengan begitu, kamu tetap terlihat profesional dan fokus pada hal-hal yang benar-benar berdampak.

Menghindari Umpan Balik

Menghindari umpan balik bisa jadi kebiasaan buruk di kantor/Foto: Freepik/pressfoto

Mendapat kritik memang tidak menyenangkan bagi siapa pun. Namun, menghindari umpan balik justru akan membuatmu kehilangan kesempatan yang sebenarnya penting untuk membantumu berkembang.

Lebih dari itu, perilaku ini menandakan bahwa kamu sulit untuk dibimbing, dan hal ini bisa menghambatmu jika ingin menempati posisi yang lebih tinggi. Manajer sendiri biasanya lebih memilih orang yang terbuka untuk belajar dan mau memperbaiki diri, bukan mereka yang mudah tersinggung saat dikritik.

Bermain Terlalu Aman

Tips naik jabatan sering berkaitan dengan keberanian mengambil inisiatif bukan bermain aman/Foto: Freepik/KamranAydinov

Kebiasaan bermain terlalu aman bisa menjadi jebakan bagi diri sendiri. Saat kamu tidak pernah berbagi ide atau menantang cara kerja yang sudah ada, orang lain mungkin melihatmu sebagai sosok yang andal, tetapi bukan calon pemimpin.

Sementara itu, promosi biasanya diberikan kepada mereka yang berani mengambil inisiatif di luar tugas yang tercantum dalam deskripsi pekerjaan. Dengan kata lain, jika terus bermain aman, kesempatan untuk berkembang justru bisa tertahan.

Mengaitkan Nilai Diri dengan Jabatan

Kesempatan karier cepat naik datang pada mereka yang proaktif bukan yang mengaitkan nilai diri dengan jabatan/Foto: Freepik

Sering kali kita membatasi diri dengan jabatan yang kita pegang. Misalnya, kamu mungkin merasa dirimu “hanya seorang asisten” dan akhirnya bertahan di peran itu terus-menerus. Padahal, kesempatan untuk naik jabatan biasanya diberikan pada mereka yang bersikap seolah-olah mereka sudah menempati posisi berikutnya, bahkan sebelum resmi dipromosikan.

Untuk itu, penting untuk berinisiatif di pekerjaanmu. Ambil tanggung jawab lebih, tawarkan diri untuk memimpin, dan pecahkan masalah yang muncul. Dengan cara ini, orang lain akan melihat bahwa kamu mampu berpikir dan bertindak setingkat lebih tinggi.

Terus Diam Soal Keberhasilan Diri Sendiri

Terus diam soal keberhasilan diri sendiri bisa menjadi kebiasan buruk di kantor/Foto: Freepik/pressfoto

Kerendahan hati memang penting, tetapi jika kamu selalu diam tentang pencapaian di tempat kerja, orang lain bisa saja tidak menyadari kontribusimu. Oleh karena itu, penting untuk belajar cara membagikan keberhasilanmu secara tepat, tanpa terkesan sombong.

Mengatakan “Kampanye yang saya jalankan pada kuartal lalu meningkatkan keterlibatan sebesar 30 persen” hanyalah menyampaikan fakta, bukan pamer. Pernyataan seperti ini justru memberikan konteks yang berguna bagi orang lain untuk memahami hasil kerjamu.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE