sign up SIGN UP

Demi Waras dari Kekerasan Mental, Perempuan Ini Lebih Sering Bertemu Psikolog daripada Pacarnya Sendiri

Febriyani Rahmania | Kamis, 11 Nov 2021 13:30 WIB
Demi Waras dari Kekerasan Mental, Perempuan Ini Lebih Sering Bertemu Psikolog daripada Pacarnya Sendiri
caption
Jakarta -

Kasus kekerasan terhadap perempuan ada di sekeliling kita, baik fisik maupun psikis. Hal ini terasa semakin nyata ketika satu persatu kasus terungkap ke permukaan, baik dalam bentuk laporan ke pihak berwajib, lembaga terkait, maupun media sosial, dan menjadi perhatian orang-orang di sekitarnya.

Kendati demikian, di luar sana masih banyak juga yang enggan bersuara tentang kasus kekerasan yang menimpanya dengan berbagai alasan. Malu dan takut adalah dua contoh penyebab mengapa perempuan menyimpan rapat-rapat kekerasan yang dialami.

Bahkan, sebagian perempuan ada yang tidak menyadari bahwa dirinya sedang mendapat kekerasan, yang umumnya terjadi dalam bentuk penyerangan mental. Namun, hal ini tidak berlaku bagi Nathalia Mwt, seorang nail artist dan cat breeder asal Jakarta yang membagikan kisahnya melalui konten Bold My Lips.

Minta Bantuan Psikolog

Duck syndromeIlustrasi psikolog. (Foto: pexels.com/shvetsproduction)

Sadar dirinya tengah mendapat kekerasan mental dari mantan kekasih, ia menemui psikolog untuk berpikir lebih jernih mengenai apa yang ia rasakan. "Buat gue pribadi, kekerasan fisik bisa bikin gue lebih sadar untuk menyudahi hubungan dan nggak terbawa sampai batin, yang lebih parah dari itu adalah kekerasan mental yang manipulatif dengan kata-kata," kata perempuan yang pernah eksis di Twitter dengan nama @nyonyapejabat ini.

"Dia (mantan Nathalia) nggak berkata kasar tapi dengan kata-katanya yang manipulatif itu, bisa bikin gue menyalahkan diri sendiri," lanjut perempuan yang biasa dipanggil Nath ini.

Dikutip dari Psychology Today, kekerasan emosional meliputi banyak hal, seperti mengancam, memalukan, cemburu berlebihan, merendahkan, mempermalukan, gaslight, dan masih banyak hal lain, dan semua itu Nathalia rasakan saat berpacaran dengan pelaku.

Selama berhubungan 7 bulan dengan mantan kekasihnya, beruntung di bulan ke-dua Nathalia sadar ada yang tidak beres dengan hubungannya, sehingga ia memutuskan konsultasi ke psikolog. "Selama pacaran, gue ketemu psikolog lebih sering dari ketemu dia, seminggu tiga kali ketemu psikolog dan konselor," ungkapnya.

nathalianathalia/ Foto: Nathalia Mwt. (Foto: dokumen pribadi)

Sebagai penyintas mental health, Nathalia cukup aware dengan keberadaan psikolog sebagai pertolongan pertama pada mentalnya. "Gue aware karena gue juga udah capek ya dan gue juga ada mental health yang lain, kalau gue nggak aware, jadinya gue yang gila, dan gue nggak punya pilihan lain, pun kalau gue mau lapor ke polisi, bukti gue nggak kuat," kata Nathalia.

"Dengan kata lain, gue harus waras dulu untuk melawan dia," imbuh Nathalia.

Mengungkap untuk Speak Up

Ancaman, gangguan, dan playing victim yang Nathalia rasakan selama pacaran rupanya tidak berhenti setelah putus. Semua hal tersebut masih ia rasakan setelah putus dari mantan kekasihnya sehingga ia mengambil langkah untuk speak up melalui media sosial, tepatnya lewat Instastories.

membersihkan ponsel dan menggunakannya dengan tangan bersih merupakan kebiasaan yang ampuh atasi jerawatIlustrasi media sosial. (Foto: Instagram.com/loccitane)

"Gue tahu menyelesaikan masalah lewat Instastories itu nggak benar, tetapi gue nggak punya pilihan lain untuk menyelesaikan untuk kasus kekerasan mental ini, karena bahkan sampai setelah putus pun dia tetap playing victim dan ganggu," ungkap Nathalia.

Selain itu, Nathalia memilih untuk memblokir semua akses mantan kekasihnya untuk mendapat ketenangan. "Sampai akhirnya gue blokir semua akses dia, padahal blokir akses mantan tuh bukan gue banget, dan nggak gue sangka dia bisa hubungi gue lewat email," Nathalia menyayangkan. 

Tahu Value dan Belajar Bela Diri

Kesadaran untuk berani melawan dan mengungkap kekerasan ke permukaan bukan milik semua perempuan, tetapi Nathalia menyarankan kepada para perempuan yang mengalami hal serupa untuk tahu value diri sendiri sebagai bentuk self-love. 

Bela diriIlustrasi bela diri (Foto: pexels.com/olia danilevich)

Selain itu, Nathalia juga menyarankan agar para perempuan belajar bela diri sebagai bentuk perlindungan dari kekerasan fisik yang bisa terjadi kapan saja. "Saran gue, perempuan harus bisa bela diri, sebagai bentuk perlindungan terhadap diri kita sendiri, at least tahu basic skill melindungi diri sendiri," saran perempuan berzodiak Sagitarius ini.

"Itu saran gue untuk mencegah kekerasan fisik, kalau dari segi mental better ke psikolog dan jangan pernah menyalahkan diri sendiri, karena tujuan mental abuser itu untuk membuat diri kita bersalah," tutup Nathalia.

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI

(fer/fer)

Our Sister Site

mommyasia.id