Fenomena Lipstick Effect, Ketika Rupiah Melemah tapi Jajan Kopi dan Skincare Tetap Ramai

Riswinanti Pawestri Permatasari | Beautynesia
Kamis, 11 Jun 2026 19:30 WIB
Pelemahan Rupiah vs Lipstik Effect
Ilustrasi Lipstick Effect/Foto: Magnific/Freepik

Nilai tukar rupiah baru-baru ini menjadi sorotan setelah sempat menembus level terlemah sepanjang sejarah. Berdasarkan data yang ditampilkan Google Finance, mata uang kita sempat menyentuh angka Rp18.188 pada Senin (8/6).

Tentu saja, kondisi ini memunculkan kekhawatiran baru terkait daya beli masyarakat, harga barang impor, hingga kondisi ekonomi ke depan. Sebagaimana dipaparkan oleh Detikcom, melemahnya rupiah, jika berlangsung cukup lama, akan menyebabkan kenaikan harga barang dan kebutuhan pokok hingga membengkaknya nominal utang negara.

Meski demikian, di tengah kabar dan kekhawatiran tersebut, ternyata ada fenomena menarik yang banyak disorot di media sosial. Bahkan dengan munculnya kepanikan terhadap ekonomi, coffee shop masih dipenuhi pelanggan, produk skincare terus bermunculan dan laris di pasaran, sementara konten beauty maupun review produk kecantikan tetap ramai mendapatkan perhatian.

Usut punya usut, fenomena ini memiliki penjelasan tersendiri dalam dunia ekonomi dan psikologi yang dikenal dengan istilah lipstick effect. Apa maksudnya? Apakah hal ini berbahaya? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini!

Kenapa Rupiah Terus Melemah?

Rupiah Sempat Menyentuh Level Terendah Sepanjang Sejarah/Foto: Magnific/wirestock
Rupiah Sempat Menyentuh Level Terendah Sepanjang Sejarah/Foto: Magnific/wirestock

Melansir Trading Economics, pelemahan rupiah yang terjadi belakangan ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor global dan domestik. Dari sisi global, data ekonomi Amerika Serikat yang lebih kuat dari perkiraan membuat pasar memperkirakan bank sentral AS (The Fed) akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama. Kondisi ini mendorong investor global menyimpan dananya dalam dolar AS, sehingga mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, ikut tertekan.

Di saat yang sama, situasi geopolitik dunia yang memicu kenaikan harga minyak serta arus keluar modal dari pasar negara berkembang turut menambah tekanan terhadap rupiah. Dari dalam negeri, permintaan dolar AS juga meningkat untuk berbagai kebutuhan, mulai dari pembayaran utang luar negeri, repatriasi dividen perusahaan, hingga impor minyak dan gas yang masih cukup besar. Akibatnya, nilai tukar rupiah sempat mendekati level Rp18.000 per dolar AS. Pelemahan ini berpotensi meningkatkan harga barang impor dan biaya produksi di berbagai sektor.

Pelemahan Rupiah vs Lipstik Effect

Ilustrasi Lipstick Effect/Foto: Magnific/Freepik

Melansir NeuroD, istilah lipstick effect pertama kali dipopulerkan oleh Leonard Lauder, mantan Chairman perusahaan kosmetik Estée Lauder pada tahun 2001. Saat itu, dia mengamati bahwa saat kondisi ekonomi memburuk, konsumen cenderung mengurangi pembelian barang mewah berharga tinggi, tetapi tetap membeli kemewahan kecil yang lebih terjangkau, seperti lipstik.

Secara sederhana, lipstick effect menggambarkan kecenderungan masyarakat untuk tetap mencari kesenangan atau kenyamanan melalui produk-produk yang relatif murah ketika mereka tidak mampu atau enggan mengeluarkan uang untuk pembelian besar. Saat ini, konsep tersebut tidak lagi terbatas pada lipstik. Berbagai produk seperti skincare, parfum, kopi premium, dessert mahal , hingga perawatan diri lainnya juga sering dianggap sebagai bentuk modern dari lipstick effect.

Uniknya, fenomena ini rupanya juga dialami oleh banyak masyarakat Indonesia saat ini. Melansir laman Antara, pasar kosmetik Indonesia diperkirakan mencapai lebih dari Rp173 triliun pada 2026, bahkan dengan kondisi ekonomi yang semakin tidak pasti. Sementara itu, konsumsi kopi domestik terus menunjukkan tren kenaikan seiring menjamurnya budaya coffee shop dan meningkatnya minat terhadap kopi lokal, sebagaimana dilaporkan laman Statista.

Kenapa Orang Tetap Belanja Saat Ekonomi Sulit?

Ilustrasi Anak Muda Berbelanja/Foto: Magnific/rawpixel.com

Jika dilihat dari sudut pandang psikologi, manusia bukan hanya makhluk rasional, tetapi juga makhluk emosional. Saat menghadapi ketidakpastian ekonomi, banyak orang mencari cara untuk mempertahankan perasaan nyaman dan optimistis.

Membeli produk skincare baru, misalnya, mungkin bukan sekadar soal merawat kulit. Ada perasaan senang ketika mencoba produk baru, menjalankan rutinitas perawatan diri, atau melihat kondisi kulit yang membaik.

Hal serupa juga berlaku pada kopi. Bagi sebagian orang, membeli kopi favorit bukan hanya membeli minuman, tetapi juga membeli pengalaman dan suasana yang membuat hari terasa lebih baik.

Melansir Very Well Mind, para ahli menyebut bahwa pembelian kecil semacam ini dapat memberikan rasa kontrol di tengah situasi yang tidak sepenuhnya bisa dikendalikan. Ketika kondisi ekonomi terasa tidak pasti, orang cenderung mencari hal-hal kecil yang masih mampu mereka nikmati tanpa menguras keuangan secara berlebihan.

Alasan Skincare dan Kopi Paling Sering Jadi Pilihan

Ilustrasi Kopi dan Kosmetik/Foto: Magnific/Freepik

Tidak semua produk mendapatkan manfaat dari fenomena lipstick effect. Namun melansir ET Now, skincare dan kopi termasuk dua kategori yang cukup sering disebut ketika membahas pola konsumsi di tengah tekanan ekonomi.

Skincare sering dianggap sebagai bentuk self-care yang relatif terjangkau dibandingkan berbagai kemewahan lain. Membeli serum, sunscreen, atau pelembap baru mungkin terasa lebih realistis dibandingkan membeli tas mewah atau melakukan liburan mahal. Selain itu, skincare juga berkaitan dengan rasa percaya diri dan kondisi diri sehari-hari.

Sementara itu, kopi telah berkembang menjadi bagian dari gaya hidup modern. Bagi banyak orang, pergi ke coffee shop bukan sekadar membeli minuman, tetapi juga menjadi ruang bekerja, bersosialisasi, atau mengambil jeda dari rutinitas yang melelahkan.

Dalam beberapa tahun terakhir, fenomena little treat culture juga semakin populer, terutama di kalangan generasi muda. Konsepnya sederhana, seperti memberi hadiah kecil kepada diri sendiri sebagai bentuk apresiasi setelah bekerja keras atau menghadapi hari yang melelahkan. Dalam hal ini, skincare dan kopi adalah dua contoh yang paling sering masuk dalam kategori ini.

Apa Dampaknya?

Ilustrasi Dampak Lipstick Effect/Foto: Magnific/muhammad.abdullah

Lalu apakah lipstick effect bisa memberikan dampak buruk? Untungnya tidak selalu. Pada dasarnya, membeli sesuatu yang membuat bahagia bukanlah masalah selama masih sesuai kemampuan finansial. Bahkan, sebagian ahli melihat bahwa pengeluaran kecil untuk kebahagiaan pribadi bisa membantu menjaga kesejahteraan emosional ketika kondisi ekonomi sedang tidak ideal.

Satu hal yang perlu diperhatikan adalah ketika kebiasaan tersebut berubah menjadi pelarian yang tidak terkendali. Jika belanja skincare, kopi, atau produk lain mulai mengganggu kebutuhan utama dan kondisi keuangan, maka kebiasaan tersebut tentu perlu dievaluasi kembali.

Dengan kata lain, lipstick effect menunjukkan bahwa manusia tidak selalu mengambil keputusan berdasarkan logika ekonomi semata. Di tengah pelemahan rupiah dan berbagai ketidakpastian yang muncul, banyak orang tetap mencari kebahagiaan melalui hal-hal kecil yang terasa terjangkau untuk membuat hari terasa sedikit lebih baik.

Apakah kamu relate dengan fenomena ini, Beauties?

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE