Nilai tukar rupiah baru-baru ini menjadi sorotan setelah sempat menembus level terlemah sepanjang sejarah. Berdasarkan data yang ditampilkan Google Finance, mata uang kita sempat menyentuh angka Rp18.188 pada Senin (8/6).
Tentu saja, kondisi ini memunculkan kekhawatiran baru terkait daya beli masyarakat, harga barang impor, hingga kondisi ekonomi ke depan. Sebagaimana dipaparkan oleh Detikcom, melemahnya rupiah, jika berlangsung cukup lama, akan menyebabkan kenaikan harga barang dan kebutuhan pokok hingga membengkaknya nominal utang negara.
Meski demikian, di tengah kabar dan kekhawatiran tersebut, ternyata ada fenomena menarik yang banyak disorot di media sosial. Bahkan dengan munculnya kepanikan terhadap ekonomi, coffee shop masih dipenuhi pelanggan, produk skincare terus bermunculan dan laris di pasaran, sementara konten beauty maupun review produk kecantikan tetap ramai mendapatkan perhatian.
Usut punya usut, fenomena ini memiliki penjelasan tersendiri dalam dunia ekonomi dan psikologi yang dikenal dengan istilah lipstick effect. Apa maksudnya? Apakah hal ini berbahaya? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini!
Kenapa Rupiah Terus Melemah?
|
Rupiah Sempat Menyentuh Level Terendah Sepanjang Sejarah/Foto: Magnific/wirestock |
Melansir Trading Economics, pelemahan rupiah yang terjadi belakangan ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor global dan domestik. Dari sisi global, data ekonomi Amerika Serikat yang lebih kuat dari perkiraan membuat pasar memperkirakan bank sentral AS (The Fed) akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama. Kondisi ini mendorong investor global menyimpan dananya dalam dolar AS, sehingga mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, ikut tertekan.
Di saat yang sama, situasi geopolitik dunia yang memicu kenaikan harga minyak serta arus keluar modal dari pasar negara berkembang turut menambah tekanan terhadap rupiah. Dari dalam negeri, permintaan dolar AS juga meningkat untuk berbagai kebutuhan, mulai dari pembayaran utang luar negeri, repatriasi dividen perusahaan, hingga impor minyak dan gas yang masih cukup besar. Akibatnya, nilai tukar rupiah sempat mendekati level Rp18.000 per dolar AS. Pelemahan ini berpotensi meningkatkan harga barang impor dan biaya produksi di berbagai sektor.