Intip 5 Kepribadian Seseorang di Balik Keputusan Meninggalkan Media Sosial

Hanny A | Beautynesia
Kamis, 01 Jan 2026 22:00 WIB
2. Pemikir Analitis
Perempuan mencatat / Foto: pexels.com/Andrea Piacquadio

Beauties, apakah kamu merasa kalau belakangan ini semakin banyak orang yang memilih menonaktifkan akun media sosialnya? Atau mungkin mendapati akun kerabat yang masih ada namun tidak menunjukkan aktivitas apa pun sejak bertahun-tahun lalu.

Fenomena ini bukan tanpa alasan. Ternyata, keputusan untuk meninggalkan media sosial memiliki kaitan erat dengan bagaimana cara pandang mereka tentang hidup sampai ke tipe kepribadiannya.

Cek karakteristik kepribadian apa saja yang cenderung membuat seseorang memilih untuk menjauh dari hiruk-pikuk dunia digital.

1. Mandiri Secara Emosional

Perempuan dewasa / Foto: pexels.com/Greta Hoffman

Ada tipe kepribadian yang memiliki pusat kendali internal yang kuat, di mana mereka bisa menilai diri sendiri berdasarkan standar internal, bukan berdasarkan pendapat atau pengakuan orang lain. Orang dengan kepribadian ini cenderung tidak membutuhkan likes atau jumlah followers untuk merasa berharga.

Mereka yang dulunya aktif di media sosial namun kemudian memilih menjauh seringkali karena sudah mengembangkan kemandirian emosional ini. Pengakuan digital yang dulunya terasa membahagiakan jadi terasa hambar karena mereka telah menemukan sumber harga diri yang lebih stabil dari dalam diri sendiri.

Kepribadian yang mandiri secara emosional juga menunjukkan tingkat kematangan psikologis yang tinggi. Mereka tidak mudah terpengaruh oleh tekanan sosial untuk terus tampil atau memamerkan kehidupan mereka.

2. Pemikir Analitis

Perempuan mencatat / Foto: pexels.com/Andrea Piacquadio

Tipe kepribadian ini memahami bahwa perhatian adalah sumber daya yang terbatas dan sering kali menyadari bahwa media sosial dirancang untuk membuat penggunanya terus terpaku pada layar. Mereka mengenali pola kecanduan yang halus, seperti rasa penasaran yang tidak pernah terpuaskan sampai doomscrolling sampai lupa waktu.

Mereka sudah bisa memikirkan "biaya" yang harus dibayar dari ketagihan media sosial, seperti waktu yang terbuang, penurunan fokus, dan berkurangnya produktivitas. Ketika biaya ini dirasa lebih besar daripada manfaatnya, mereka mulai membuat keputusan untuk meninggalkan platform tersebut bisa menjalani hidup dengan lebih efektif sekaligus bermakna.

3. Menjunjung Tinggi Privasi

Perempuan melihat jendela / Foto: pexels.com/PNW Production

Alasan paling klasik dari orang yang tak bermedia sosial adalah sangat menghargai privasi hidup mereka. Pada dasarnya, setiap orang memang memiliki tingkat kenyamanan yang berbeda terhadap keterbukaan. Namun, orang dengan kepribadian yang sangat menghargai privasi cenderung berhati-hati dalam membagikan informasi pribadi.

Mereka tidak merasa perlu memamerkan kehidupan mereka untuk mendapat pengakuan, dan justru merasa lebih tenang ketika kehidupan pribadi mereka tidak menjadi konsumsi publik. Saat media sosial tidak bisa mengakomodasi prinsip tersebut, maka tidak ada alasan bagi mereka untuk menggunakannya sebagai media update kehidupan ke publik.

4. Selektif dalam Bersosialisasi

Bercengkrama secara online / Foto: pexels.com/KATRIN BOLOVTSOVA

Media sosial memang sangat dikenal sebagai salah satu wadah untuk berjejaring dengan beragam jenis orang terutama bagi orang yang lebih suka memiliki lingkaran sosial yang luas. Faktanya, ada pula kalangan yang merasa lebih nyaman dengan lingkaran kecil namun erat, sehingga memilih untuk selektif dalam bersosialisasi.

Mereka lebih menghargai kedekatan yang autentik dengan segelintir orang daripada memiliki banyak koneksi tapi dangkal. Bagi mereka, kualitas hubungan jauh lebih penting daripada jumlah pengikut di platform digital.

Menurut pengalaman yang dibagikan dalam laman Huffpost, tak sedikit orang yang menghapus akun mereka atas alasan itu. Hanya segelintir orang yang terbukti bisa menjaga hubungan sosial yang berkualitas tak peduli seberapa banyaknya jumlah followers atau teman di akun media sosialnya. Atas dasar itu, keputusan untuk berhenti bermedia sosial tidak akan berdampak besar terhadap kualitas relasi. Bagi mereka, yang benar-benar peduli terbukti akan tetap berusaha terkoneksi.

Meski begitu, Psychology Today mengungkapkan bahwa media sosial tetap menjadi sarana penting untuk bersosialisasi bagi banyak kalangan lain. Jadi, perlu digaris bawahi kalau mereka yang aktif di media sosial bukan berarti tidak pilih-pilih dalam bergaul, melainkan karena platform tersebut merupakan opsi yang paling aksesibel bagi mereka untuk tetap terhubung dengan orang lain.

5. Rentan terhadap Perbandingan Sosial

Bersantai sambil minum teh / Foto: pexels.com/Annushka Ahuja

Tak jarang, media sosial bisa bikin kita punya standar yang tidak realistis dalam cara kita menjalankan dan memandang hidup. Semua yang tertampil di media sosial seakan mengisyaratkan bahwa kehidupan orang lain sangatlah sempurna yang akhirnya membuat tak sedikit orang cenderung membandingkan diri mereka pada orang lain. 

Paparan terus-menerus terhadap kehidupan orang lain di media sosial bisa memicu perasaan tidak cukup baik atau tidak berharga. Jadi, alih-alih terus terjebak dalam perasaan tersebut, mereka memilih untuk melindungi diri dengan menjauh dari sumber pemicu utamanya.

Keputusan untuk meninggalkan atau mengurangi aktivitas di media sosial ternyata memiliki kaitan yang erat dengan perkembangan kepribadian seseorang. Bagi sebagian orang, media sosial adalah alat yang bermanfaat. Bagi yang lain, melepaskan diri dari platform tersebut adalah cara untuk hidup lebih selaras dengan siapa mereka sebenarnya.

Kalau kamu tipe orang yang mana, Beauties?

____

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk gabung ke komunitas pembaca Beautynesia B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(ria/ria)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE