Kenapa Kita Lebih Loyal saat Beli Kado Orang Lain tapi Pelit ke Diri Sendiri? Ini Penjelasannya
Sahabat dekat akan berulang tahun bulan depan. Kamu mungkin sudah sibuk dari sekarang memikirkan kado apa yang hendak kamu beli. Kamu menggulir e-commerce berhari-hari demi mendapatkan kado terbaik untuk sahabat.
Tidak berhenti sampai di situ, kamu juga tidak berpikir panjang untuk membelikan kado dengan harga yang tidak murah. Kualitas terbaik untuk sahabat terbaik, pikirmu.
Namun, di momen yang berbeda. Kamu sedang membutuhkan sebuah kemeja baru untuk pergi ke kantor. Kamu berkutat cukup lama, berpikir apakah kamu harus membelinya atau tidak meski kamu membutuhkannya. Tiba-tiba, kamu merasa jadi orang paling pelit untuk diri sendiri, tapi bisa jadi sangat loyal kepada orang lain.
Bisa relate dengan situasi di atas, Beauties? Ternyata ada penjelasan menarik di balik sikap kita tersebut, lho. Yuk, simak penjelasannya berikut ini!
Penjelasan Mengapa Kita Cenderung Pelit untuk Diri Sendiri, tapi Loyal untuk Orang Lain
Penjelasan Mengapa Kita Cenderung Pelit untuk Diri Sendiri, tapi Loyal untuk Orang Lain/Foto: pexels.com/Porapak Apichodilok
Penelitian menunjukkan bahwa secara umum orang-orang merasa lebih bahagia ketika mereka membelanjakan uang untuk orang lain. Misalnya berdonasi, membeli kado, atau mentraktir teman. Hal ini mendatangkan tingkat kebahagiaan yang jauh lebih besar dibandingkan menghabiskan uang yang bersifat personal spending.
Dilansir dari Psychology Today, sebuah studi diterbitkan dalam Journal of Positive Psychology menjelaskan alasan di balik fenomena ini. Studi ini melibatkan 788 peserta yang memainkan permainan untuk memenangkan sejumlah uang. Sebagian peserta yang memenangkan uang menyumbangkan uang mereka untuk tujuan amal.
Hasilnya, peserta yang menyumbangkan uang untuk amal dilaporkan lebih bahagia dibanding orang yang menyimpang uang untuk dirinya sendiri. Temuan lainnya yang menarik adalah tingkat kebahagiaan mereka berada di titik tertinggi ketika keputusan untuk berbagi itu sudah ditentukan oleh orang lain atau sistem, bukan atas pilihan sendiri.
Hal ini erat kaitannya dengan fenomena decision fatigue atau kelelahan dalam mengambil keputusan. Sebab, menentukan pilihan, bahkan untuk hal baik seperti berbuat sosial, rupanya bisa menguras energi mental kita. Dalam konteks menggunakan uang, sering kali muncul rasa bimbang atau ketakutan akan penyesalan setelah uang tersebut dibelanjakan.
Tapi jika keputusan tersebut sudah otomatis atau diwajibkan oleh kondisi, maka beban mental untuk memilih seketika hilang, Beauties. Kita bisa langsung menikmati perasaan senang karena telah berbuat baik tanpa dihantui rasa bersalah atau penyesalan.
Ilustrasi/Foto: freepik.com/lookstudio |
Namun, ada satu catatan penting dari penelitian ini, Beauties. Meskipun donasi yang otomatis atau karena kewajiban itu praktis dan membahagiakan, tapi tingkat kebahagiaan akan meningkat berkali-kali lipat jika kita secara sadar memang ingin berdonasi. Jika tadinya uang tersebut ingin kita gunakan untuk diri sendiri, lalu secara sadar kita gunakan untuk berdonasi, ada kepuasan batin yang jauh luar biasa karena kita berhasil memilih berbuat baik.
“Ini konsisten dengan gagasan ‘altruisme tidak murni’, yang berarti bahwa orang bersedia mengesampingkan manfaat ekonomi pribadi untuk membantu individu lain, bahkan yang anonim,” kata para peneliti.
“Ini juga konsisten dengan temuan dari ilmu saraf yang menunjukkan bahwa membantu orang lain memberikan imbalan pribadi dan bahwa pusat penghargaan yang sama di otak diaktifkan ketika seseorang menerima imbalan pribadi seperti ketika seseorang bertindak untuk memberi manfaat kepada orang lain,” lanjutnya.
Berkaitan dengan Kecerdasan Emosional
Berkaitan dengan Kecerdasan Emosional/Foto: Magnific.com/benzoix
Rupanya, sikap ini juga ada kaitannya dengan kecerdasan emosional, lho, Beauties.
Dalam serangkaian studi, Rajani Pillai, seorang profesor pemasaran di North Dakota State University dan Sukumarakurup Krishnakumar, seorang profesor di Keck Graduate Institute di California, menemukan bahwa mereka yang memiliki tingkat pemahaman emosional yang lebih tinggi menghabiskan lebih banyak uang untuk membeli hadiah bagi orang lain, terutama orang-orang terdekat.
Mereka bisa membayangkan ekspresi bahagia orang tersebut saat menerimanya, dan bayangan itu memberikan rasa puas tersendiri bahkan sebelum kadonya diberikan.
“Idenya adalah bahwa orang-orang dengan pemahaman emosional yang lebih tinggi dapat lebih baik memprediksi emosi mereka sendiri, serta emosi penerima, dan bagaimana emosi ini akan terhubung kembali dengan hubungan Anda,” kata Pillai dilansir dari BBC.
“Mereka dapat lebih memahami betapa pentingnya pemberian hadiah itu bagi hubungan tersebut dan itulah mengapa mereka memilih untuk memberi lebih banyak. Dan ketika Anda memberi kepada orang-orang yang memiliki hubungan lebih dekat dengan Anda, maka ada lebih banyak kesempatan untuk mempelajari dan memahami emosi penerima,” lanjutnya.
Lantas, kenapa, sih, kita kadang suka pelit dengan diri sendiri?
Menurut Russell Belk, seorang profesor pemasaran di Universitas York di Toronto, Kanada, ketika kita membeli barang untuk diri sendiri, kita cenderung gemar menahan diri. Kita akan mencari banyak diskon dan promo, berhemat sedemikian rupa karena alasan kerendahan hati atau kebutuhan ekonomi.
Tapi aturan tersebut seketika sirna saat membeli kado untuk orang lain. Hal ini karena pemahaman kita terhadap kado. Kita paham bahwa kado adalah sesuatu yang istimewa. Sifat istimewa dan spesial inilah yang membenarkan sikap kita, mulai dari membeli kado harga mahal hingga memaklumi sifat impulsif saat berbelanja. Singkatnya, demi menunjukkan rasa peduli dan mempererat hubungan, kita merasa sah-sah saja mengeluarkan uang banyak demi orang terkasih dan merasa ini sepadan dengan maknanya.
Bagaimana menurutmu, Beauties?
***
Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!
Ilustrasi/Foto: freepik.com/lookstudio