Sudah 3 bulan protes anti pemerintah bergejolak di Iran pasca kematian perempuan berusia 22 tahun, Mahsa Amini, yang ditangkap lalu tewas karena diduga melanggar aturan hijab setempat.
Ribuan orang diperkirakan telah ditangkap sejak protes dimulai. Menurut LSM Hak Asasi Manusia Iran yang berbasis di Norwegia, pasukan keamanan telah menewaskan sedikitnya 326 orang, termasuk anak-anak. Salah satunya adalah seorang anak laki-laki berumur 9 tahun, Kian Pirfalak.
Siswa kelas tiga itu dilaporkan bepergian dengan keluarganya di dalam mobil dalam perjalanan pulang pada November 2022 lalu. Saat itu, mereka mereka melewati sekelompok pasukan keamanan yang ditempatkan di dekat kerumunan demonstran. Mereka melaju dengan hati-hati, sebelum salah satu petugas meneriaki mereka untuk berbalik.
"'Ayah, kali ini percayalah pada polisi dan kembali, mereka menginginkan apa yang baik untuk kita,'" kenang IbuPirfalak,ZeinabMolairad, akan percakapan Kian kepada ayahnya, dilansir dari The Washington Post.
Saat mereka melaju kembali ke arah polisi, petugas berpakaian preman melepaskan tembakan, Molairad berkata, "Mereka menembak mobil dengan peluru!"
"Saya menyuruh anak-anak untuk duduk di bawah kursi," lanjutnya. "Jika saya tertembak sendiri, itu tidak masalah. Anak saya yang paling kecil ada di bawah dasbor. Saya tidak tahu mengapa [Kian] tidak pergi. Tubuhnya cukup berisi. Dia tidak pergi ke bawah kursi."
Kian ditembak di dada dengan peluru tajam, sementara ayahnya dipukul tiga kali di punggung, kata seorang sumber kepada BBC. Kian ditemukan tewas di tempat. Bocah 9 tahun itu diyakini sebagai korban termuda dari penumpasan berdarah oleh pemerintah Iran selama dua bulan protes nasional.
Pihak berwenang Iran membantah bertanggung jawab atas kematian Kian Pirfalak. Mereka mengatakan bahwa Kian termasuk di antara tujuh orang yang tewas oleh orang-orang bersenjata tak dikenal dengan sepeda motor yang melepaskan tembakan ke pasar di kota Izeh.
Pejabat Iran mengklaim bocah sembilan tahun itu tewas dalam serangan "teroris" yang dilakukan oleh kelompok ekstremis.
"Mereka seharusnya tidak mengatakan itu teroris, mereka berbohong," kata Molairad. "[Pemerintah] berpakaian preman memaksa diri untuk menembak anak saya."
Saat berita kematian Pirfalak menyebar pada Kamis, tagar #child_killing_government mulai menyebar di media sosial. Beberapa hari setelah kematian Kian, ratusan pelayat menghadiri pemakamannya di Izeh.
Tak hanya itu, beredar pula di media sosial kisah pilu beberapa hari sebelum Kian Pirfalak tewas. Ia terlihat berfoto dengan buah naga.