Konten Kreator Ramai-ramai Eksploitasi Kisah Sedih Kaum Miskin, Istilah Poverty Porn Ramai Dibicarakan! Apa Itu?
Baru-baru ini, topik seputar poverty porn marak jadi bahan pembicaraan. Meski bukan fenomena yang baru terjadi, isu ini kembali terangkat usai seorang konten kreator sekaligus artis ternama Indonesia membuat konten YouTube tentang gambaran kehidupan kelas bawah dari seorang siswi sekolah dasar (SD).
Meski banyak yang merasa tersentuh oleh konten berisi kisah sedih dan mengharukan dari penderitaan kaum miskin, namun para intelektual dan masyarakat yang melek etika media mulai mengecam karena menganggap konten ini sebagai bentuk eksploitasi kemalangan seseorang.
Beberapa waktu sebelum konten kreator tersebut dirundung warganet, kisah dari seorang siswi dengan rambut penuh kutu memang sudah lebih dulu viral. Alhasil, segala jenis media menaikkan kisah haru tersebut sebagai konten dalam saluran media mereka. Dikarenakan kisah kelas bawah sangat mudah menggugah empati dan lekat dengan keseharian masyarakat, kisah inipun sangat diminati oleh audiens. Judul sensasional yang mengupas lebih dalam tentang kisah siswi tersebut lantas sering muncul di beranda media sosial dan halaman pertama mesin pencarian.
Ilustrasi Konten Media/Foto: Freepik/rawpixel |
Dirasa masih hangat diperbincangkan, sebuah channel YouTube dengan 20 juta subscriber milik seorang artis papan atas Indonesia lantas tertarik untuk mengangkat cerita tersebut menjadi beberapa serial. Sudah 8 video dibuat dengan mengulik latar belakang kehidupan sang siswi beserta peran guru yang membantu siswi tersebut membersihkan kutu di rambutnya saat di sekolah. Setiap video ditonton sebanyak ratusan ribu kali, bahkan salah satunya telah ditonton sebanyak lebih dari 1 juta kali.
Sekilas, konten ini tampak inspiratif dan memiliki pesan moral yang tinggi. Namun, tanpa disadari sesungguhnya publik telah dibuat terbiasa dengan adanya konten-konten poverty porn. Apa itu poverty porn?
Dampak Poverty Porn Bagi Subyek Berita
Dampak Poverty Porn Bagi Subyek Berita/Freepik/Jcomp
Apa Itu Poverty Porn?
Dilansir dari laman CNN, poverty porn atau porno kemiskinan adalah taktik yang digunakan oleh organisasi nirlaba dan amal untuk mendapatkan empati dan kontribusi dari para donor dengan menunjukkan citra eksploitatif dari orang-orang yang hidup dalam kondisi melarat. Namun, poverty porn hanya fokus menyuguhkan cerita untuk dikonsumsi tanpa melibatkan penjabaran lebih dalam tentang akar masalah kemiskinan yang dihadapi oleh subyek.
Dalam hal ini, peneliti dari Universitas Texas Melissa Anne menyebut dalam jurnalnya yang berjudul Poverty Porn and Picture bahwa program yang mengemas kemiskinan sebagai hiburan hanyalah upaya mengaburkan permasalahan sesungguhnya dan hanya peduli pada keuntungan kapitalis semata. Â
Ilustrasi uang/Foto: Pexels/Tima Miroshnichenko |
Pandangan Melissa dapat dilihat dari kasus siswi SD di atas. Meski segala seluk beluk kehidupan siswi tersebut dan keluarganya telah dibongkar habis-habisan, sama sekali tak ada pembahasan atau sekecil sindiran terhadap kesejahteraan sosial maupun peran pemerintah dalam mengayomi rakyat miskin.
Lantas wajar saja jika banyak intelektual dan warganet yang memiliki pandangan seperti Melissa kemudian melihat bahwa justru para konten kreator yang mengeksploitasi emosi subyek, memancing mereka menguras air mata, di sisi lain juga menjabarkan terang-terangan identitas mereka, sesungguhnya adalah bagian dari masalah kemanusiaan baru yang tak disadari seperti bermunculannya stigma negatif tentang kaum miskin dan mitos-mitos yang menyesatkan akal sehat kita.
Dilansir dari dokumen laporan Oxfam Cymru, terdapat beberapa mitos yang bisa menjatuhkan martabat kaum kelas bawah. Alih-alih mempertanyakan efektivitas lembaga sosial dan negara, orang lebih memilih untuk menganggap kemiskinan seseorang sebagai sepenuhnya salah mereka. Mereka dianggap pemalas, enggan bekerja keras, dugaan terlibat dalam kecanduan dan rentan melakukan tindakan kriminal demi menyambung hidup.
Akhirnya, opini publik tentang solusi atas permasalahan kemiskinan menjadi terpolarisasi. Beberapa bersedia memberi uluran tangan atau menjadi perantara antara kaum miskin dengan lembaga yang berkewajiban mengayomi, namun beberapa justru mengeraskan suara penghasilan yang bisa-bisa menghambat kebijakan-kebijakan terkait jaminan sosial yang meringankan beban kaum miskin.
![]() Ilustrasi Bisnis/Foto: Pexels/ RODNAE Productions |
Meski warganet telah ramai memboikot konten-konten berbau eksploitasi kemiskinan kaum kelas bawah, namun para konten kreator dan media tampak tak gentar tetap mengangkat isu-isu serupa sebagai konten dan masih tidak diimbangi dengan analisis sosial yang memadai untuk membaca situasi kemalangan mereka. Sementara itu, masih banyak juga warganet yang mendukung isu seperti ini diangkat dalam berbagai kemasan program karena dianggap bisa membuka mata tentang rupa-rupa kehidupan yang ada di dunia.
 Bagaimana menurutmu, Beauties?
***
Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!
Ilustrasi uang/Foto: Pexels/Tima Miroshnichenko