Love Bombing vs Grooming, Mana yang Lebih Berbahaya?

Narita Fuji Triani | Beautynesia
Jumat, 16 Jan 2026 15:00 WIB
Apa yang Terjadi dengan Korban Grooming dan Love Bombing?
Apa yang Terjadi dengan Korban Grooming dan Love Bombing? korban biasanya mengalami kebingungan emosional/Foto: freepik.com/freepik

Memoar yang ditulis oleh Aurelie Moeremans tengah menjadi perbincangan di media sosial beberapa waktu terakhir. Memoar tersebut merupakan kisah nyata yang dialami oleh Aurelie saat dirinya menjadi korban grooming dan toxic relationship di usia remaja.

Setelah memoar tersebut viral, istilah grooming dan love bombing menjadi diskusi banyak orang karena kedua istilah tersebut sering muncul dalam hubungan yang tidak sehat. Love bombing dan grooming menjadi perilaku yang perlu diwaspadai, namun mana yang lebih berbahaya?

Apa Itu Love Bombing?

Apa Itu Love Bombing? sering jadi taktik menuju proses grooming/Foto: freepik.com/yanalya

Love bombing merupakan taktik yang sering digunakan sebagai bagian dari proses grooming, di mana pelaku akan memberikan perhatian yang berlebihan, pujian, hadiah, dan kata-kata cinta yang romantis sejak awal. Beberapa ciri love booming, antara lain:

  • Menyatakan cinta atau komitmen terlalu cepat
  • Komunikasi intens tanpa henti
  • Hadiah besar atau pujian yang berlebihan tanpa alasan yang jelas
  • Membicarakan banyak masa depan yang ideal dengan tujuan membuat korban merasa tidak perlu mempertanyakan hubungan

Mengutip dari laman Domestic Violence Service Network, psikolog menyebut bahwa love bombing bisa terjadi karena manusia membutuhkan rasa dicintai dan dihargai. Perilaku love bombing yang merasa insecure akan memanfaatkan kebutuhan emosional tersebut agar korban memiliki ketergantungan pada mereka.

Apa Itu Grooming?

Apa Itu Grooming? Grooming jadi sebuah taktik pelecehan emosional/Foto: freepik.com/freepik

Grooming merupakan sebuah taktik pelecehan emosional yang terjadi sejak awal hubungan, bahkan sejak hubungan tersebut belum resmi. Tujuannya bukan untuk hubungan yang sehat, tetapi membuat korban memiliki ketergantungan emosional, sehingga pelaku bisa mengontrol korban. 

Beberapa tanda pelaku grooming:

  • Pelaku akan intens dalam memulai hubungan
  • Membatasi korban berinteraksi dengan teman atau keluarga, dengan tujuan korban akan semakin bergantung padanya
  • Mengontrol kehidupan korban, termasuk meminta akses ke smartphone, akun media sosial, dan hal-hal pribadi lainnya
  • Tiba-tiba sikap manis berubah menjadi intimidasi dan manipulasi saat korban mulai menolak atau mempertanyakan perilakunya
  • Kadang memutus hubungan, namun kembali lagi dan membuat korban bingung juga mudah terikat kembali

Apa yang Terjadi dengan Korban Grooming dan Love Bombing?

Apa yang Terjadi dengan Korban Grooming dan Love Bombing? korban biasanya mengalami kebingungan emosional/Foto: freepik.com/freepik

Melansir dari laman Domestic Violence Service Network, baik love bombing atau grooming ini sulit terlihat. Keduanya terlihat seperti tindakan romantis yang wajar sehingga membuat korban awalnya merasakan hubungan cinta yang diidam-idamkan. 

Budaya populer seperti film atau buku tentang pria yang mengejar cinta, mengorbankan apa saja membuat perilaku tersebut menjadi sulit dibedakan. Perilaku yang dilakukan dengan cara yang manipulatif bukanlah menjadi hubungan yang sehat.

Setelah menjadi korban grooming atau love bombing, korban biasanya memiliki kebingungan emosional karena hubungan antara kasih sayang dan manipulasi. Korban juga memiliki ketergantungan emosional dan sulit keluar meskipun sadar hubungannya tidak sehat. Korban juga merasa harga dirinya rendah, punya rasa bersalah, dan sulit percaya diri sendiri. 

Mana yang Lebih Berbahaya?

Love bombing dan grooming sama-sama bahaya. Grooming jauh lebih berbahaya/Foto: freepik.com/freepik

Jika dibandingkan, grooming dianggap jauh lebih berbahaya dibanding love bombing. Love bombing bisa menjadi bentuk manipulasi, tetapi dalam banyak kasus perilaku ini menjadi taktik awal dari grooming. Sementara itu, grooming merupakan tindakan yang terjadi jangka panjang untuk menguasai dan mengontrol korban.

Love bombing lebih fokus pada fase awal hubungan. Meski berbahaya, love bombing bisa berhenti sebelum hubungan berlanjut saat korban menyadarinya. Namun, love bombing bisa menjadi awal grooming saat korban sudah terikat secara emosional dan mudah dimanipulasi dan dampaknya berkepanjangan. 

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(dmh/dmh)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE